Putus asa demi putrinya yang sakit, Ben Richards nekat mengikuti permainan mematikan ‘The Running Man’ atas bujukan produsernya yang licik. Namun, ketangguhan dan keberanian Ben malah membuatnya menjadi favorit penonton dan ancaman bagi penguasa. Dengan rating yang terus melonjak, Ben harus bertahan hidup melawan para Pemburu dan mengakali masyarakat yang terobsesi melihat kematiannya.
Kisah berlatar di masa depan distopia Amerika, tepatnya di Co-Op City. Ben Richards, seorang ayah yang putus asa, baru saja kehilangan pekerjaannya. Ia mencoba memohon kepada mantan bosnya sambil membawa putrinya yang sakit parah, Cathy, namun usahanya sia-sia.
Di rumah, Ben dan istrinya, Sheila, dihadapkan pada pilihan sulit karena biaya pengobatan Cathy yang tak terjangkau. Ben melihat peluang pada jaringan televisi FreeVee yang menayangkan acara-acara sadis. Pilihan paling mematikan namun menguntungkan adalah The Running Man, di mana kontestan harus bertahan hidup selama 30 hari dari kejaran pasukan pembunuh elit bernama “Hunters” yang dipimpin oleh Evan McCone.

Ben pergi ke Jaringan Game FreeVee untuk mencoba peruntungan di acara yang lebih ringan. Di sana ia bertemu kontestan lain, Jenni Laughlin dan Tim Jansky. Saat audisi, Ben menunjukkan agresi luar biasa namun juga heroisme saat menyelamatkan Tim dalam sebuah ujian—tindakan yang sebenarnya ilegal dalam aturan main. Sifatnya yang kompleks ini menarik perhatian produser, dan Ben akhirnya terpilih menjadi “Runner” untuk The Running Man bersama Jenni dan Tim. Produser kepala, Dan Killian, mengetahui rekam jejak Ben yang dipecat karena membantu rekan kerja, dan memaksanya menandatangani kontrak dengan iming-iming bonus uang untuk Sheila dan Cathy.
Permainan dimulai dengan Ben yang mencoba mendapatkan perlengkapan senjata dan identitas palsu dari kontak lamanya, Molie. Sayangnya, Molie disiksa dan dibunuh oleh McCone, membocorkan lokasi persembunyian Ben di sebuah asrama. Pada hari kedua, setelah kontestan Tim tewas dengan cepat karena kecerobohannya, para Hunters menyergap asrama tempat Ben bersembunyi.
Dalam situasi menegangkan saat Ben sedang mandi, ia terpaksa melarikan diri hanya dengan berbalut handuk, menghindari tembakan, dan meluncur masuk ke saluran pembuangan. McCone meledakkan asrama tersebut dan membunuh beberapa pasukannya sendiri dalam prosesnya. Pihak The Network memutarbalikkan fakta dengan menuduh Ben sebagai teroris yang meledakkan gedung itu, menjadikannya musuh masyarakat nomor satu.

Ben diselamatkan dari saluran pembuangan oleh seorang anak yang membawanya pulang menemui kakaknya, Bradley. Bradley adalah seorang penggemar yang menganalisis pola permainan The Running Man dan membenci The Network karena adiknya sakit akibat limbah perusahaan tersebut. The Network menyiarkan video deepfake AI yang memperlihatkan Ben mengaku menikmati pembunuhan, membuat ibu Bradley mengusirnya. Namun, Bradley membantu Ben melarikan diri dari kota dengan menyembunyikannya di bagasi mobil dan menghabisi pengejar mereka.
Ben kemudian menuju Derry, Maine, untuk menemui aktivis bernama Elton Parrakis. Dalam perjalanan, Ben mengetahui nasib tragis Jenni yang tewas dibakar oleh pembunuh cilik. Sesampainya di rumah Elton, Ben mendapati bahwa Elton tinggal bersama ibunya yang paranoid. Elton, anak seorang polisi yang dibunuh karena jujur, melihat Ben sebagai simbol perlawanan baru dengan slogan “Richards Lives”. Ketika lokasi mereka tercium, Elton memutuskan untuk melawan balik. Ia mengubah rumahnya menjadi benteng penuh jebakan maut, menyengat listrik dan meledakkan para Hunters yang menyerbu. Elton gugur dalam pertempuran itu, sementara Ben berhasil lolos setelah menghancurkan kendaraan Hunter Frank di jembatan.
Ben membajak mobil Amelia Williams, seorang gadis kaya yang termakan propaganda pemerintah. Namun, Amelia perlahan sadar ia telah dibohongi setelah melihat berita palsu di TV yang menampilkan dirinya menangis minta tolong, padahal ia sedang duduk diam. Yakin bahwa Ben ada di pihak yang benar, Amelia membantunya menuju lapangan terbang Hunter.
Di sana, Ben melakukan gertakan berani dengan berpura-pura membawa bom dahsyat. Ia mengancam akan meledakkan segalanya kecuali diizinkan naik pesawat jet menuju Kanada bersama Amelia. Para Hunters menuruti tuntutan itu, dan Ben memaksa McCone melepas topengnya untuk ikut naik ke pesawat.

Di dalam pesawat, Killian menghubungi Ben dan mengungkapkan bahwa ia tahu tidak ada bom. Killian mencoba menawari Ben posisi sebagai Hunter jika ia membunuh McCone. Untuk memancing amarah Ben, Killian menayangkan rekaman palsu yang memperlihatkan McCone membantai Sheila dan Cathy. Terungkap pula bahwa McCone sebenarnya adalah mantan kontestan pemenang yang membelot menjadi pembunuh demi bertahan hidup.
Ben mengamuk, membunuh para pilot, dan bertarung sengit dengan McCone. Dengan bantuan Amelia, Ben berhasil melubangi jendela pesawat, membuat parasut McCone tersangkut, lalu menikamnya hingga tewas dan melemparnya keluar. Amelia kemudian terjun menggunakan parasut membawa bukti-bukti kejahatan The Network. Pesawat yang membawa Ben akhirnya ditembak jatuh atas perintah Killian.
Beberapa waktu kemudian, kebenaran terungkap. Bradley dan Amelia menyebarkan rekaman kotak hitam pesawat yang menelanjangi semua kebohongan Killian dan The Network. Terungkap bahwa Ben selamat dengan menggunakan kapsul peluncur darurat (escape pod) dan telah bersatu kembali dengan istri dan anaknya yang ternyata masih hidup.
Di studio, Killian bersiap memulai musim baru dengan percaya diri. Namun, penonton yang sudah muak melakukan pemberontakan massal, melemparkan bom molotov, dan membuat kerusuhan. Di tengah kekacauan itu, Ben muncul dari balik bayang-bayang. Ia berjalan tenang menuju panggung tempat Killian terjatuh. Di hadapan kamera yang masih menyala, Ben menghitung mundur dari lima, lalu mengeksekusi Killian dengan satu tembakan di kepala, mengakhiri permainan mematikan itu untuk selamanya.






