Lewati ke konten
Poster 1 Kakak 7 Ponakan

Sinopsis 1 Kakak 7 Ponakan (2025)

A Brother and 7 Siblings

Setelah kakak perempuan dan suaminya meninggal secara tragis, seorang arsitek muda yang sedang berjuang dalam hidup tiba-tiba harus menjadi orang tua tunggal bagi keponakan-keponakannya. Ketika kesempatan untuk meraih kehidupan yang lebih baik datang, ia dihadapkan pada pilihan sulit antara cinta, karier, atau keluarganya.

Detail Film
Original:
A Brother and 7 Siblings
Negara:
Director:
Rating:
8.4/10
Official Trailer 1 Kakak 7 Ponakan

Full Sinopsis

Hendarmoko atau Moko adalah mahasiswa arsitektur yang sedang menyelesaikan pendidikan dan mempersiapkan masa depannya sebagai arsitek. Ia memiliki hubungan dengan Maurin, dan keduanya mempunyai rencana untuk melanjutkan pendidikan serta membangun kehidupan bersama setelah Moko menyelesaikan kuliahnya. Di rumah tempat Moko tinggal, sudah ada kakaknya, Agnes, suaminya Atmo, anak-anak mereka Woko dan Nina, serta Ano yang merupakan keponakan Atmo dan tinggal bersama keluarga tersebut. Moko masih menjalani kehidupan sebagai mahasiswa dan belum mempunyai tanggung jawab untuk menghidupi seluruh anggota rumah.

Moko menghadiri sidang tugas akhirnya ketika keadaan keluarganya berubah secara mendadak. Atmo mengalami serangan jantung dan dibawa ke rumah sakit, sementara Agnes yang sedang hamil mengalami pecah ketuban. Atmo meninggal dunia sebelum kelahiran anaknya, sedangkan Agnes melahirkan bayi perempuan yang diberi nama Ima sebelum akhirnya meninggal dunia. Dalam waktu singkat, Woko, Nina, Ano, dan Ima kehilangan orang yang selama ini menjadi orang tua mereka, sementara Moko harus berhadapan dengan keadaan rumah yang berubah total.

Pada saat teman-teman Moko merayakan kelulusan, Moko justru berada di rumah sakit dengan Ima yang baru lahir. Ia menggendong bayi tersebut sambil menghadapi kenyataan bahwa bayi itu sudah tidak memiliki ayah dan ibunya. Rencana yang sebelumnya ia susun bersama Maurin untuk melanjutkan pendidikan dan membangun karier tidak lagi dapat dijalankan seperti semula. Moko memilih tetap berada di rumah dan mengurus anak-anak yang ditinggalkan Agnes dan Atmo.

Baca juga: Michael (2026)

Moko mulai menjalankan berbagai pekerjaan yang sebelumnya dilakukan orang tua di rumah tersebut. Ia harus menyiapkan susu formula untuk Ima, mengganti popok, menenangkan bayi ketika menangis, memasak, membereskan rumah, serta memastikan Woko, Nina, dan Ano tetap menjalani kegiatan mereka. Pekerjaan merawat Ima juga sering berlangsung ketika Moko sedang mengerjakan tugas arsitektur, sehingga ia harus berpindah dari komputer ke bayi yang menangis dan kembali lagi ke pekerjaannya. Dalam keadaan keuangan yang terbatas, kebutuhan sehari-hari seperti susu, makanan, sekolah, dan berbagai keperluan rumah harus dihitung dengan cermat.

Moko sempat mendapatkan pekerjaan sebagai arsitek. Namun pekerjaan tersebut tidak berjalan lama karena tanggung jawabnya terhadap Ima membuatnya kesulitan mengatur waktu. Ketika ia harus menemui klien, persoalan mengurus bayi membuatnya terlambat sehingga pekerjaannya terganggu. Moko akhirnya kehilangan pekerjaan tersebut dan kembali mencari cara lain untuk mendapatkan penghasilan sambil tetap tinggal bersama anak-anak.

Hubungan Moko dengan Maurin juga mulai terganggu oleh perubahan keadaan tersebut. Moko melihat bahwa kehidupannya sekarang berbeda jauh dari rencana yang sebelumnya mereka buat bersama. Ia akhirnya memutuskan hubungan dengan Maurin karena merasa dirinya tidak mampu memberikan kehidupan yang sebelumnya mereka rencanakan. Maurin tidak langsung menerima keputusan itu sebagai sesuatu yang sederhana, tetapi Moko tetap memilih menjauh sambil melanjutkan kehidupannya bersama anak-anak.

Di tengah keadaan tersebut, Nanang, mantan guru piano Moko, meminta bantuan untuk menjaga anak perempuannya, Gadis atau Ais. Nanang meninggalkan Ais kepada Moko karena sedang berusaha mencari pekerjaan, dan Moko menerima Ais untuk tinggal di rumahnya. Ais bukan anak Moko dan bukan keponakan biologisnya, tetapi Moko memperlakukannya seperti anak-anak lain yang tinggal di rumah tersebut. Kehadiran Ais membuat rumah yang sudah penuh dengan Woko, Nina, Ano, dan Ima menjadi semakin padat.

Ais berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan di rumah Moko. Ia ikut membantu pekerjaan rumah dan hidup bersama Woko, Nina, Ano, serta Ima. Namun Ais juga mengetahui bahwa dirinya berbeda dari anak-anak lain karena tidak mempunyai hubungan keluarga langsung dengan Moko. Perasaan bahwa dirinya hanya menumpang di rumah tersebut semakin kuat ketika persoalan biaya dan jumlah orang yang harus ditanggung mulai dibicarakan.

Sementara itu, Moko tetap berusaha mencari pekerjaan yang lebih stabil. Ia mendapatkan kesempatan untuk mengerjakan proyek arsitektur dan harus menyelesaikan pekerjaan menggunakan laptop yang sudah tua. Kondisi laptop tersebut sering bermasalah dan melakukan restart ketika digunakan untuk pekerjaan berat. Moko tetap memaksakan diri menyelesaikan proyek karena pekerjaan itu dapat menjadi jalan untuk mendapatkan penghasilan tetap.

Masalah lain muncul ketika Ano mengalami sakit perut. Moko membawa Ano ke rumah sakit dan diketahui bahwa Ano mengalami radang usus sehingga membutuhkan perawatan. BPJS Ano bermasalah sehingga Moko harus mengeluarkan uang sendiri untuk membayar kebutuhan pengobatan. Uang yang sebelumnya disiapkan Moko untuk membeli laptop akhirnya digunakan untuk membayar biaya pengobatan Ano.

Setelah pulang dari rumah sakit, Moko kembali menghadapi laptop lamanya yang terus bermasalah. Ia masih harus menyelesaikan pekerjaan arsitektur sementara kebutuhan di rumah terus berjalan. Woko, Nina, dan anak-anak lainnya berusaha membantu Moko dengan pekerjaan kecil di rumah serta memberikan dukungan ketika ia bekerja. Pada saat Moko semakin kesulitan, Maurin datang membawa makanan dan laptop yang dapat digunakan Moko untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Maurin membantu Moko mengerjakan proyek tersebut dan ikut berada di rumah bersama anak-anak. Moko kembali mengalami situasi seperti ketika mereka dahulu mengerjakan tugas kuliah bersama sampai larut malam. Setelah proyek selesai, Moko mengikuti proses presentasi dan akhirnya diterima sebagai junior arsitek di biro tempat Maurin bekerja. Ia pulang membawa makanan untuk merayakan keberhasilannya bersama anak-anak.

Ketika Moko sampai di rumah, ia mendapati Osa, kakaknya, sudah kembali dari Australia bersama suaminya, Eka. Sebelumnya Osa memang pernah berkomunikasi dengan Moko mengenai keinginannya untuk pulang, tetapi kepulangan mereka tertunda karena pekerjaan Eka. Moko sempat mengira kehadiran Osa akan membuat keadaan rumah lebih ringan karena kini ada anggota keluarga dewasa lain yang dapat membantu. Namun setelah tinggal bersama, Eka justru mulai ikut menentukan berbagai hal di rumah.

Eka menanyakan penghasilan Moko dan memberikan komentar mengenai pekerjaan serta penghasilannya. Ia menganggap Moko terlalu banyak menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengurus anak-anak yang tinggal di rumah. Eka juga mempertanyakan keberadaan Ais karena Ais bukan anak Moko dan bukan bagian langsung dari keluarga mereka. Ia mempertanyakan mengapa uang Moko digunakan untuk mengurus anak yang menurutnya seharusnya menjadi tanggung jawab keluarganya sendiri.

Eka juga mempermasalahkan Ano karena Ano sebenarnya merupakan keponakan Atmo, bukan keponakan kandung Moko. Woko dan Nina juga menjadi sasaran komentar Eka mengenai pendidikan dan masa depan mereka. Cara Eka berbicara membuat Moko tidak nyaman karena Moko selama ini tetap berusaha memenuhi kebutuhan anak-anak tanpa membedakan apakah mereka mempunyai hubungan darah langsung dengannya atau tidak. Sementara itu, Osa berada dalam posisi sulit karena harus menghadapi suaminya sekaligus tinggal bersama Moko dan anak-anak.

Moko mendapat proyek baru yang mengharuskannya bekerja di Anyer. Proyek tersebut membuat Moko harus tinggal jauh dari rumah untuk sementara waktu. Sebelum berangkat, Moko mendapat keyakinan bahwa Osa dan Eka akan berada di rumah untuk membantu menjaga anak-anak. Moko berangkat ke Anyer dengan harapan pekerjaan tersebut dapat memberinya penghasilan yang lebih stabil.

Moko bersama timnya mulai mengerjakan proyek resort di Anyer. Ia harus memusatkan perhatian pada pekerjaan, sementara kebutuhan rumah tetap berjalan di Jakarta. Eka mulai sering menelepon Moko dan meminta tambahan uang untuk berbagai kebutuhan. Moko terus mengirimkan uang karena mengira uang tersebut digunakan untuk kebutuhan rumah dan anak-anak.

Pada saat yang sama, Eka semakin sering membicarakan Ais. Menurut Eka, Ais seharusnya dikembalikan kepada keluarganya sendiri karena bukan anak Moko. Ia kemudian menghubungi Erna, kerabat keluarga Ais yang ditemui dalam rangkaian perjalanan mereka, dan membicarakan kemungkinan agar Ais tinggal bersama keluarga tersebut. Ais mengetahui bahwa keberadaannya sedang dipersoalkan dan mulai merasa bahwa dirinya benar-benar menjadi orang luar di rumah Moko.

Moko dan keluarganya sempat pergi bersama ke Anyer. Dalam perjalanan tersebut, Ais bertemu dengan Erna yang merupakan kerabat keluarganya. Erna menjelaskan bahwa keluarga mereka bersedia merawat Ais. Percakapan tersebut membuat persoalan mengenai tempat tinggal Ais semakin nyata, sementara Ais sendiri masih ingin tetap bersama Moko dan anak-anak yang selama ini sudah menjadi lingkungan hidupnya.

Baca juga: Parasite (2019)

Akhirnya Ais tidak kembali ke rumah Moko bersama yang lainnya. Ia tinggal bersama keluarga Erna. Ketika harus berpisah, Ais menangis dan melambaikan tangan kepada Moko serta anak-anak lainnya dari dalam kendaraan. Moko juga merasa berat meninggalkan Ais, tetapi persoalan tersebut sudah terlanjur diputuskan ketika dirinya sedang bekerja jauh dari rumah.

Setelah kembali bekerja di Anyer, Moko semakin sering menerima telepon dari Eka. Permintaan uang terus muncul, sementara Moko sendiri harus membiayai kebutuhan pekerjaannya dan kehidupan sehari-harinya di luar kota. Maurin mengetahui keadaan tersebut dan mempertanyakan mengapa Moko terus memberikan uang kepada Eka. Moko tetap mengirimkannya karena mengira uang itu diperlukan untuk kebutuhan keluarga di rumah.

Di Jakarta, keadaan anak-anak justru semakin berubah. Eka menyuruh Woko, Nina, dan Ano bekerja ketika Moko tidak berada di rumah. Woko bekerja sebagai tukang fotokopi, Nina bekerja sebagai pramusaji, sedangkan Ano bekerja sebagai kuli bangunan. Mereka melakukan pekerjaan tersebut tanpa memberitahu Moko secara langsung karena Moko selalu mengatakan bahwa mereka harus fokus pada kehidupan dan pendidikan masing-masing.

Moko semakin sulit menghubungi anak-anak di rumah. Telepon yang ia lakukan tidak mendapatkan jawaban seperti biasanya. Sementara itu, di tempat kerja, proyek resort yang ia kerjakan sudah memasuki tahap presentasi. Moko mempunyai pandangan mengenai rancangan proyek tersebut yang berbeda dengan pemilik resort sehingga terjadi perbedaan pendapat dalam rapat.

Moko akhirnya ditegur dan dikeluarkan dari rapat setelah mempertahankan pandangannya mengenai proyek tersebut. Keadaan itu membuatnya semakin memikirkan keadaan rumah. Ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta karena tidak lagi merasa tenang meninggalkan keluarganya dalam keadaan yang tidak jelas.

Sebelum pulang, Moko mencari Ais di tempat tinggal barunya. Ais menceritakan keadaan yang terjadi setelah Moko pergi. Dari Ais, Moko mengetahui bahwa Woko, Nina, dan Ano ternyata sudah bekerja. Moko terkejut karena ia tidak pernah meminta mereka mencari uang dan selama ini berusaha bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Moko mendatangi tempat kerja Ano dan menemukan Ano sedang bekerja sebagai kuli bangunan. Setelah itu ia mencari Woko dan mendapati keponakan tertuanya tersebut bekerja sebagai tukang fotokopi. Nina juga bekerja sebagai pramusaji. Moko mendatangi mereka satu per satu dan meminta mereka berhenti bekerja untuk kembali ke rumah.

Ketika Moko sampai di rumah, ia mengetahui bahwa Eka sudah tidak berada di sana. Osa menjelaskan bahwa Eka telah pergi dan uang yang selama ini dikirim Moko ternyata digunakan untuk investasi yang bermasalah. Eka meninggalkan Osa setelah uang tersebut habis, sementara Osa sendiri harus menghadapi akibat dari keputusan suaminya. Moko juga mengetahui bahwa selama dirinya bekerja di Anyer, anak-anak justru dipaksa menghadapi keadaan ekonomi rumah dengan cara mereka sendiri.

Moko mengumpulkan Woko, Nina, Ano, dan anggota keluarga lainnya di ruang tengah. Ia marah karena mereka bekerja tanpa sepengetahuannya. Moko mengatakan bahwa ia tidak ingin mereka mencari uang karena sejak awal ia sudah mengambil tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan rumah setelah Agnes dan Atmo meninggal. Ia merasa tugas tersebut adalah amanah yang harus ia jalankan dan tidak ingin anak-anak ikut menanggung persoalan yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang dewasa.

Woko membantah Moko dan mengatakan bahwa Moko juga memiliki kehidupan sendiri. Ia tidak ingin Moko terus bekerja dan menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk membiayai mereka. Woko menjelaskan bahwa keputusannya bekerja bukan karena ia menganggap dirinya harus menggantikan Moko, tetapi karena ia melihat Moko sudah terlalu lama menanggung semuanya seorang diri. Nina dan Ano juga menyampaikan bahwa mereka tidak ingin hanya menerima uang dari Moko tanpa ikut melakukan sesuatu untuk keluarga.

Ano mengingat kembali biaya pengobatannya ketika ia sakit. Moko telah menggunakan uang yang seharusnya dipakai membeli laptop untuk membayar pengobatan Ano. Setelah melihat Moko kehilangan kesempatan membeli laptop dan tetap bekerja dengan perangkat yang bermasalah, Ano tidak ingin kembali membuat Moko mengeluarkan seluruh uangnya untuk kebutuhan dirinya. Karena itu ia memilih bekerja meskipun Moko sebelumnya tidak pernah memintanya melakukan hal tersebut.

Woko juga menjelaskan bahwa dirinya mempunyai rencana untuk kuliah di jurusan hukum. Namun keadaan keluarga membuat rencana tersebut berubah dan ia memilih pekerjaan yang dapat memberinya penghasilan sekaligus waktu yang lebih fleksibel. Nina juga tetap bekerja karena tidak ingin Moko terus mengeluarkan uang untuk semua kebutuhan rumah. Mereka masing-masing mempunyai alasan sendiri untuk membantu kehidupan keluarga.

Ais juga menjadi bagian dari pembicaraan tersebut. Ia selama ini hidup bersama keluarga Moko meskipun bukan anak atau keponakan biologisnya. Ketika dirinya dipindahkan ke rumah Erna, Ais merasa bahwa keberadaannya memang menjadi persoalan bagi keluarga Moko. Moko tidak memperlakukan Ais sebagai orang asing dan tetap memasukkannya dalam keluarga yang selama ini ia urus.

Osa juga menghadapi akibat dari keputusan Eka. Selama berada di rumah, Eka lebih banyak menentukan keputusan dan menggunakan uang yang diberikan Moko. Ketika investasi yang diikutinya bermasalah dan ia pergi, Osa harus menghadapi keadaan tersebut tanpa suaminya. Osa akhirnya meminta maaf kepada Moko atas apa yang dilakukan Eka.

Maurin kemudian berbicara dengan Moko. Ia tidak mengatakan bahwa anak-anak tersebut merupakan beban Moko, tetapi juga tidak setuju dengan keinginan Moko untuk menanggung semuanya sendirian. Maurin mengatakan bahwa ia tidak pernah benar-benar berhenti memperjuangkan kemungkinan untuk hidup bersama Moko. Ia meminta Moko mempertimbangkan bahwa keluarga dapat bekerja dan menghadapi kebutuhan mereka bersama-sama, bukan menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada satu orang.

Moko mendengarkan Woko, Nina, Ano, Ais, Osa, dan Maurin. Anak-anak tetap menyatakan bahwa mereka ingin ikut membantu keluarga dan tidak ingin Moko bekerja sendirian untuk memenuhi seluruh kebutuhan mereka. Moko akhirnya menangis dan memeluk mereka. Anggota keluarga lainnya ikut mendekat sehingga mereka berkumpul dan saling berpelukan.

Setelah rangkaian konflik tersebut, kehidupan keluarga kembali berlangsung di rumah yang sama. Moko kembali berada bersama anak-anak, sementara Osa juga semakin dekat dengan mereka. Aktivitas rumah tangga kembali dilakukan bersama, termasuk memasak, merawat Ima, dan mengurus kebutuhan sehari-hari. Rumah yang sebelumnya dipenuhi pertengkaran kembali menjadi tempat mereka berkumpul.

Baca juga: Jumbo (2025)

Moko mengingat kembali masa ketika ia pertama kali tinggal di rumah Agnes dan Atmo. Ia mengingat bagaimana kakaknya dan Atmo dahulu menyediakan tempat baginya ketika ia masih kuliah dan bagaimana rumah tersebut menjadi tempat mereka hidup bersama. Tugas akhir arsitektur yang pernah ia kerjakan juga berkaitan dengan rancangan rumah untuk keluarga besar yang dapat menjadi tempat semua anggota keluarga tinggal bersama. Kenangan tersebut hadir ketika kehidupan keluarga mereka kembali berjalan.

Pada bagian akhir, Moko berada bersama keluarga di rumah. Woko, Nina, Ano, Ais, Ima, Osa, dan anggota keluarga lainnya berkumpul dalam suasana rumah tangga sehari-hari. Mereka makan bersama di meja makan dan tertawa. Moko berada di tengah mereka ketika keluarga tersebut kembali menjalani kehidupan bersama.

Suka dengan alur cerita ini?

Yuk traktir secangkir kopi untuk penulis agar makin semangat merangkum film lainnya!

Traktir Kopi

Diskusi

Komentar Pembaca (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Komentar akan ditinjau oleh admin sebelum ditampilkan.

Smart Related

Rekomendasi Serupa

Lihat genre Drama