Lewati ke konten
Poster Believe: The Ultimate Battle

Sinopsis Believe: The Ultimate Battle (2025)

Believe: Takdir, Mimpi, Keberanian

Agus, putra seorang veteran, tumbuh tanpa sosok ayah di sisinya. Kehilangan tersebut membuatnya menjadi anak yang nakal dan tidak disiplin. Namun, setelah sang ayah meninggal dunia, Agus harus memenuhi keinginan terakhirnya: mengikuti jejak sang ayah dan terjun ke dunia militer.

Detail Film
Official Trailer Believe: The Ultimate Battle

Full Sinopsis

Film dibuka pada tahun 1975 ketika Operasi Seroja berlangsung di Dili, Timor Timur. Pasukan Indonesia diterjunkan dari udara menuju wilayah operasi dan segera menghadapi perlawanan bersenjata setelah mendarat. Sersan Kepala Dedy Unadi ikut bergerak bersama pasukannya menuju garis pertahanan musuh. Di tengah pertempuran, Dedy mendapat perintah untuk terus maju meskipun salah satu komandannya terluka.

Dedy bergerak menuju gedung yang menjadi bagian dari pertahanan lawan sambil memberikan perlindungan kepada pasukan lain. Ia dan anggota pasukannya berusaha maju secara bertahap di tengah tembakan. Ketika sampai di salah satu lokasi, Dedy melihat seorang perempuan bersama anak laki-lakinya bernama Felipe. Kelompok bersenjata datang dan menuduh perempuan tersebut sebagai pengkhianat sebelum membunuhnya.

Felipe menangis dan memanggil ibunya setelah perempuan tersebut ditembak. Dedy menemukan Felipe yang masih berada di sekitar lokasi dan memintanya ikut bersamanya. Ia membawa Felipe menjauh dari tempat tersebut ketika pertempuran masih berlangsung. Felipe selamat dari kejadian itu dan untuk sementara berada bersama Dedy.

Pada tahun 1976, Dedy menjalani perawatan di Rumah Sakit Gatot Subroto, Jakarta. Seorang atasannya menunjukkan informasi mengenai Miro Freitas dan menjelaskan bahwa Miro merupakan pemimpin pihak lawan yang telah menyebabkan banyak prajurit Indonesia tewas. Dedy mengatakan bahwa dirinya merasa gagal dalam operasi tersebut, tetapi atasannya menjawab bahwa operasi telah berhasil. Dedy kemudian meninggalkan rumah sakit setelah menjalani perawatan.

Agus masih kecil ketika ayahnya kembali dari Timor Timur. Ia melihat Dedy sebagai seorang prajurit yang baru pulang dari perang dengan kondisi fisik yang berbeda. Agus belum memahami mengapa ayahnya harus berada jauh dari rumah dan mengapa pekerjaannya membuat keluarga mereka mengalami banyak kesulitan. Ia hanya mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang tentara yang pernah pergi berperang.

Selama Dedy menjalankan tugas, ibu Agus semakin tertekan dengan keadaan keluarga. Ia sering menangis sendirian dan merasa tidak sanggup menghadapi keadaan tersebut. Pada suatu hari, ia meninggalkan rumah setelah menulis pesan kepada Dedy agar menjaga anak-anak mereka dan tidak terlalu keras kepada mereka. Agus bertanya kepada Dedy mengenai keberadaan ibunya, tetapi Dedy hanya mengatakan bahwa ibunya sedang sakit.

Agus tumbuh dalam keadaan keluarga yang tidak utuh. Kehidupan mereka juga mengalami kesulitan ekonomi dan kondisi fisik Dedy menjadi bahan ejekan anak-anak lain. Agus pernah diejek karena ayahnya berjalan pincang setelah pulang dari perang. Ejekan tersebut membuat Agus marah dan ia mulai terbiasa menyelesaikan persoalan dengan kekerasan.

Ketika remaja, Agus semakin sering terlibat perkelahian. Ia bersama teman-temannya mendatangi sekolah lain untuk mencari anak-anak yang dianggap mengganggu kelompok mereka dari Cimindi. Agus menggunakan kekerasan ketika menghadapi orang yang membuatnya marah. Di sisi lain, orang-orang yang mengenalnya mengetahui bahwa Agus sebenarnya memiliki kemampuan dalam musik dan bernyanyi.

Dedy tetap memperhatikan Agus meskipun hubungan mereka tidak selalu dekat. Dalam salah satu percakapan, Dedy mengatakan bahwa dirinya bangga kepada Agus dan yakin anaknya dapat menjadi orang hebat. Dedy meminta Agus percaya kepada dirinya sendiri dan menyuruhnya memotong rambut. Tidak lama setelah percakapan tersebut, Dedy meninggal dunia dalam kecelakaan sepeda motor pada tahun 1984.

Kematian Dedy membuat Agus kehilangan ayahnya ketika masih remaja. Setelah pemakaman, seorang rekan Dedy berbicara kepada Agus mengenai kehidupan ayahnya sebagai prajurit. Ia menceritakan bahwa Dedy telah menyelamatkan banyak orang selama menjalankan tugas. Agus juga mengetahui bahwa Dedy tidak ingin anak-anaknya mengikuti jalan hidup yang sama persis dengannya, melainkan berharap mereka dapat melampaui pencapaiannya.

Agus mulai memikirkan kembali sosok ayahnya setelah mendengar cerita tersebut. Ia kemudian memutuskan untuk mencoba masuk ke dunia militer. Pada percobaan pertama, Agus gagal dalam proses seleksi. Kegagalan itu membuatnya kecewa, tetapi ia tidak berhenti dan kembali mengikuti proses seleksi berikutnya hingga akhirnya diterima menjadi prajurit.

Agus menjalani pendidikan militer di Magelang. Ia menghadapi latihan fisik, kedisiplinan, tekanan mental, serta berbagai aturan yang harus dipatuhi setiap hari. Kehidupannya berubah dari seorang remaja yang sering terlibat perkelahian menjadi seorang prajurit yang harus mengikuti perintah dan bekerja bersama kelompok. Setelah menyelesaikan pendidikan, Agus mulai mendapatkan penugasan di satuan militer.

Pada tahun 1993, Agus ditempatkan di Batalyon 328 Cilodong. Para prajurit dan perwira muda mendapat arahan mengenai tanggung jawab seorang pemimpin terhadap anak buahnya. Mereka diberi tahu bahwa seorang komandan harus menjadi contoh dan tidak boleh hanya memikirkan dirinya sendiri. Keberhasilan menjalankan tugas di wilayah timur juga dapat membuka kesempatan untuk mengikuti pendidikan pasukan khusus.

Pada tahun 1994, Agus ditempatkan di Batalyon 303 Garut. Ketika sebagian besar prajurit mendapat penugasan ke Kamboja, Agus justru ditugaskan melatih pasukan pengibar bendera. Ia sempat merasa kecewa karena ingin mendapat tugas yang lebih dekat dengan operasi lapangan. Namun ia tetap menjalankan tugas tersebut dan mulai menjalani kehidupan di luar lingkungan militer dengan lebih teratur.

Pada masa itu Agus bertemu Evi. Ia mulai mendekati Evi dan beberapa kali datang menemuinya ketika mendapat kesempatan. Hubungan mereka berkembang meskipun pekerjaan Agus membuat waktu keduanya terbatas. Evi mengetahui bahwa Agus memiliki keinginan untuk terus berkembang dalam karier militernya.

Agus beberapa kali datang ke rumah Evi. Ibu Evi memperhatikan hubungan mereka dan mengetahui bahwa ada beberapa laki-laki lain yang juga menyukai putrinya. Namun Agus datang dengan membawa sayuran untuk keluarga Evi dan menunjukkan perhatian kepada mereka. Ibu Evi akhirnya bertanya kepada Agus apakah dirinya benar-benar ingin bersama Evi.

Agus mengatakan kepada ibu Evi bahwa Evi merupakan alasan dirinya ingin kembali pulang dengan selamat setiap kali menjalankan tugas. Ibu Evi mendengar jawaban tersebut dan mengetahui bahwa Agus serius terhadap putrinya. Di lingkungan militer, Agus juga melihat persoalan pribadi yang dialami anak buahnya. Salah seorang prajurit harus memikirkan biaya pengobatan saudaranya yang terkena demam berdarah.

Agus kemudian mendapat kesempatan menjadi komandan peleton di Batalyon 323. Ia diberi tahu bahwa dirinya akan dipersiapkan untuk penugasan ke Timor Timur. Sebelum berangkat, Agus menemui ibu Evi dan meminta doa untuk keselamatannya. Ia kembali mengatakan bahwa Evi adalah alasan yang membuatnya ingin pulang.

Pada tahun 1995, Agus berangkat menuju Timor Timur menggunakan kapal TNI Angkatan Laut Teluk Amboina. Misi mereka adalah melacak kelompok gerilyawan yang beroperasi di wilayah tersebut. Salah satu target utama adalah Abraham Freitas atau Abel, yang merupakan putra Miro Freitas. Agus mendapat tugas memimpin peleton yang anggotanya memiliki pengalaman berbeda-beda.

Sejumlah prajurit senior belum menerima Agus sebagai komandan karena usianya relatif muda. Djarwo merupakan salah satu prajurit yang paling jelas menunjukkan keberatannya. Ia merasa lebih berpengalaman dibandingkan Agus dan tidak langsung menerima keputusan komandannya. Agus tidak meladeni sikap tersebut dengan kemarahan dan tetap memberikan perintah sesuai rencana operasi.

Dalam sebuah operasi, Agus membagi pasukannya menjadi beberapa kelompok untuk mengepung posisi musuh. Djarwo mengambil jalur yang berbeda dari rute yang telah diperintahkan. Keputusan tersebut menyebabkan kelompoknya menghadapi situasi berbahaya ketika mereka berhadapan dengan musuh. Beberapa anggota pasukan terluka dalam pertempuran tersebut.

Setelah pasukan kembali, Agus diminta menjelaskan kejadian tersebut. Ia mengetahui bahwa Djarwo telah mengambil keputusan sendiri, tetapi Agus tetap mengatakan bahwa dirinya bertanggung jawab sebagai komandan peleton. Ia tidak melemparkan seluruh kesalahan kepada Djarwo. Sikap Agus terhadap kejadian tersebut membuat Djarwo mulai melihat komandannya dengan cara berbeda.

Pasukan Agus kemudian menerima informasi dari Nanggala mengenai pergerakan kelompok lawan. Mereka mendapat petunjuk mengenai wilayah yang diperkirakan menjadi jalur pergerakan musuh. Agus memerintahkan pasukannya melakukan pengintaian di sekitar sebuah desa dan lahan terbuka. Mereka bertahan di lokasi tersebut selama beberapa hari sambil menunggu pergerakan kelompok lawan.

Hari pertama hingga beberapa hari berikutnya berlalu tanpa adanya pergerakan besar. Para prajurit tetap berada di posisi masing-masing dan melaporkan kondisi mereka kepada Agus. Selama berada di hutan, Agus juga berbicara dengan anggota peletonnya mengenai kehidupan pribadi dan keluarganya. Penantian tersebut berlangsung sampai memasuki hari ketujuh.

Pada hari ketujuh, Agus berbicara mengenai Dedy dan sebuah buku doa yang selalu dibawa ayahnya ketika bertugas. Seorang anggota pasukan bertanya apakah Dedy yang membuat Agus memilih masuk militer. Agus mengatakan bahwa ia membutuhkan waktu untuk memahami keinginan ayahnya kembali ke medan perang dan menjadi berguna. Ia juga menceritakan bahwa Dedy meninggal akibat kecelakaan.

Agus mengatakan bahwa dirinya pernah berpikir Dedy ingin mati sebagai pahlawan perang. Prajurit yang berbicara dengannya bertanya apakah Agus sekarang ingin mengikuti impian ayahnya. Agus tidak memberikan jawaban panjang dan hanya melanjutkan percakapan mengenai apa yang mungkin terjadi dalam tugas mereka. Tidak lama setelah itu, pasukan memasuki hari kedelapan pengintaian.

Pada hari kedelapan, pergerakan musuh akhirnya terlihat. Agus segera memberikan perintah kepada anak buahnya untuk menyerang dan melakukan pembersihan. Pertempuran berlangsung di antara hutan dan posisi pertahanan musuh. Pasukan Agus berhasil menguasai lokasi dan menemukan informasi mengenai kelompok yang mereka hadapi.

Setelah pertempuran tersebut, diketahui bahwa Abel Freitas merupakan salah satu tokoh utama yang mengatur gerakan kelompok tersebut. Abel adalah putra Miro Freitas dan selama ini bekerja dari balik kelompok gerilyawan. Ketika kabar mengenai kematian Abel sampai kepada Miro, Miro meminta anak buahnya mencari siapa orang yang bertanggung jawab atas kematian putranya. Ia memerintahkan mereka menemukan prajurit yang membunuh Abel.

Agus kemudian bertemu Felipe yang sudah dewasa. Felipe mengenali sesuatu yang berkaitan dengan Dedy dan menjelaskan bahwa Dedy pernah menyelamatkannya ketika ia masih kecil. Felipe mengatakan bahwa jika Dedy tidak datang saat itu, dirinya bukan hanya akan kehilangan ibunya tetapi juga mungkin kehilangan nyawanya sendiri. Ia mengatakan kepada Agus bahwa dirinya ingin bertemu Dedy sekali lagi untuk menyampaikan rasa terima kasih.

Agus memperlihatkan foto Dedy kepada Felipe. Felipe memastikan bahwa sosok dalam foto tersebut adalah prajurit yang pernah menyelamatkannya. Agus bertanya kepada Felipe mengenai tempat tinggalnya. Felipe menjawab bahwa dirinya tinggal di Tutuleia. Agus mengatakan bahwa suatu hari ia akan datang mengunjungi Felipe dan membawa oleh-oleh dari ibu kota.

Pada tahun 1996, Agus kembali berada di Batalyon 303 Garut. Ia masih menjalin hubungan dengan Evi dan mulai mempersiapkan diri untuk melamarnya. Agus membeli cincin dan berbicara mengenai rencana tersebut. Pada saat yang sama, beberapa anak buahnya juga mengalami persoalan keluarga dan membutuhkan bantuan untuk biaya pengobatan anggota keluarga mereka.

Agus akhirnya menemui Evi dan melamarnya. Ia mengatakan bahwa dirinya baru diterima mengikuti pendidikan pasukan khusus. Evi bertanya apakah hal tersebut berarti Agus akan lebih sering pergi berperang. Agus menjawab bahwa ia akan tetap menjalankan tugas apabila memang diperintahkan, tetapi ia meminta Evi mengatakan jika ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

Evi mengatakan bahwa Agus sudah mengetahui pekerjaannya dan statusnya sebagai seorang prajurit. Ia meminta waktu untuk memikirkan lamaran tersebut. Agus tidak memaksanya dan memberikan kesempatan kepada Evi untuk menentukan pilihannya. Setelah beberapa waktu, Evi akhirnya menerima lamaran Agus.

Agus mengikuti pendidikan pasukan khusus. Latihan berlangsung dengan tuntutan fisik dan disiplin yang lebih tinggi dibandingkan pendidikan sebelumnya. Ia menjalani berbagai latihan bersama anggota pasukan lain dan akhirnya mengikuti upacara pembaretan. Dalam kesempatan tersebut, keluarga Evi datang menghadiri acara tersebut.

Ibu Evi akhirnya memberikan jawaban atas pembicaraan mengenai lamaran Agus. Ia mengatakan bahwa dirinya menerima Agus dan meminta Agus menjaga Evi. Ia juga meminta Agus menjaga dirinya sendiri. Agus menerima pesan tersebut dan berterima kasih kepada ibu Evi.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Agus memperoleh penghargaan bersama peletonnya. Ia mengetahui bahwa pencapaiannya telah melampaui apa yang pernah dicapai Dedy selama menjadi prajurit. Agus merasa bangga terhadap hasil tersebut, tetapi ia masih memikirkan pertanyaan mengenai alasan Dedy dahulu terus kembali ke medan perang. Pada periode tersebut, hubungannya dengan Evi terus berlanjut.

Pada tahun 1998, Agus berada di Pusat Pendidikan Pasukan Khusus Batujajar. Evi telah hamil dan Agus baru saja kembali dari tugas ketika perintah baru diberikan. Situasi di Timor Timur kembali memburuk dan kelompok Miro Freitas semakin agresif. Pasukan Agus mendapat tugas untuk menghadapi kelompok bersenjata sekaligus membantu menyelamatkan warga yang menjadi pengungsi.

Sebelum berangkat, para prajurit mendapat pengarahan mengenai kemungkinan buruk yang dapat terjadi selama operasi. Mereka diminta menuliskan barang-barang yang mereka miliki, keinginan, harapan, apa yang mereka tinggalkan, serta pesan kepada keluarga. Agus juga memikirkan Evi yang sedang mengandung anak mereka. Evi meminta Agus untuk tidak pergi, tetapi Agus mengatakan bahwa ia harus menjalankan tugas.

Evi mengatakan bahwa jika Agus pulang dalam keadaan kehilangan anggota tubuh, ia akan belajar mengendarai sepeda motor dan melakukan berbagai hal untuk membantu suaminya. Ia juga mengatakan bahwa dirinya hanya ingin Agus pulang. Agus menjawab bahwa pulang memang merupakan rencananya. Setelah itu Agus berangkat menuju wilayah operasi.

Di Timor Timur, kelompok Miro menangkap Felipe. Mereka menuduh Felipe membocorkan informasi kepada pihak Indonesia dan menyebutnya sebagai orang yang membantu musuh. Felipe ditanya mengenai asal-usulnya dan menjawab bahwa ia berasal dari Tutuleia. Miro mengetahui nama desa tersebut dan mengubah rencana serangannya.

Felipe tetap ditahan oleh kelompok Miro. Miro memerintahkan anak buahnya melakukan perubahan rencana sebelum menyerang wilayah lain. Felipe kemudian dibawa pergi oleh kelompok tersebut. Tutuleia menjadi salah satu sasaran yang berkaitan langsung dengan tindakan Miro terhadap Felipe.

Di wilayah operasi, banyak warga menjadi pengungsi setelah serangkaian serangan. Sebagian pengungsi bahkan mengira pasukan Indonesia merupakan pihak yang bertanggung jawab atas kehancuran rumah mereka karena kelompok bersenjata menggunakan atribut tertentu. Komando juga menerima laporan mengenai banyak mayat yang mengalami mutilasi. Pasukan harus menghadapi serangan sekaligus menjaga proses evakuasi dan memperhatikan kondisi politik serta pemberitaan internasional.

Sejumlah pos di wilayah timur juga menerima serangan secara bersamaan. Pasukan di beberapa lokasi meminta bantuan karena tidak mampu menahan tekanan kelompok lawan. Namun pasukan lain juga sedang menghadapi serangan sehingga tidak semuanya dapat mengirim bala bantuan. Komando akhirnya memerintahkan pasukan khusus Agus bergerak menangani salah satu wilayah yang paling membutuhkan bantuan.

Agus dan anak buahnya menyatakan siap menjadi pasukan terakhir yang meninggalkan wilayah operasi. Pasukan lain mulai diperintahkan mundur dan sebuah helikopter disiapkan untuk Agus beserta anak buahnya. Mereka bergerak menuju Tutuleia sambil tetap menjaga kesiapan tempur. Agus mengetahui bahwa desa tersebut adalah tempat tinggal Felipe.

Ketika memasuki wilayah Tutuleia, Agus menanyakan kembali nama desa tersebut. Salah seorang anggota pasukan menjawab bahwa tempat itu adalah Tutuleia. Agus mengatakan bahwa ia sebenarnya ingin mengunjungi rumah Felipe dalam keadaan berbeda dan bukan ketika desa tersebut sedang menjadi lokasi operasi. Pasukan kemudian bergerak lebih jauh ke dalam wilayah tersebut.

Begitu pasukan memasuki daerah pertempuran, mereka langsung mendapat tembakan dari berbagai arah. Agus memerintahkan anak buahnya mengambil posisi dan melakukan tembakan balasan. Mereka berusaha membuka jalur untuk bergerak sambil tetap menjaga para pengungsi. Kondisi semakin sulit karena kelompok Agus mulai dikepung.

Agus meminta laporan mengenai jumlah amunisi yang tersisa. Salah seorang prajurit mengatakan bahwa dirinya hanya memiliki sepuluh peluru lagi. Dari posisi lain dilaporkan bahwa pasukan dikepung dari semua arah dan tiga dari tujuh prajurit di satu posisi mengalami luka. Mereka juga sedang melindungi sepasang pengungsi yang berada bersama mereka.

Pasukan Agus masih memiliki banyak peluru mortir, tetapi pelontar mortir mereka rusak. Agus memerintahkan pergantian posisi agar mereka tidak bertahan di satu tempat terlalu lama. Para prajurit bergerak secara bergantian sambil memberikan tembakan perlindungan. Agus juga memerintahkan pemasangan claymore untuk menahan pergerakan kelompok lawan.

Claymore dipasang ketika pasukan mulai mundur dari posisi mereka. Agus memerintahkan anak buahnya bergerak secara bertahap dan tetap memberikan perlindungan kepada warga. Di tengah proses tersebut, seorang warga berteriak bahwa anaknya masih berada di dalam wilayah yang dikuasai musuh. Agus dan anak buahnya tetap bergerak sambil berusaha mempertahankan jalur evakuasi.

Pertempuran semakin dekat ketika kelompok Miro terus mengejar. Pasukan Agus menemukan sejumlah senjata dan amunisi yang dapat digunakan. Mereka tetap bergerak dari satu posisi ke posisi lain sambil membawa warga keluar dari daerah tersebut. Agus terus memberikan perintah agar anak buahnya tidak kehilangan formasi.

Miro akhirnya berhadapan langsung dengan Agus. Miro mengetahui bahwa Agus merupakan prajurit yang terlibat dalam rangkaian pertempuran tersebut dan kematian Abel masih menjadi persoalan baginya. Ia menyerang Agus dan mengatakan bahwa dirinya ingin melihat Agus menderita. Agus melawan Miro dalam pertarungan jarak dekat hingga akhirnya berhasil mengalahkannya.

Setelah Miro dikalahkan, pasukan Agus melanjutkan evakuasi. Mereka membawa para pengungsi keluar dari wilayah pertempuran dan membantu anggota pasukan yang terluka. Senjata dan amunisi yang ditemukan selama operasi juga dibawa atau diamankan. Pasukan akhirnya bergerak meninggalkan wilayah tersebut.

Setelah operasi, Agus menerima sebuah surat dari Evi. Evi menulis bahwa dirinya kesulitan menulis surat tersebut karena terus menangis. Ia memberitahukan bahwa anak mereka telah pergi sebelum sempat lahir dan mengatakan bahwa dirinya merasa sangat kehilangan ketika Agus tidak berada di rumah.

Evi juga mengatakan bahwa dirinya memahami Agus sedang bertempur di garis depan. Ia menulis bahwa dirinya tetap bangga kepada Agus dan meminta suaminya menjaga diri. Surat tersebut diakhiri dengan pesan cinta dan doa untuk Agus. Agus membaca surat tersebut setelah menerima kiriman dari rumah.

Agus kembali ke rumah setelah menyelesaikan tugas. Ia menemui Evi dan langsung memeluk istrinya. Evi menangis ketika berada dalam pelukan Agus. Keduanya tetap berpelukan setelah Agus kembali dari medan operasi.

Agus mengatakan bahwa Evi sekarang merasakan apa yang dahulu dirasakan ibunya. Ia mengingat keadaan ketika ibunya harus menunggu Dedy dan menghadapi kesepian di rumah. Agus meminta Evi untuk tetap bersamanya. Evi tetap berada di dekat Agus setelah kepulangan tersebut.

Agus kemudian berbicara mengenai Dedy. Ia mengatakan bahwa setelah mengikuti jejak ayahnya, dirinya sekarang dapat melihat kenyataan perang yang dahulu tidak ia pahami. Agus mengatakan bahwa Dedy sebenarnya tidak meninggalkan keluarganya untuk pergi berperang. Menurut perkataan Agus, Dedy pergi berperang untuk keluarganya.

Film kemudian menampilkan kembali kenangan Agus terhadap Dedy. Dedy terlihat bersama Agus ketika masih kecil dan mengatakan bahwa dirinya bangga kepada anaknya. Dedy kembali meminta Agus memotong rambutnya. Agus yang berada dalam kenangan tersebut mengatakan, “Terima kasih, Ayah.”

Setelah adegan tersebut, film menampilkan nama Dedy Unadi beserta keterangan bahwa ia merupakan veteran Operasi Timor Timur 1975. Tulisan penghormatan kepada Dedy kemudian muncul di layar. Film ditutup dengan tulisan mengenai prajurit dan keluarga yang ditinggalkan.

Suka dengan alur cerita ini?

Yuk traktir secangkir kopi untuk penulis agar makin semangat merangkum film lainnya!

Traktir Kopi

Diskusi

Komentar Pembaca (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Komentar akan ditinjau oleh admin sebelum ditampilkan.

Smart Related

Rekomendasi Serupa

Lihat genre Action