Sinopsis Exhuma (2024)

3753 votes, average 7.2 out of 10

Hwarim dan teman-temannya berhasil menyelamatkan sebuah keluarga kaya dari gangguan supranatural dengan memindahkan makam leluhur mereka. Namun, mereka segera menyadari konsekuensi mengerikan yang harus dihadapi setelah menemukan bahwa ada sesuatu yang mengerikan terkubur di bawah makam tersebut.

Hwarim, seorang dukun perempuan asal Korea sedang terbang ke Amerika bersama rekannya, Bong-gil. Mereka diundang oleh keluarga kaya raya asal Korea yang menetap di Amerika, Park Jiyoung. Keluarga milioner ini mengalami gangguan mistis yang mengancam keselamatan keluarganya, termasuk bayi Jiyoung yang baru saja dilahirkan.

Mereka tiba di rumah sakit diantar oleh asisten keluarga Jiyoung. Saat Hwarim memeriksa bayinya, dia menyadari bahwa gangguan itu juga menimpa anggota keluarga lainnya, ayah sang bayi maupun kakeknya. Mereka pun akhirnya diajak menuju ke rumah Jiyoung.

Saat mereka tiba, seketika itu pula ia merasa bahwa keluarga tersebut dinaungi hawa kegelapan. Hwarim berkesimpulan bahwa gangguan yang mereka alami berasal dari roh leluhur keluarga. Di mana sang arwah merasa marah karena telah dimakamkan di sebuah tempat yang tak layak. Tak peduli berapapun uang yang harus dikeluarkan, Jiyoung berharap Hwarim dapat melenyapkan gangguan sang roh leluhur yang terus-menerus menyerang keluarganya.

Hwarim pun menerima pekerjaan tersebut. Ia bermaksud untuk mengajak serta kenalan lamanya untuk ikut serta dalam pekerjaannya. Karena yang akan Hwarim lakukan adalah sebuah ritual pemindahan makam leluhur.

Beralih ke Korea, Young-Geun, seorang pengurus jenazah, bersama Sang-Deok, seorang ahli feng shui sedang mengadakan ritual pemindahan makam sebuah keluarga. Mereka berdua terlihat sudah sangat terbiasa dengan prosesi pemindahan makam.

Setibanya di Korea, Hwarim menemui mereka dan menyampaikan tujuannya. Di mana ada seorang keluarga kaya yang mampu membayar mahal jasa mereka. Young-Geun pun terlihat senang mendengarnya. Namun, rupanya Sang-Deok adalah pribadi yang profesional dan teliti. Tak menerima pekerjaan dari sembarang orang.

Jiyoung terbang dari Amerika menuju Korea untuk bertemu dengan Sang-Deok. Dia berharap pemindahan makam segera dilakukan. Meski ibu dan bibinya jelas-jelas menentangnya, tapi sebagai ayah, apapun akan ia lakukan demi keselamatan bayinya. Jiyoung pun menambahkan bahwa prosesi tersebut sebisa mungkin dilakukan secara diam-diam tanpa melibatkan administrasi pemintahan.

Sang-Deok ingin melihat makam tersebut sebelum memutuskannya. Makam tersebut terletak di sebuah gunung terpencil yang letaknya tak jauh dari perbatasan Korea Selatan dan Utara. Korea Utara pun terlihat jelas dari gunung tersebut. Namun, Jiyoung berdalih bahwa masa itu adalah masa maraknya perampokan makam sehingga makam sang leluhur sebisa mungkin dilakukan dengan sederhana. Yang melakukan prosesi pemakamannya saat itu adalah seorang biksu bernama Gisune.

Sang-Deok merasa ada keganjilan dari makam ini. Dia mendapati nisan tersebut tanpa nama yang ada hanya tulisan deretan angka yang dia yakini adalah sebuah titik koordinat. Tanpa pikir panjang, Sang-Deok pun menolak pekerjaan tersebut. Jiyoung dan Hwarim pun terus membujuk Sang-Deok. Hwarim mengancam akan mencari ahli feng shui lain. Dan bersikeras bahwa mereka harus menolong nyawa dari seorang bayi tak berdosa. Sang-Deok pun terpaksa menerima pekerjaan tersebut.

Baca juga:  Saltburn (2023)

Prosesi penggalian makam pun dilakukan. Nampak pula hadir bibi Jiyoung. Mereka mempekerjakan beberapa tukang gali yang bershio babi. Saat itu juga ritual prosesi penggalian makam pun langsung dilakukan.

Penggalian nampak berjalan lancar. Mereka sedikit terkagum dengan peti yang terdapat sebuah ukiran sebagai pertanda bahwa yang bersemayam di peti tersebut bukanlah orang sembarangan. Peti tersebut kemudian diangkut ke mobil untuk dipindahkan ke proses selanjutnya yaitu kremasi. Mereka pun meninggalkan tempat itu.

Saat salah satu penggali membereskan galiannya, tiba-tiba saja dia menemukan seekor ular yang berkepala menyerupai manusia. Penggali tersebut membunuh ular itu dan saat itu juga cuca sekitar berubah seketika. Mendung hitam bergulung-gulung dan hujan tiba-tiba turun. Proses kremasi terpaksa ditunda, karena menurut kepercayaan, kremasi saat hujan membuat rohnya tidak bisa kembali ke alam baka. Mereka kemudian menitipkan peti tersebut ke rumah sakit terdekat.

Di tengah perjalanan, Sang-Deok menemukan biara tua dan mampir ke tempat tersebut. Biara tersebut ternyata oleh seorang biksu tua, yang kebetulan beliau mengetahui silsilah makam yang telah mereka gali. Biksu menceritakan bahwa makam tersebut adalah makam seseorang yang amat kaya raya. Pada masa itu marak terjadi perampokan makam. Bahkan, peralatan peninggalan para perampok masih tersimpan dengan baik di gudang dalam ara tersebut.

Sementara itu di rumah sakit, seorang petugas mencoba untuk membuka petinya. Namun tiba-tiba, sebuah entitas jahat yang tak lain adalah arwah kakek Jiyoung terbang dari dalam peti. Hwarim dan Bong-gil memergokinya dan Hwarim jatuh tak sadarkan diri saat arwah tersebut melewatinya. Arwah tersebut kemudian pergi dan membunuh ayah dan istri Jiyoung di rumahnya.

Hwarim dan Bong-gil melakukan ritual untuk memanggil arwah tersebut. Arwah tersebut mengatakan bahwa dia akan balas dendam dan mengajak seluruh keturunannya bersamanya. Dia kemudian menghilang seketika. Sang-Deok segera mendatangi hotel di mana Jiyoung menginap. Sementara Jiyoung sendiri menerima panggilan telepon dari Sang-Deok yang memperingatkan untuk berhati-hati. Di saat yang sama, pintu hotel digedor oleh seseorang yang juga mengaku sebagai Sang-Deok.

Karena panik, Jiyoung menuruti perintah dari panggilan telepon untuk membuka jendela yang ada di dekatnya. Seketika itu pula, ia kerasukan, berlaku seperti seorang jenderal yang memerintahkan pasukannya. Dia tiba-tiba berkata, “Rubah memotong pinggang Hwarimau”. Di hadapan Sang-Deok, Jiyoung memutar leher sendiri hingga membuatnya tewas. Arwah tersebut kemudian mendatangi bayi Jiyoung di Amerika dan hendak menghabisinya.

Sang-Deok langsung menghubungi Bibi Jiyoung untuk mengizinkan kremasi segera dilakukan. Saat kremasi dilakukan, arwah pun lenyap, dan si bayi berhasil diselamatkan. Dengan begitu, tugas Hwarim dan yang lainnya pun selesai.

Sang-Deok mendatangi salah satu penggali yang menghubunginya. Ketika Sang-Deok mendatanginya, pria tersebut dalam kondisi yang tidak baik. Pria tersebut pun memohon pada Sang-Deok untuk mencari ular yang telah dibunuhnya di lokasi galian.

Sang-Deok kembali mendatangi lokasi tersebut. Dia terkejut saat menemukan ular tersebut yang memiliki kepala menyerupai manusia. Sang-Deok pun segera menghubungi Hwarim dan yang lainnya.

Baca juga:  The Exorcist: Believer (2023)

Saat mereka tiba, mereka terkejut melihat Sang-Deok menemukan sebuah peti dalam kondisi berdiri di dalam galian makam tersebut. Di mana peti tersebut diikat oleh kawat yang sangat kuat, seolah agar tak ada seorang pun yang dapat membukanya. Sang-Deok pun memutuskan untuk membawa peti tersebut ke biara untuk dikremasi keesokan harinya, di mana biksu pun menyambut kedatangannya.

Bibi Jiyoung pun dikabari atas temuan tersebut. Dia pun tak tahu menahu atas peti tersebut. Si Bibi pun berterus terang tentang siapa ayahnya sebenarnya. Ayahnya adalah seorang pengkhianat yang telah menjual negaranya saat masa pendudukan Jepang. Dan Biksu Gisune yang memakamkan leluhur Jiyoung bukanlah seorang biksu keturunan Korea, melainkan keturunan Jepang.

Sang-Deok memutuskan untuk bermalam di tempat tersebut. Di tengah malam, Bong-gil mengalami mimpi buruk dan terbangun. Dia kemudian berjalan-jalan di sekitar biara dan menemukan sebuah peternakan babi. Sekilas dia melihat sebuah sosok bertubuh tinggi besar sedang membantai babi-babi dan pemiliknya. Bong-gil ketakutan dan membangunkan Hwarim.

Mereka kemudian membuka gudang dan mendapati peti tersebut sudah hancur. Bong-gil pun bermaksud untuk membangunkan Sang-Deok meninggalkan Hwarim seorang diri. Tiba-tiba, muncul sosok tinggi besar berpakaian samurai Jepang muncul di hadapan Hwarim sambil melemparkan kepala pemilik peternakan babi.

Sang Iblis hendak menghabisi Hwarim, namun Bong-gil muncul dan mencoba menyelamatkannya. Iblis itu menusuk perut Bong-gil dengan tangannya yang membuat Bong-gil roboh. Dia kemudian mendekati Hwarim. Saat hendak menyerang, iblis itu melihat stupa biksu di belakang Hwarim. Dia kemudian merapalkan mantra-mantra dalam bahasa Jepang dan berubah menjadi bola api dan terbang kembali ke galian makam tempat di mana ia bersemayam.

Bong-gil terluka parah dan di bawa ke rumah sakit terdekat. Hwarim meminta bantuan bibinya dan seorang dukun kecil yang siap membantunya. Mereka melakukan ritual untuk memanggil kembali arwah tersebut.

Sang-Deok kembali ke gudang biara memeriksa barang peninggalan para perampok yang sempat disimpan. Dia menemukan sebuah buku yang berisi foto para perampok. Sang-Deok menyadari bahwa mereka bukanlah perampok, tetapi para Patriot Korea. Mereka meyakini bahwa selepas masa pendudukan Jepang, para tentara Jepang beserta dukunnya menanam pasak besi yang diyakini dapat menyerap energi positif dari tanah Korea. Bahkan sampai saat ini, dipercaya sebagai salah satu penyebab terpecah belahnya Semenanjung Korea.

Sang-Deok meyakini di dalam galian makam leluhur Jiyoung terdapat pasak besi di dalamnya, di mana Biksu Gisune memperhitungkan betul lokasi koordinat makam leluhur Jiyoung tepat di area batas antara Korea Selatan dan Utara. Dan inilah maksud perkataan Jiyoung saat ia berkata, “Rubah melukai pinggang Harimau,” karena Harimau itu sendiri diibaratkan sebagai Semenanjung Korea. Sementara ular yang ditemukan penggali adalah siluman ular yang menjadi segel arwah samurai Jepang.

Ular melambangkan air, makam adalah elemen tanahnya. Sementara peti mati sebagai elemen kayu, api, dan logam adalah Samurai itu sendiri. Sehingga ketika sang ular mati, maka hilanglah keseimbangan lima elemen, dan terbukalah segel awal yang menjaga roh Samurai tersebut.

Baca juga:  65 (2023)

Menyadari hal itu, Sang-Deok pun kembali ke galian dan mencoba untuk mencari keberadaan pasak besi tersebut. Namun, alih-alih menemukannya, ia malah menemukan iblis Samurai tersebut bersemayang di makam tersebut. Dia pun langsung menjelaskan semuanya ke Hwarim dan Young-Geun, dan memutuskan untuk menemukan pasak besi di lokasi galian makam tersebut. Mereka tidak mungkin melawan iblis itu sehingga Hwarim memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya sementara sementara Sang-Deok dan Young-Geun mencari pasak besinya.

Mereka kemudian menebar ikan untuk memancing Sang Iblis Samurai. Tengah malamnya, Sang Iblis pun bangkit dari persemayamannya, mengambil ikan dan memakannya. Dia terpancing menuju sebuah pohon besar di mana Hwarim sudah menunggu untuk mengalihkan perhatiannya. Hwarim berpura-pura menjadi arwah penunggu pohon dan mengajaknya bicara.

Sang-Deok dan Young-Geun segera mencari keberadaan pasak besi, namun mereka tak berhasil menemukannya. Sementara itu, Hwarim dibantu dan dilindungi oleh arwah neneknya, yang merupakan seorang dukun ternama di Korea. Sang Iblis kemudian yang menyadari bahwa Hwarim hanyalah manusia biasa. Dia kemudian menjadi bola api dan terbang kembali ke makam.

Sementara itu di rumah sakit, Bong-gil terhubung dengan Sang Iblis, sebagai pertanda bahwa Bong-gil berada dalam pengaruhnya. Bibi Hwarim berupaya untuk menjaganya.

Di tempat galian, Young-Geun menyerah dan lari saat mengetahui Sang Iblis mulai kembali. Namun Sang-Deok bersikeras tetap mencari pasak besi. Sang Iblis tiba-tiba berada di hadapannya. Dia pun melukai perut Sang-Deok dengan begitu parah. Warim pun berupaya untuk menyelamatkan Sang-Deok dengan menyiramkan darah kuda pada tubuh Sang Iblis.

Sang-Deok kemudian melihat sebuah kilasan masa lalu, di mana Biksu Gisune dengan menanamkan pasak besi tersebut tepat di dalam jasad seorang jenderal samurai. Dengan kata lain, Sang Iblis tersebut adalah pasak besi itu sendiri. Menyadari bahwa Sang Iblis adalah pasak besi dengan elemen besi dan api, maka dengan keyakinannya Sang-Deok berupaya mengalahkan Sang Iblis dengan gagang sekop sebagai elemen kayu dan darah sebagai elemen airnya. Sang Iblis pun berhasil dilenyapkan.

Semua berhasil selamat, Sang-Deok dengan haru merayakan pernikahan putrinya, sementara Hwarim dan yang lainnya menjalankan tugasnya seperti biasa.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *