Sinopsis Decision to Leave (2022)

Seorang pria ditemukan tewas setelah jatuh dari puncak gunung di Korea Selatan. Namun, masih menjadi misteri apakah ia benar-benar bunuh diri atau justru didorong seseorang. Detektif Hae-joon ditugaskan untuk menyelidiki kasus tersebut dan mulai mencurigai Seo-rae, istri korban. Semakin dalam ia menggali, semakin banyak kebohongan yang terungkap, hingga Hae-joon sendiri terjebak dalam permainan penuh tipu daya, kecurigaan, dan hasrat.
Detail Film
Trailer
Full Sinopsis
Jang Hae-jun adalah seorang detektif di Busan yang dikenal sangat berdedikasi terhadap pekerjaannya. Ia juga mengalami insomnia parah karena pikirannya terus dihantui berbagai kasus yang pernah ia tangani. Hae-jun menikah dengan Jung-an, seorang perempuan yang bekerja di pembangkit listrik tenaga nuklir di Ipo. Karena pekerjaan mereka berada di kota yang berbeda, Hae-jun hanya bisa bertemu istrinya secara berkala, sementara sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bekerja dan menyelidiki kasus.
Suatu hari, Hae-jun dan rekannya, Soo-wan, menangani kematian seorang pria bernama Ki Do-soo. Ki adalah mantan petugas imigrasi yang telah pensiun dan dikenal memiliki hobi mendaki gunung. Tubuhnya ditemukan tergeletak di dasar tebing setelah jatuh dari sebuah puncak yang biasa ia datangi. Polisi harus menentukan apakah Ki jatuh karena kecelakaan, bunuh diri, atau sebenarnya didorong oleh seseorang.
Hae-jun mulai menyelidiki kehidupan pribadi korban. Perhatian mereka kemudian tertuju kepada istri Ki yang jauh lebih muda, Song Seo-rae, seorang imigran asal Tiongkok yang bekerja sebagai perawat atau pendamping lansia. Seo-rae tidak menunjukkan kesedihan seperti yang diharapkan polisi setelah kematian suaminya. Sikapnya yang tenang dan hampir tanpa emosi justru membuat Hae-jun semakin curiga.
Pemeriksaan terhadap tubuh Seo-rae juga menemukan beberapa hal mencurigakan. Terdapat goresan di tangannya serta memar di bagian kaki dan tubuhnya. Ia juga memiliki tato berisi inisial Ki, dengan gaya penandaan yang mirip dengan cara Ki memberi tanda pada barang-barang miliknya. Bagi Hae-jun, semua petunjuk tersebut menunjukkan kemungkinan bahwa hubungan mereka tidak sesederhana pasangan suami istri biasa.
Hae-jun kemudian mulai melakukan pengawasan terhadap Seo-rae. Setiap malam ia berdiri di sekitar apartemennya untuk mengamati rutinitas perempuan tersebut. Awalnya ia melakukan pengintaian sebagai bagian dari penyelidikan, tetapi perlahan batas antara tugas polisi dan ketertarikannya kepada Seo-rae mulai menghilang.
Dari tempatnya mengawasi, Hae-jun mulai memperhatikan kebiasaan Seo-rae secara sangat detail. Ia bahkan membayangkan dirinya berada di dalam apartemen perempuan itu, mengikuti aktivitasnya dari dekat. Karena insomnia membuatnya hampir selalu terjaga pada malam hari, pengawasan tersebut justru menjadi sesuatu yang membuatnya semakin terobsesi.
Seo-rae akhirnya menyadari bahwa dirinya sedang diawasi. Alih-alih merasa takut atau menjauh, ia justru mulai memperhatikan Hae-jun. Ia bahkan mengikuti Hae-jun ketika detektif tersebut melakukan penyelidikan terhadap kasus lain. Hubungan mereka mulai terbentuk melalui tindakan saling mengamati, sementara keduanya sama-sama sadar bahwa Hae-jun masih menyelidiki kemungkinan keterlibatan Seo-rae dalam kematian suaminya.
Seo-rae kemudian memberikan informasi mengenai pekerjaannya sebagai perawat lansia. Salah satu kliennya adalah seorang perempuan tua yang selalu ia kunjungi setiap hari Senin. Klien tersebut mengatakan bahwa Seo-rae memang berada bersamanya pada hari ketika Ki meninggal. Kesaksian itu menjadi alibi yang cukup kuat bagi Seo-rae, meskipun Hae-jun masih merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Ketika latar belakang Seo-rae diperiksa lebih jauh, ia mengungkap masa lalunya di Tiongkok. Ia mengakui bahwa dirinya pernah membunuh ibunya sendiri dengan menggunakan obat fentanyl. Namun tindakan itu bukan dilakukan karena kebencian. Ibunya sedang menderita penyakit terminal dan meminta Seo-rae mengakhiri penderitaannya.
Sebelum meninggal, sang ibu meminta Seo-rae pergi ke Korea. Ia mengatakan bahwa kakek Seo-rae, seorang pejuang kemerdekaan Korea yang pernah berjuang di Manchuria, meninggalkan sebuah gunung untuk keluarganya. Seo-rae akhirnya datang ke Korea dan menjalani hidup sebagai imigran, membawa masa lalu keluarganya sekaligus rahasia yang tidak pernah ia ceritakan kepada banyak orang.
Sementara itu, Hae-jun dan Soo-wan menemukan surat-surat yang ditulis Ki. Surat-surat tersebut mengungkap bahwa Ki pernah terlibat dalam praktik korupsi ketika masih menjadi petugas imigrasi. Mereka juga menemukan surat yang dikirim Ki kepada salah seorang bawahannya. Isi surat tersebut dapat ditafsirkan sebagai semacam surat perpisahan atau surat bunuh diri.
Bukti-bukti tersebut membuat Hae-jun mulai mengubah kesimpulannya. Ia akhirnya memutuskan bahwa kematian Ki kemungkinan besar memang merupakan bunuh diri. Meskipun Soo-wan masih memiliki keraguan, Hae-jun menghentikan penyelidikan terhadap Seo-rae dan memberitahunya bahwa ia tidak lagi dianggap sebagai tersangka.
Setelah Seo-rae dibebaskan dari kecurigaan, hubungan antara dirinya dan Hae-jun semakin dekat. Mereka pergi bersama ke sebuah kuil Buddha dan menghabiskan waktu berdua. Hae-jun juga mulai mengunjungi rumah Seo-rae, sementara Seo-rae datang ke rumah Hae-jun. Hubungan mereka perlahan berubah dari hubungan antara detektif dan tersangka menjadi hubungan emosional yang jauh lebih intim.
Namun Seo-rae sebenarnya masih menyimpan rahasia. Ketika berada di apartemen Hae-jun, ia melihat foto-foto bukti dari kasus Ki. Ia menyadari bahwa Hae-jun mengalami insomnia karena terus dihantui oleh kasus-kasus yang ia tangani. Seo-rae kemudian membakar foto-foto tersebut, seolah-olah ingin membebaskan Hae-jun dari sesuatu yang membuatnya tidak bisa tidur.
Pada suatu kesempatan, Seo-rae meminta Hae-jun menggantikannya mengunjungi klien lansia yang biasa ia rawat setiap hari Senin. Dari sinilah sebuah detail kecil akhirnya membuka kembali seluruh kasus Ki. Hae-jun menyadari bahwa Seo-rae dan kliennya menggunakan model ponsel yang sama.
Klien lansia tersebut mengalami demensia dan bahkan tidak mampu mengingat hari apa saat itu. Hae-jun kemudian melihat data pada ponsel milik perempuan tersebut. Ada sesuatu yang mustahil: pada hari ketika Ki meninggal, ponsel itu mencatat aktivitas fisik yang setara dengan menaiki sekitar 138 lantai tangga.
Hae-jun langsung menyadari kejanggalannya. Perempuan tua itu hampir selalu berada di rumah dan secara fisik tidak mungkin melakukan aktivitas sebanyak itu. Ia kemudian menyadari bahwa Seo-rae telah menukar ponselnya dengan ponsel sang klien pada hari kematian Ki.
Seo-rae ternyata memiliki rencana yang sangat rapi. Ia menggunakan ponsel milik kliennya untuk meninggalkan jejak palsu bahwa dirinya tetap berada di rumah lansia tersebut. Ia kemudian keluar melalui bagian belakang rumah untuk menghindari kamera pengawas, lalu mendaki gunung menuju tempat Ki berada.
Di atas gunung, Seo-rae menghadapi Ki dan akhirnya mendorongnya hingga jatuh dari tebing. Dengan cara tersebut, ia menciptakan kematian yang dapat terlihat seperti kecelakaan atau bunuh diri. Setelah itu, ia kembali ke rumah kliennya dan mengambil kembali ponselnya, seolah-olah tidak pernah meninggalkan tempat tersebut.
Hae-jun akhirnya menyadari bahwa surat yang dianggap sebagai surat bunuh diri juga telah dipalsukan atau direkayasa oleh Seo-rae. Ia memahami bahwa sejak awal perempuan tersebut telah menyusun alibi dan bukti untuk mengarahkan penyelidikan menjauh darinya.
Lebih menyakitkan lagi, Hae-jun menyadari bahwa kedekatan Seo-rae dengannya mungkin juga memiliki tujuan tertentu. Dengan mendekatinya, Seo-rae bisa mengetahui apa yang telah ditemukan polisi dan bahkan menghilangkan bukti yang dapat menghancurkan dirinya. Hae-jun merasa bahwa perempuan yang membuatnya jatuh cinta juga telah menghancurkan integritasnya sebagai seorang detektif.
Namun Hae-jun tidak menangkap Seo-rae. Ia justru mengakui bahwa sejak mengenalnya, sesuatu dalam dirinya telah hancur. Ia mengatakan bahwa Seo-rae telah menghancurkan kebanggaannya terhadap pekerjaannya. Hae-jun kemudian menyuruh Seo-rae membuang ponsel yang berisi bukti ke laut agar bukti tersebut tidak pernah ditemukan.
Tiga belas bulan kemudian, kehidupan Hae-jun berubah drastis. Ia pindah ke Ipo untuk tinggal bersama Jung-an. Namun setelah kasus Seo-rae, kondisi mentalnya semakin buruk. Insomnianya semakin parah dan ia mengalami depresi, seolah-olah kehilangan bagian dari dirinya setelah memilih melindungi perempuan yang sebenarnya telah melakukan pembunuhan.
Di sebuah pasar ikan, Hae-jun tiba-tiba bertemu Seo-rae. Perempuan tersebut sekarang telah menikah dengan pria bernama Im Ho-shin, seorang investor bisnis. Pertemuan itu membuat Hae-jun kembali berhadapan dengan perasaan yang selama ini berusaha ia kubur.
Tidak lama kemudian, Ho-shin ditemukan tewas di kolam renang rumahnya. Hae-jun kembali terlibat dalam penyelidikan. Ia langsung mencurigai Seo-rae, terutama karena kematian tersebut kembali memiliki pola yang membuatnya merasa bahwa perempuan itu mungkin terlibat.
Seo-rae tidak mengakui membunuh suaminya. Ia hanya mengatakan bahwa dirinya telah menguras kolam renang setelah Ho-shin ditemukan tewas. Alasannya sederhana: ia tidak ingin Hae-jun terganggu oleh darah yang memenuhi kolam tersebut. Jawaban yang tampak tenang itu justru membuat Hae-jun semakin yakin bahwa Seo-rae menyembunyikan sesuatu.
Kemudian muncul seorang imigran Tiongkok bernama Sa Cheol-seong. Ia mengaku sebagai pembunuh Ho-shin. Sa mengatakan bahwa Ho-shin telah menipu ibunya hingga kehilangan uang dalam jumlah besar. Karena itu ia membunuh Ho-shin sebagai bentuk balas dendam.
Sa juga mengungkap bahwa ia pernah memasang alat pelacak pada ponsel Seo-rae. Dengan alat tersebut, ia dapat mengetahui keberadaan Seo-rae dan melacak pergerakannya. Ia bersikeras bahwa Seo-rae tidak terlibat langsung dalam pembunuhan Ho-shin.
Namun Hae-jun menemukan fakta lain. Seo-rae ternyata mengunjungi ibu Sa di rumah sakit pada hari ketika perempuan tua itu meninggal. Hae-jun kemudian mengetahui bahwa Seo-rae masih memiliki sisa fentanyl yang pernah ia gunakan untuk mengakhiri hidup ibunya sendiri.
Hae-jun menyusun kembali seluruh kejadian. Sa sebelumnya mengancam akan membunuh Ho-shin segera setelah ibunya meninggal. Hae-jun kemudian menyimpulkan bahwa Seo-rae memberikan fentanyl terakhir kepada ibu Sa, menyebabkan perempuan itu meninggal lebih cepat. Dengan begitu, Sa akan melaksanakan ancamannya dan membunuh Ho-shin.
Seo-rae tidak perlu membunuh Ho-shin dengan tangannya sendiri. Ia hanya perlu mengatur keadaan agar orang lain melakukannya untuknya. Sekali lagi, Hae-jun melihat pola yang sama: Seo-rae memanipulasi keadaan sehingga kematian terjadi tanpa meninggalkan bukti langsung yang menghubungkannya dengan pembunuhan.
Hubungan Hae-jun dengan Seo-rae akhirnya mulai menghancurkan pernikahannya. Jung-an menyadari bahwa perasaan Hae-jun terhadap perempuan lain belum benar-benar hilang. Ia mencurigai adanya hubungan rahasia antara suaminya dan Seo-rae. Pernikahan mereka akhirnya runtuh dan Jung-an meninggalkan Hae-jun.
Hae-jun kemudian mendatangi gunung yang menjadi warisan kakek Seo-rae. Di tempat tersebut, ia kembali berhadapan dengannya. Hae-jun bahkan membawa abu anggota keluarga Seo-rae dan menyebarkannya di sekitar gunung tersebut. Pertemuan mereka berubah menjadi konfrontasi emosional yang jauh lebih dalam daripada sekadar penyelidikan polisi.
Seo-rae kemudian mengungkap bahwa Ho-shin telah menemukan sebuah rekaman di ponselnya. Rekaman tersebut berisi suara Hae-jun yang mengatakan bahwa ia mencintai Seo-rae. Ho-shin mengetahui hubungan tersembunyi mereka dan berniat menggunakannya untuk menghancurkan keduanya.
Hae-jun sendiri tidak mengingat pernah mengatakan hal tersebut. Seo-rae kemudian mengatakan sesuatu yang sangat penting: ia mulai mencintai Hae-jun tepat ketika Hae-jun berhenti mencintainya. Kalimat itu menggambarkan hubungan mereka yang selalu berada dalam keadaan tidak pernah benar-benar bertemu pada waktu yang tepat.
Seo-rae kemudian mendekati Hae-jun di tepi gunung. Ia memeluknya, dan keduanya akhirnya berciuman dengan penuh gairah. Untuk sesaat, penyelidikan, kebohongan, pernikahan, dan pembunuhan seolah-olah tidak lagi penting. Yang tersisa hanya dua orang yang sama-sama sadar bahwa hubungan mereka sejak awal tidak mungkin berakhir dengan baik.
Keesokan harinya, Hae-jun kembali menemukan ponsel yang berisi rekaman tersebut. Ia akhirnya mendengarkan isi rekaman itu sendiri. Namun rekaman tersebut ternyata tidak berisi pengakuan cinta sederhana seperti yang ia bayangkan.
Dalam rekaman itu, Hae-jun mengatakan kepada Seo-rae agar menghancurkan ponsel yang berisi bukti kasus Ki. Ia menyuruhnya membuangnya ke laut agar tidak ada orang yang dapat menemukannya. Dengan demikian, Hae-jun menyadari bahwa "aku mencintaimu" yang dimaksud Seo-rae sebenarnya berkaitan dengan keputusan Hae-jun untuk melindunginya dari konsekuensi kejahatannya.
Hae-jun akhirnya memahami bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang tidak bisa ia tarik kembali. Ia bukan lagi detektif yang hanya mengejar kebenaran. Demi Seo-rae, ia pernah memilih untuk menghancurkan bukti dan membiarkan seorang pembunuh bebas. Perasaan itulah yang membuatnya semakin hancur setelah kehilangan Seo-rae.
Dengan bantuan alat pelacak yang sebelumnya dipasang Sa pada ponsel Seo-rae, Hae-jun mengetahui bahwa perempuan tersebut sedang menuju sebuah pantai. Ia segera mengejarnya. Sementara itu, Seo-rae menghentikan mobilnya di dekat pantai dan membawa ponsel yang menyimpan rahasia terakhir mereka.
Seo-rae kemudian berjalan menuju pantai dan mulai menggali sebuah lubang di pasir. Ia tidak sedang membuat tempat untuk bersembunyi. Ia sedang menggali kuburannya sendiri. Ia masuk ke dalam lubang tersebut dan menunggu air laut naik perlahan.
Air pasang akhirnya menutupi lubang tersebut. Seo-rae membiarkan dirinya tenggelam dan terkubur oleh pasir serta air laut. Ia tidak meninggalkan pesan terakhir, tidak memberikan pengakuan, dan tidak meninggalkan bukti yang dapat menjelaskan semuanya kepada Hae-jun.
Keputusan tersebut membuat Seo-rae menghilang tanpa jejak. Ia memastikan bahwa kasus pembunuhan Ki dan keterlibatannya dalam kematian Ho-shin tidak pernah mendapatkan penyelesaian yang benar-benar lengkap. Bahkan bagi Hae-jun, perempuan yang paling ia cintai sekaligus paling menghancurkan hidupnya akhirnya berubah menjadi sebuah kasus yang tidak akan pernah bisa ia selesaikan.
Hae-jun akhirnya tiba di pantai. Ia menemukan mobil Seo-rae dan ponselnya, tetapi tidak menemukan perempuan tersebut. Ia terus mencari di sepanjang pantai, memanggil namanya dan berusaha menemukan jejaknya.
Yang tidak ia sadari adalah bahwa ia sebenarnya berdiri sangat dekat dengan tempat Seo-rae mengubur dirinya sendiri. Ia berada tepat di atas kuburan yang dibuat perempuan itu di dalam pasir, tetapi tidak mampu melihatnya.
Hae-jun terus mencari dengan putus asa sementara air laut bergerak naik dan turun di sekelilingnya. Ia akhirnya menyadari bahwa Seo-rae benar-benar telah menghilang. Hae-jun menangis dalam keputusasaan, bukan hanya karena kehilangan perempuan yang dicintainya, tetapi karena untuk pertama kalinya ia memiliki sebuah kasus yang tidak akan pernah bisa ia pecahkan.
Seo-rae berhasil melakukan apa yang sejak awal menjadi kekuatannya: menghilang ke dalam kehidupan Hae-jun tanpa pernah meninggalkan jawaban yang utuh. Ia membunuh, memanipulasi, mencintai, dan akhirnya menghapus dirinya sendiri dari dunia. Hae-jun ditinggalkan dengan satu-satunya hal yang paling ia benci sebagai seorang detektif—sebuah kasus tanpa jasad, tanpa bukti final, dan tanpa jawaban.
Tag Film
18 TagKomentar
Komentar Pembaca
Tulis Komentar
Belum ada komentar.
Smart Related
Rekomendasi Serupa
Genre Thriller
★ 6.8
Remember (2022)
Korea • Action
Genre Thriller
★ 7.2
Exhuma (2024)
Korea • Horror
Genre Thriller
★ 7.554
Unlocked (2023)
Korea • Mystery
Genre Thriller
★ 7.1
Colony (2026)
Korea • Action
Genre Thriller
★ 7
Salmokji: Whispering Water (2026)
Korea • Horror
Genre Thriller
★ 8.2
Oldboy (2003)
Korea • Thriller
Genre Thriller
★ 8.1
Memories of Murder (2003)
Korea • Crime
Genre Thriller
★ 7.1
Abigail (2024)
US • Comedy
Genre Thriller
★ 8.3
Kitab Sijjin & Illiyyin (2025)
Indonesia • Horror
Genre Thriller
★ 7.2
Pengepungan di Bukit Duri (The Siege at Thorn High) (2025)
Indonesia, US • Action
Genre Thriller
★ 7.1
Siksa Kubur (2024)
Indonesia • Drama
Genre Thriller
★ 7.5
No Time to Die (2021)
United Kingdom, US • Action