Sinopsis Abadi Nan Jaya (2025)

5557 votes, average 5.3 out of 10

Sebuah keluarga yang tak harmonis menjalankan bisnis obat herbal ternama. Ketika sang pemilik berusaha melakukan inovasi dengan menciptakan ramuan baru, ia justru memicu wabah zombie.

Film dibuka di tengah keramaian sebuah pesta khitanan di desa Wanirejo. Seorang polisi muda, Rahman, sedang berbicara dengan kekasihnya, Ningsih, yang berada di pesta itu. Ningsih marah karena Rahman terus menghindar dan mengingkari janji untuk melamarnya. Rahman meminta maaf, berjanji Ningsih adalah prioritas utamanya, sebelum akhirnya dipanggil kembali bertugas.

Tiba-tiba, sebuah mobil menabrak masuk ke tengah pesta dengan kecepatan tinggi, menimbulkan kekacauan. Warga yang marah, termasuk Kepala Desa, menyeret pengemudi keluar. Mereka mengira ia mabuk atau overdosis. Namun, pria itu mendadak bangkit dengan gerakan tidak wajar, sendinya berbunyi retak. Ia kemudian secara buas menyerang dan membunuh Kepala Desa di depan kerumunan yang panik.

LIMA JAM SEBELUMNYA

Di sebuah pabrik jamu, Wani Waras, seorang staf bernama Jaka sedang menyiapkan sampel jamu. Satu untuk “Bos” (Dimin) di Wanirejo, dan satu lagi untuk “Ibu Grace” di Jakarta.

Sementara itu, sebuah keluarga dari Jakarta, Rudi bersama istrinya Kenes, dan putra mereka Raihan, sedang dalam perjalanan mobil menuju Wanirejo. Hubungan Rudi dan Kenes tampak sangat tegang. Rudi mengingatkan Kenes untuk bersikap baik pada “Karina” (istri baru ayah Kenes), karena mereka membutuhkan tanda tangan sang ayah untuk penjualan perusahaan yang akan dilaksanakan akhir pekan itu. Kenes, yang jelas-jelas membutuhkan uang dari penjualan itu untuk memulai hidup baru setelah bercerai, menyetujuinya dengan terpaksa.

Di rumah mewah Wanirejo, Dimin (sang “Bos” dan ayah Kenes) menerima sampel jamu itu. Ia tampak mesra dengan istri barunya, Karina. Karina mengajaknya berbulan madu lagi dan mengungkapkan keinginannya untuk memiliki anak lagi.

Ketika Kenes, Rudi, dan Raihan tiba, suasana langsung canggung. Karina menyambut mereka, namun Kenes bersikap dingin. Ia langsung melarang Raihan memakan ayam goreng yang dibuat Karina dengan alasan batuk.

Raihan kemudian bermain dengan pamannya, Bambang (adik Kenes), yang digambarkan sebagai sosok kekanakan dan pemalas. Raihan yang polos bertanya pada Bambang mengapa keluarganya selalu bertengkar.

Rudi, Kenes, dan Bambang mendiskusikan video promosi untuk merger dengan perusahaan Nusa Farma. Rudi sengaja tidak menampilkan pabrik Wani Waras yang sudah “tua” dan “jelek”. Bambang, yang jelas malas bekerja, hanya menunggu uang hasil penjualan cair.

Dimin akhirnya muncul untuk menemui mereka. Namun, penampilannya mengejutkan semua orang. Ia terlihat jauh lebih muda: rambutnya yang biasa beruban kini hitam legam, dan ia tidak lagi memakai kacamata. Karina sendiri terkejut, menyatakan suaminya tidak seperti itu tadi pagi.

Baca juga:  Weapons (2025)

Dimin dengan marah mengkritik video promosi Rudi yang dianggapnya tidak mencerminkan nilai “sederhana dan rendah hati” Wani Waras.

Puncaknya, Dimin mengumumkan bahwa ia telah “berubah pikiran” dan membatalkan penjualan Wani Waras. Alasannya adalah penemuan barunya: “ramuan awet muda” yang ia namai “Abadi Nan Jaya”. Ia mengaku bangun pagi itu dengan rambut beruban, namun setelah meminum ramuan itu, ia menjadi muda kembali.

Keputusan Dimin memicu pertengkaran keluarga yang hebat. Bambang mengamuk karena tidak jadi mendapatkan uang warisan. Kenes putus asa, karena ia butuh uang itu untuk bercerai dari Rudi dan mandiri bersama Raihan. Kenes menuduh Rudi berselingkuh.

Dimin membalas dengan menyalahkan Kenes, bertanya apakah ia pernah “merawat penampilan”. Kenes yang sakit hati akhirnya meluapkan amarahnya pada Karina. Ia menuduh Karina (sahabat masa kecilnya) telah merebut ayahnya, dan mengungkit trauma saat ia memergoki mereka.

Di tengah amarahnya, tubuh Dimin mulai bereaksi hebat. Ia kejang, pembuluh darahnya menonjol, dan ia muntah hebat. Dalam hitungan detik, ia berubah menjadi sosok mengerikan yang langsung menyerang Aris, seorang staf rumah tangga, dan membunuhnya.

Saat keluarga masih shock, mayat Aris tiba-tiba bangkit dan berubah menjadi monster yang sama. Aris menyerang staf lain, Pardi. Wabah pun dimulai. Pardi yang terinfeksi kemudian menyerang Imah.

Keluarga itu terpecah. Kenes dan Bambang berhasil lari ke satu mobil. Sementara Rudi, Karina, Raihan, dan seorang pengasuh senior, Mbok Sum, kabur ke mobil lain. Dalam pelarian mereka, mobil Rudi diserang oleh Pardi yang telah terinfeksi. Rudi berhasil melawan Pardi, namun ia terluka.

Kenes dan Bambang, yang berusaha menyusul, mengalami kecelakaan. Mereka terpaksa lari dan tiba di lokasi pesta khitanan, yang kini telah menjadi ladang pembantaian. Mereka dikejar oleh kerumunan mayat hidup.

Melalui telepon, Kenes menghubungi Rudi. Mereka panik. Mbok Sum menyarankan mereka bertemu di rumah Kepala Desa. Namun, saat grup Rudi tiba di sana, mereka disergap oleh Aris yang terinfeksi. Mbok Sum tewas terbunuh saat mencoba melindungi mereka. Rudi, Karina, dan Raihan kini terjebak.

Kenes dan Bambang, yang melihat pembantaian di rumah Kepala Desa, melarikan diri dan menemukan Kantor Polisi Wanirejo. Mereka menerobos masuk dan bertemu Rahman. Mereka berusaha menjelaskan situasinya, namun para mayat hidup sudah mengepung kantor polisi.

Baca juga:  Black Phone 2 (2025)

Para petugas polisi mencoba melawan dengan gas air mata, namun tidak berpengaruh. Tembakan pun dilepaskan, namun para petugas kewalahan dan dibantai. Komandan Rahman tergigit.

Kenes, Bambang, dan Rahman membarikade diri di sebuah ruangan. Sang Komandan yang kini telah berubah, mendobrak masuk dan menyerang. Bambang mendorongnya, dan Rahman terpaksa menembak mati atasannya. Dalam kekacauan itu, Rahman pun tergigit.

Rahman yang terluka parah berhasil menghubungi markas Sleman untuk meminta bantuan. Sambil menunggu, Kenes mendapat telepon dari Karina. Ia mendapat dua kabar: Raihan aman bersama Karina dan Ningsih, namun Rudi telah berubah menjadi monster seperti Dimin dan menyerang mereka.

Harapan mereka pupus ketika radio komunikasi berbunyi. Tim penyelamat dari Sleman melaporkan bahwa mereka disergap. Terdengar suara tembakan, jeritan, dan geraman, lalu radio mati. Mereka kini terisolasi.

Di tengah keputusasaan, terdengar suara Azan dari masjid. Anehnya, para mayat hidup di luar berhenti menyerang dan bergerak serempak menuju sumber suara. Bambang menyadari kelemahan mereka: mereka tertarik pada suara keras. Ia mengujinya dengan melempar kembang api sitaan, yang sukses mengalihkan perhatian gerombolan itu.

Mereka menyusun rencana, menggunakan sisa kembang api untuk distraksi, lari ke motor Rahman, dan menyelamatkan Raihan. Rahman, yang tahu ajalnya dekat, menelepon Ningsih untuk terakhir kalinya, berbohong bahwa ia akan menjemputnya.

Mereka melempar kembang api dan berlari keluar menggunakan perisai polisi. Namun, tiba-tiba hujan deras turun, dan para mayat hidup seketika “lumpuh” di tempat. Mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk lari. Sialnya, hujan berhenti secepat dimulainya, dan gerombolan itu kembali aktif.

Bambang tertangkap. Rahman berlari kembali untuk menyelamatkan Kenes, namun ia dikerumuni dan tewas. Kenes berhasil lolos dan bersembunyi.

Di sisi lain, Karina, Ningsih, dan Raihan dikejar oleh Rudi yang terinfeksi ke sebuah truk kembang api yang terparkir. Saat mereka berusaha menyalakan truk, Kenes muncul dan menyalakan kembang api di jalan untuk memancing para mayat hidup menjauh.

Mereka semua berhasil masuk ke dalam truk. Namun ternyata, Karina terkena gigitan.

Raihan tidak sengaja membunyikan klakson telolet truk, menarik perhatian semua mayat hidup di area itu. Kenes berteriak agar Karina menabrak mereka semua. Mereka tancap gas menuju kantor polisi untuk menjemput Bambang, namun truk itu oleng tak terkendali dan menabrak menerobos ke dalam kantor polisi.

Kaki Bambang terjepit reruntuhan. Saat mereka berusaha menolongnya, gerombolan mayat hidup. Bambang menembak Rahman, lalu dengan berat hati menembak Ningsih yang menyerangnya.

Baca juga:  Badarawuhi di Desa Penari (2024)

Tiba-tiba, Rudi yang terinfeksi muncul di jendela, menyeret Kenes dan menggigit lengannya. Melihat Raihan dalam bahaya, Bambang berteriak pada Karina untuk menembak Rudi. Setelah ragu sejenak, Karina menembak Rudi hingga tewas.

Truk itu terkepung. Bambang, sadar kakinya tak bisa diselamatkan dan Kenes kini terinfeksi, memutuskan untuk berkorban. Ia menyuruh mereka pergi. “Selama ini aku selalu lari,” katanya, “Sekarang, aku akan menetap.”. Ia menyuruh Raihan melindungi ibunya.

Kenes, Karina, dan Raihan melarikan diri lewat pintu samping. Bambang, sendirian di dalam truk, menyalakan sumbu utama dari tumpukan kembang api di dalam truk. Ia meneriaki para mayat hidup yang mengerumuninya, sebelum truk itu meledak dalam ledakan besar, membawanya serta gerombolan itu.

Ketiganya berlari ke motor Ningsih. Di sanalah Kenes menunjukkan bekas gigitan Rudi di lengannya pada Karina. Ia tahu waktunya hampir habis.

Kenes menangis memeluk Raihan, berkata bahwa ia tidak bisa ikut. Ia memaksa Karina berjanji untuk membawa Raihan pergi dan merawatnya. Kenes kemudian mengambil kembang api terakhir, menyalakannya, dan berlari ke arah berlawanan, menarik perhatian sisa mayat hidup. Ia mengorbankan dirinya agar putranya bisa selamat.

Karina, dengan Raihan yang menangis, mengendarai motor menjauh dari Wanirejo yang terbakar. Di kejauhan, gerombolan mayat hidup menggeram ke arah langit.

Ending credit scene: Di Jakarta, Ibu Grace (yang menerima sampel di awal film) sedang bersiap-siap dengan suaminya. Ia mengeluh Dimin tidak bisa dihubungi. Ia lalu bercermin dan terkejut melihat penampilannya: rambutnya tidak lagi beruban dan kerutannya hilang. Ia telah meminum “Abadi Nan Jaya”. Wabah baru saja dimulai di ibu kota.

 

Leave a Reply