Lewati ke konten

Sinopsis My Dearest Assassin (2026)

Poster My Dearest Assassin

Diburu karena golongan darahnya yang langka, seorang wanita yang disekap bertekad melawan bersama pembunuh bayaran yang dicintainya. Saat musuh lama kembali muncul, keduanya harus mempertaruhkan segalanya demi melindungi masa depan mereka.

Detail Film
Share

Trailer

Full Sinopsis

Film dimulai ketika seorang bos besar sekarat dan membutuhkan transfusi darah Aurum, golongan darah yang sangat langka. Seorang pria dengan darah sama dipaksa menjadi donor berkali-kali sampai tubuhnya melemah. Meski dokter sudah memperingatkan bahaya pengambilan darah berlebihan, bawahan sang bos tetap menguras darah pria itu hingga ia meninggal.

Karena darah tersebut belum cukup, seorang pemburu bernama Pruek disewa mencari pemilik darah Aurum lain. Pencarian membawanya ke Vietnam, tempat gadis kecil bernama Lhan tinggal bersama orang tuanya. Pruek menyerbu rumah mereka, membunuh kedua orang tua Lhan, dan dalam kekacauan itu sebuah pistol panas meninggalkan bekas luka bakar di leher gadis tersebut.

Sebelum Pruek berhasil membawa Lhan pergi, kelompok pembunuh bayaran House 89 datang. Kelompok itu dipimpin Poh, pria yang memiliki hubungan dengan orang tua Lhan. Mereka menyerang Pruek dan pasukannya hingga seluruh bawahan Pruek tewas, meskipun Pruek sendiri berhasil kabur.

Poh membawa Lhan ke markas House 89 di Bangkok. Karena trauma dan tidak mengerti bahasa Thailand, Lhan mengamuk dan berusaha kabur. Seorang anak laki-laki bernama Pran, putra Poh, berhasil menenangkannya.

Saat tangan Lhan terluka, darahnya diperiksa dan terbukti ia memiliki golongan darah Aurum. Poh meminta Pran menjaga Lhan, lalu gadis itu perlahan beradaptasi dengan kehidupan barunya. Di sana ia juga bertemu M, anak yatim lain yang dibesarkan oleh House 89.

Tahun-tahun berlalu, Lhan, Pran, dan M tumbuh dewasa bersama. Lhan dan Pran saling mencintai, sedangkan M diam-diam juga menyukai Lhan. Namun M memahami bahwa hati Lhan lebih tertuju kepada Pran.

Di tempat lain, Pruek terus memburu pemilik darah Aurum, tetapi selalu gagal. Karena sudah menerima pembayaran, ia tidak bisa mundur dan akhirnya kembali diperintahkan mencari Lhan. Sementara itu di House 89, M menjalani latihan keras untuk menjadi pembunuh profesional.

M sering kalah karena pelatihnya sudah membaca pola gerakannya. Pran menyarankan agar M mengubah ritme serangan, dan saran itu berhasil. Dari sini terlihat bahwa Pran sebenarnya juga mahir bertarung, meskipun Poh tidak pernah mengizinkannya ikut misi.

Lhan diam-diam memperhatikan latihan mereka dan mulai menghafal berbagai gerakan. Ia tidak pernah dilatih resmi, tetapi belajar dari pengamatan. Tanpa disadari orang lain, kemampuan bertarungnya perlahan terbentuk.

Suatu malam, House 89 mendapat misi membunuh target yang dijaga empat pengawal. Kelompok Mala yang dipimpin Chaba dan Blue juga mengejar target yang sama. Poh membawa M dalam misi pertamanya karena wajahnya belum dikenali musuh.

Saat markas kosong, Pran mengajak Lhan keluar diam-diam. Bagi Lhan, malam itu sangat istimewa karena selama bertahun-tahun ia hampir tidak pernah melihat dunia luar. Ia menikmati kota, makanan, hujan, dan waktu bersama Pran tanpa tahu bahaya sedang mengintai.

Di lokasi misi, M berhasil menyusup dan membunuh target dengan serangan cepat pada titik vital. Pada malam yang sama, Pruek kebetulan berada di Bangkok. Ia melihat bekas luka bakar di leher Lhan saat gadis itu berteduh bersama Pran.

Pruek mengikuti mereka sampai markas House 89. Karena sadar tidak bisa menyerbu sendirian, ia menyewa kelompok Mala untuk membantunya merebut Lhan. Chaba awalnya ragu, tetapi menerima pekerjaan itu karena ingin mengalahkan House 89.

Keesokan harinya, Poh memarahi Pran karena membawa Lhan keluar. Pran meluapkan kekesalannya karena dirinya terus hanya ditugaskan menjaga Lhan, sementara M boleh ikut misi. Namun pertengkaran itu terhenti ketika Pruek dan kelompok Mala menyerbu markas.

Ledakan menghempaskan Lhan, lalu baku tembak pecah dari berbagai arah. Pran melindunginya, M ikut membantu, dan anggota House 89 mempertahankan markas. Ketika Lhan melihat Pruek, ia langsung mengenali pembunuh orang tuanya dan kehilangan kendali.

Lhan mengambil pistol Pran lalu menembak membabi buta ke arah Pruek. Tindakannya membuka celah bagi Chaba untuk melukai Pran. Poh yang datang menolong juga tertembak, sehingga House 89 terpaksa mundur ke ruang operasi rahasia.

Pendarahan Pran sulit dihentikan karena ia memiliki hemofilia dan ternyata juga bergolongan darah Aurum. Dalam keadaan terdesak, dokter mengambil darah Lhan untuk menyelamatkan Pran. Saat itulah terbongkar bahwa salah satu alasan Poh membawa Lhan sejak kecil adalah karena darahnya dapat menjadi cadangan bagi Pran.

Lhan terpukul karena merasa hidup barunya dibangun di atas kebohongan. Ia sebenarnya rela menyelamatkan Pran, tetapi tidak bisa menerima kenyataan bahwa hal itu disembunyikan darinya. Di luar ruang operasi, anggota House 89 terus bertarung menahan kelompok Mala.

Satu per satu anggota House 89 tewas karena kalah jumlah. Para penyintas akhirnya menyerang balik, dan Pran yang masih terluka bertarung berdampingan dengan ayahnya untuk pertama kali. Namun pintu keluar telah diretas, membuat mereka sulit kabur.

Poh memilih mengorbankan diri. Ia membuka akses keluar secara manual agar Pran dan yang lain bisa pergi. Meski tubuhnya dihantam peluru, ia sempat mengaktifkan bom dan meledakkannya saat musuh mendekat.

Hanya sedikit anggota House 89 yang selamat. Mereka kehilangan markas dan sebagian besar keluarga mereka. Pruek semakin marah karena Lhan dan Pran, dua pemilik darah Aurum, kembali lolos.

Para penyintas bersembunyi di gedung terbengkalai. Lhan ingin pergi karena merasa keberadaannya hanya membawa kematian. M dan Pran menjelaskan bahwa mereka tidak mengetahui alasan awal Poh membawa Lhan ke markas, dan bagi mereka Lhan tetap keluarga.

Pran meminta maaf kepada Lhan atas tindakan ayahnya. Namun setelah identitas Lhan terbongkar, tidak ada tempat aman baginya. Lhan akhirnya memutuskan berhenti melarikan diri dan meminta diajari bertarung serta membunuh.

Awalnya permintaan itu ditolak karena menjadi pembunuh profesional butuh latihan panjang. Lhan kemudian menunjukkan kemampuan yang selama ini ia pelajari diam-diam dari latihan M dan Pran. Meski masih lemah, ia punya bakat, kelincahan, dan kemampuan membaca gerakan.

Sejak hari itu, Lhan dilatih serius. Ia mempelajari fisik, senjata api, lemparan pisau, pertarungan jarak dekat, dan cara menyerang titik vital. Perkembangannya cepat karena tekad dan bakat alaminya.

Pran juga mengajarinya bahwa satu kesempatan harus digunakan tepat. Ia menunjukkan titik vital di bawah dagu dan cara menyerangnya dengan benda tajam. Kedekatan mereka semakin dalam hingga keduanya akhirnya menghabiskan malam bersama.

Pran kemudian berbicara kepada M secara pribadi. Ia tahu M mencintai Lhan sejak lama. Jika dirinya tidak selamat, Pran meminta M menjaga Lhan agar perempuan itu tidak hidup sendirian lagi.

Sementara itu, Pruek melacak mobil yang digunakan para penyintas. Namun informasi tempat persembunyian mereka memang sengaja dibiarkan tersebar. Pran dan kelompoknya memilih memancing musuh datang ke medan yang sudah mereka siapkan.

Pruek tiba bersama pasukan dan kelompok Mala. Ia mengingatkan agar Lhan dan Pran tidak dibunuh karena keduanya memiliki darah Aurum. Begitu musuh memasuki kompleks, sebuah kendaraan rongsokan meledak dan pertempuran terakhir dimulai.

Meski kalah jumlah, House 89 unggul karena telah menyiapkan jebakan dan posisi serangan. Pertempuran berlangsung brutal, membuat anggota House 89 yang tersisa kembali berguguran. M berhasil membunuh Blue, membuat Chaba murka dan ingin membalas.

Chaba hendak mengejar M, tetapi Pran menghadangnya. Dalam pertarungan keras itu, Pran membuktikan dirinya bukan sekadar penjaga Lhan. Ia mengalahkan Chaba dan menjatuhkannya dari ketinggian.

Di tempat lain, Lhan akhirnya berhadapan langsung dengan Pruek. Awalnya ia kesulitan melawan pengalaman Pruek, tetapi perlahan mampu membaca pola serangannya. Semua latihan yang dijalani Lhan akhirnya membuahkan hasil.

Lhan melukai Pruek dan menyerangnya dengan pisau pada titik vital. Setelah bertahun-tahun menyimpan dendam, ia berhasil menjatuhkan pembunuh orang tuanya dengan tangannya sendiri. Hanya Lhan, Pran, dan M yang tersisa.

Mereka segera pergi dengan mobil, tetapi tembakan dari Chaba yang ternyata masih hidup mengenai tubuh Lhan. Luka itu sangat parah, sementara mereka belum menemukan rumah sakit. Pran akhirnya mendonorkan darahnya langsung kepada Lhan menggunakan peralatan seadanya.

Pran tahu kehilangan darah bisa membunuhnya, terlebih ia memiliki hemofilia. Namun ia tetap melanjutkan transfusi demi menyelamatkan Lhan. Di tengah proses itu, Chaba berhasil menyusul mereka.

M keluar menghadapi Chaba agar Pran bisa terus menyelamatkan Lhan. Pertarungan mereka sangat keras, dan Chaba berkali-kali melukai tubuh M. Meski terluka fatal, M terus melawan sampai keduanya akhirnya tewas.

Di dalam mobil, darah Pran terus mengalir ke tubuh Lhan sampai kondisinya semakin lemah. Keesokan paginya, Lhan terbangun dan menemukan Pran sudah meninggal di sisinya. Pran mengorbankan hidupnya demi menyelamatkan perempuan yang dicintainya.

Beberapa tahun kemudian, Lhan kembali ke Vietnam dan membesarkan putra hasil hubungannya dengan Pran. Anak itu juga mewarisi darah Aurum. Karena tahu putranya mungkin akan diburu, Lhan melatihnya bertarung sejak kecil.

Sementara itu, Pruek ternyata masih hidup setelah pertarungan mereka. Ia kembali menjalani kehidupan lama sebagai pemburu barang langka. Suatu malam, seseorang mengajaknya bertemu untuk sebuah transaksi.

Ketika koper dibuka, Pruek menemukan pistol lamanya sendiri. Orang yang mengatur pertemuan itu ternyata Lhan, yang kini telah menjadi assassin sejati. Kali ini ia datang bukan sebagai korban yang melarikan diri, melainkan pembunuh terlatih yang akhirnya menuntaskan dendamnya.

Tag Film

18 Tag

Komentar

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Komentar akan tampil setelah disetujui admin.

Belum ada komentar.

Smart Related

Rekomendasi Serupa

Lihat genre Action