Lewati ke konten

Sinopsis Silmido (2003)

Poster Silmido

Pada 31 Januari 1968, 31 komando Korea Utara menyusup ke Korea Selatan dalam misi untuk membunuh Presiden Park Chung-hee, tetapi usaha tersebut gagal. Sebagai balasan, militer Korea Selatan membentuk tim yang terdiri dari 31 narapidana dan penjahat untuk menjalankan misi rahasia membunuh Kim Il-sung. Mereka dilatih keras di Pulau Silmido untuk menjalankan misi bunuh diri demi menebus kehormatan negara. Namun, ketika misi tersebut tiba-tiba dibatalkan, para anggota tim yang merasa dikhianati mulai memberontak.

Detail Film
Original:
실미도
Negara:
Director:
Rating:
7.1/10
Share

Trailer

Full Sinopsis

Pada Januari 1968, 31 anggota pasukan khusus Korea Utara dari Unit 124 menyusup ke Korea Selatan. Mereka membawa misi untuk menyerang Blue House dan membunuh Presiden Park Chung-hee. Pasukan tersebut berhasil mencapai wilayah Seoul, tetapi gagal menyelesaikan misi dan akhirnya sebagian besar anggotanya tewas atau tertangkap.

Kegagalan tersebut membuat pemerintah Korea Selatan merencanakan operasi balasan. Mereka memutuskan membentuk sebuah unit khusus yang akan dikirim ke Korea Utara dengan misi membunuh Kim Il-sung. Untuk menjalankan rencana tersebut, pemerintah memilih 31 orang yang berasal dari kalangan kriminal dan orang-orang yang dianggap tidak memiliki tempat dalam masyarakat.

Salah satu orang yang direkrut adalah Kang In-chan. Ia memiliki latar belakang keluarga yang membuatnya terkena sistem 연좌제, sehingga kehidupannya di Korea Selatan sangat sulit. In-chan kemudian terlibat dalam tindak kriminal dan akhirnya ditangkap karena percobaan pembunuhan.

Ketika In-chan berada dalam tahanan dan menghadapi hukuman berat, seorang perwira militer mendatanginya. Perwira tersebut menawarkan kesempatan untuk melakukan sebuah tugas bagi negara. In-chan diberi tahu bahwa jika ia bersedia menjalankan misi tersebut, hidupnya dapat berubah dan ia mempunyai kesempatan untuk menebus masa lalunya.

In-chan kemudian dibawa keluar dari tempat ia ditahan. Ia mengira dirinya akan dibawa menuju tempat eksekusi, tetapi ternyata ia dibawa ke sebuah lokasi terpencil. Di sana ia bertemu dengan orang-orang lain yang juga telah direkrut dengan cara serupa.

Mereka berjumlah 31 orang. Sebagian besar memiliki latar belakang kriminal dan masalah dengan hukum. Mereka tidak diberi penjelasan panjang mengenai alasan pemilihan mereka dan segera dibawa menuju Pulau Silmido.

Setelah tiba di Silmido, kepala mereka dicukur dan mereka diperlakukan sebagai anggota sebuah unit militer. Mereka kemudian mengetahui nama unit tersebut, yaitu Unit 684. Mereka juga diberi tahu bahwa tugas utama mereka adalah menyusup ke Pyongyang dan membunuh Kim Il-sung.

Para anggota Unit 684 tidak memiliki pangkat militer seperti tentara biasa. Mereka juga tidak langsung mendapatkan status resmi sebagai bagian dari kesatuan militer. Mereka hanya mengetahui bahwa keberhasilan misi akan memberikan kesempatan untuk kembali ke masyarakat dan memperoleh kehidupan baru.

Para pelatih menjelaskan bahwa mereka harus mampu melakukan infiltrasi ke Korea Utara, mencapai lokasi target, membunuh Kim Il-sung, lalu kembali hidup-hidup. Mereka diberitahu bahwa kegagalan bukan pilihan. Jika mereka tertangkap musuh, mereka harus melakukan bunuh diri agar rahasia operasi tidak terbongkar.

Latihan kemudian dimulai. Para anggota Unit 684 dipaksa berlari, memanjat, berenang, menyelam, menembak, bertarung, dan membawa beban berat dalam berbagai kondisi. Mereka dilatih untuk bertahan dalam cuaca buruk dan medan yang sulit.

Para pelatih menggunakan hukuman fisik untuk memaksa mereka terus berlatih. Mereka dipukuli ketika gagal menyelesaikan latihan dan dipaksa mengulangi latihan sampai berhasil. Para anggota unit juga harus mengikuti latihan yang dirancang untuk membuat mereka mampu bergerak dalam keadaan kelelahan.

Salah satu bentuk latihan mengharuskan mereka memanjat struktur tali dari ketinggian. Dalam sebuah latihan, seorang anggota kehilangan keseimbangan dan jatuh. Ia kemudian meninggal akibat cedera yang dialaminya.

Kematian tersebut tidak membuat latihan dihentikan. Para pelatih justru memerintahkan anggota lainnya untuk terus bergerak. Mereka diberitahu bahwa jika mereka ingin kembali dari Korea Utara dalam keadaan hidup, mereka harus menjadi lebih kuat daripada sebelumnya.

Latihan juga mencakup cara menghadapi kemungkinan tertangkap. Para anggota diajarkan berbagai metode bunuh diri menggunakan alat yang tersedia bagi mereka. Mereka diberi tahu bahwa jika tertangkap dan gagal melakukan bunuh diri, mereka dapat mengalami penyiksaan dan membahayakan seluruh unit.

Selama berada di Silmido, hubungan antara para anggota Unit 684 dan para pelatih berkembang secara perlahan. Pada awalnya para pelatih hanya melihat mereka sebagai orang-orang yang harus dilatih dan dikendalikan. Namun setelah berbulan-bulan bersama, sebagian pelatih mulai mengetahui kehidupan pribadi dan karakter masing-masing anggota.

Perwira yang bertanggung jawab atas latihan adalah Choi Jae-hyun. Ia merupakan orang yang berusaha menjaga disiplin unit sekaligus mengawasi para pelatih. Di bawahnya terdapat para sersan yang bertanggung jawab langsung terhadap latihan dan penjagaan para anggota Unit 684.

Salah satu pelatih yang paling keras adalah Sersan Jo. Ia tidak ragu menggunakan kekerasan untuk memaksa para anggota mengikuti perintah. Setiap kali ada anggota yang gagal atau membangkang, Jo memberikan hukuman fisik.

Di antara para anggota Unit 684, In-chan secara perlahan menjadi salah satu orang yang paling menonjol. Ia memiliki sifat keras dan sering menunjukkan perlawanan ketika diperlakukan tidak adil. Hubungannya dengan para pelatih beberapa kali berada dalam keadaan tegang.

Meskipun demikian, In-chan dan anggota lainnya mulai membangun hubungan sebagai satu kelompok. Mereka makan bersama, menjalani latihan bersama, dan saling membantu ketika seseorang mengalami kesulitan. Mereka juga mulai percaya bahwa setelah misi selesai, mereka benar-benar akan mendapatkan kehidupan baru.

Para pelatih terus meyakinkan mereka bahwa keberhasilan operasi akan membawa mereka pulang sebagai pahlawan. Mereka diberi gambaran bahwa misi tersebut merupakan bagian dari sejarah Korea dan bahwa nama Unit 684 akan dikenang setelah Korea bersatu.

Setelah menjalani latihan dalam waktu yang panjang, Unit 684 akhirnya dianggap siap. Para anggota diberi perlengkapan untuk menjalankan operasi. Mereka diberi pengarahan mengenai target dan jalur yang harus ditempuh.

Mereka kemudian dibawa ke laut untuk memulai perjalanan menuju Korea Utara. Para anggota percaya bahwa inilah saat yang selama ini mereka tunggu. Setelah berbulan-bulan mengalami latihan dan hukuman, mereka akhirnya akan menjalankan misi yang dijanjikan kepada mereka.

Sebelum berangkat, suasana di antara mereka bercampur antara ketegangan dan kegembiraan. Para pelatih juga memberikan semangat kepada mereka. Mereka diberitahu bahwa keberhasilan misi akan menjadi awal dari kehidupan baru.

Namun ketika mereka sudah dalam perjalanan, sebuah perintah datang dari pihak atas. Operasi tersebut dibatalkan. Unit 684 diperintahkan untuk kembali ke Silmido.

Para anggota tidak memahami alasan pembatalan tersebut. Mereka telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mempersiapkan diri dan sekarang tiba-tiba diperintahkan kembali. Beberapa dari mereka marah dan merasa bahwa seluruh pengorbanan mereka tidak dihargai.

Mereka akhirnya kembali ke Silmido. Para anggota menunggu penjelasan dari para pelatih, tetapi situasinya tidak segera berubah. Mereka masih harus tinggal di pulau tersebut tanpa mengetahui kapan mereka akan menjalankan misi.

Perubahan hubungan politik antara Korea Utara dan Korea Selatan menjadi alasan utama pembatalan. Pemerintah mulai mempertimbangkan kemungkinan memperbaiki hubungan dengan Korea Utara dan tidak ingin operasi pembunuhan terhadap Kim Il-sung mengganggu proses tersebut.

Bagi pemerintah, keberadaan Unit 684 kemudian berubah menjadi masalah. Jika unit tersebut dikirim ke Korea Utara, keberadaan operasi rahasia dapat terbongkar. Namun jika mereka dibiarkan hidup dan kembali ke masyarakat, mereka dapat mengungkapkan keberadaan operasi tersebut.

Para anggota Unit 684 tidak mengetahui perubahan keputusan tersebut secara keseluruhan. Mereka hanya mengetahui bahwa misi mereka dibatalkan. Mereka tetap berada di pulau dan terus menjalani kehidupan sebagai pasukan yang tidak mempunyai tujuan.

Kondisi para anggota semakin tidak stabil. Mereka merasa telah dikorbankan setelah menjalani latihan yang sangat berat. Sebagian mulai mempertanyakan apakah mereka benar-benar akan dibebaskan seperti yang pernah dijanjikan.

Tidak lama kemudian, dua anggota Unit 684 melarikan diri dari barak. Mereka kemudian menyerang dan memperkosa seorang dokter perempuan yang berada di pulau tersebut. Setelah kejadian itu diketahui, keduanya menyadari bahwa hukuman yang menunggu mereka kemungkinan sangat berat.

Kedua orang tersebut kemudian berusaha mengakhiri hidup mereka. Salah satu membunuh rekannya atas permintaan rekannya sendiri. Ia kemudian mencoba melakukan bunuh diri, tetapi berhasil ditangkap sebelum sempat melakukannya.

Pria tersebut dibawa kembali ke kamp. Ia kemudian diikat dan dipaksa menyaksikan anggota Unit 684 lainnya dihukum. Para anggota unit dipukuli oleh para penjaga karena tindakan kedua orang tersebut dianggap telah mempermalukan seluruh unit.

Baca juga: Colony (2026)

Hukuman tersebut membuat keadaan semakin tegang. Salah satu anggota Unit 684 yang sedang dipukuli berhasil merebut tongkat dari tangan penjaga. Ia kemudian menggunakan tongkat tersebut untuk membunuh anggota unit yang telah ditangkap tadi.

Kejadian tersebut membuat para pelatih semakin khawatir. Para anggota Unit 684 sudah berada dalam kondisi penuh kemarahan dan frustrasi. Hubungan antara mereka dan para penjaga semakin dekat dengan titik ledakan.

Pada saat yang sama, pejabat pemerintah mulai membicarakan nasib Unit 684. Mereka mempertimbangkan kemungkinan menggunakan unit tersebut untuk tujuan lain. Ada usulan agar mereka dikirim ke Vietnam atau digunakan dalam operasi militer lainnya.

Namun usulan tersebut juga dianggap berbahaya. Jika Unit 684 meninggalkan Silmido, keberadaan mereka dapat diketahui oleh pihak luar. Orang-orang tersebut juga dapat menceritakan bahwa pemerintah Korea Selatan telah membentuk pasukan untuk membunuh pemimpin Korea Utara.

Pihak intelijen kemudian mengambil keputusan lain. Mereka memerintahkan agar Unit 684 dihapus sepenuhnya. Para anggota unit harus dibunuh sehingga keberadaan operasi tersebut tidak pernah diketahui masyarakat.

Choi Jae-hyun menolak menerima keputusan tersebut begitu saja. Ia mengetahui bahwa para anggota Unit 684 telah menjalani latihan selama bertahun-tahun dan percaya bahwa mereka telah dijanjikan sesuatu setelah menyelesaikan misi. Ia juga mengetahui bahwa para pelatih dan tentara yang berada di Silmido dapat ikut menjadi korban jika operasi penghapusan tersebut dilakukan.

Atasan Choi mengatakan bahwa keputusan tersebut berasal dari pemerintah. Jika Choi dan anak buahnya menolak menjalankan perintah, mereka juga akan dianggap sebagai bagian dari masalah. Mereka diberi waktu sebelum pasukan lain datang ke Silmido untuk menghabisi Unit 684.

Choi kemudian berada dalam posisi yang sulit. Ia tidak dapat secara terbuka memberi tahu Unit 684 bahwa mereka akan dibunuh. Namun ia juga tidak ingin membiarkan para anggota unit tersebut mati tanpa mengetahui alasan sebenarnya.

Akhirnya Choi secara sengaja membocorkan informasi tersebut kepada salah satu anggota Unit 684. Informasi itu kemudian menyebar di antara anggota lainnya. Mereka menyadari bahwa mereka bukan lagi pasukan yang sedang menunggu misi, tetapi justru menjadi target yang akan dihabisi.

Salah satu anggota Unit 684 bertanya kepada penjaga mengenai nasib mereka. Penjaga tersebut akhirnya mengatakan bahwa Unit 684 secara hukum bahkan tidak benar-benar ada. Mereka tidak akan mendapatkan pengakuan resmi jika berhasil menjalankan misi dan tidak akan mendapatkan kehidupan baru seperti yang pernah dijanjikan.

Pengakuan tersebut membuat para anggota semakin marah. Selama ini mereka percaya bahwa mereka sedang mempertaruhkan hidup demi negara dan akan mendapatkan kebebasan setelah misi selesai. Sekarang mereka mengetahui bahwa negara justru bermaksud menghapus mereka agar keberadaan operasi tetap menjadi rahasia.

Mereka kemudian mulai merencanakan pemberontakan. Mereka mengetahui jadwal para penjaga, posisi senjata, serta keadaan di sekitar barak. Mereka menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.

Pemberontakan dimulai secara tiba-tiba. Para anggota Unit 684 menyerang para penjaga menggunakan senjata dan peralatan yang tersedia. Pertempuran berlangsung di berbagai bagian pulau.

Banyak penjaga tewas dalam serangan tersebut. Para anggota Unit 684 juga mengalami korban jiwa. Setelah berhasil menguasai sebagian besar area, mereka mengambil senjata dan perlengkapan yang diperlukan untuk melarikan diri.

Mereka kemudian menemukan informasi bahwa mereka memang akan dibunuh. Tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk tetap berada di Silmido. Mereka memutuskan keluar dari pulau dan menuju Seoul untuk mengungkapkan keberadaan Unit 684 kepada masyarakat.

Sekitar dua puluh anggota Unit 684 masih hidup setelah pemberontakan tersebut. Mereka meninggalkan Silmido dan menuju daratan. Mereka kemudian mengambil alih sebuah bus yang membawa warga sipil.

Para anggota unit membawa para penumpang sebagai sandera. Mereka menggunakan bus tersebut untuk menuju Seoul. Tujuan mereka bukan lagi menjalankan misi ke Korea Utara, tetapi mencapai ibu kota dan membuat pemerintah tidak dapat menyembunyikan keberadaan mereka.

Sementara bus bergerak menuju Seoul, berita melalui radio menyebutkan bahwa sekelompok agen bersenjata dari Korea Utara telah menyusup ke Korea Selatan. Pemerintah menyatakan keadaan darurat. Para anggota Unit 684 mendengar pemberitaan tersebut dan menyadari bahwa pemerintah berusaha menggambarkan mereka sebagai musuh.

Para anggota kemudian menyadari bahwa masyarakat tidak mengetahui siapa mereka sebenarnya. Mereka bukan pasukan Korea Utara, tetapi anggota unit rahasia yang dibentuk pemerintah Korea Selatan sendiri. Mereka berusaha mencapai Seoul agar dapat berbicara kepada pihak berwenang dan masyarakat.

Bus mereka dihentikan di sebuah pos pemeriksaan militer. Para tentara bersiap menghadapi mereka karena telah menerima informasi bahwa bus tersebut membawa kelompok bersenjata. Unit 684 kemudian menerobos blokade tersebut.

Terjadi baku tembak antara Unit 684 dan pasukan yang menghadang mereka. Beberapa tentara Korea Selatan tewas. Para anggota Unit 684 juga mengalami korban.

Bus akhirnya terus bergerak menuju Seoul. Para anggota Unit 684 mengetahui bahwa pasukan militer akan terus mengejar mereka. Mereka tetap membawa warga sipil yang berada di dalam bus karena mereka membutuhkan kendaraan tersebut untuk mencapai tujuan.

Sesampainya di Seoul, mereka dikepung oleh pasukan militer di sekitar gedung Yuhan Corporation di kawasan Dongjak. Jalan-jalan di sekitar lokasi dipenuhi tentara dan kendaraan militer. Unit 684 menyadari bahwa mereka tidak mempunyai banyak kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.

Pasukan pemerintah mulai menembaki bus. Mereka tidak dapat menjamin keselamatan para sandera karena pertempuran berlangsung di sekitar kendaraan. Anggota Unit 684 membalas tembakan dari dalam dan sekitar bus.

Pertempuran tersebut menjadi semakin brutal. Banyak anggota Unit 684 tewas atau terluka. Sejumlah tentara pemerintah juga tewas dalam baku tembak tersebut.

Para anggota yang masih hidup kemudian menyadari bahwa mereka tidak dapat keluar dari kepungan. Mereka juga melihat bahwa warga sipil yang mereka bawa semakin berada dalam bahaya. Mereka akhirnya memutuskan membebaskan para sandera.

Para warga sipil diperintahkan keluar dari bus. Setelah para sandera meninggalkan kendaraan, anggota Unit 684 yang tersisa berkumpul bersama. Mereka mengetahui bahwa pasukan pemerintah akan segera menyerbu.

In-chan dan anggota lainnya kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka sendiri. Mereka mengambil granat yang mereka miliki. Sebelum melakukannya, mereka tetap berada bersama-sama di dalam bus.

Di antara mereka terdapat orang-orang yang telah bertahan melewati latihan selama berbulan-bulan. Mereka sebelumnya percaya bahwa mereka akan kembali sebagai pahlawan setelah membunuh Kim Il-sung. Sekarang mereka berada di Seoul sebagai kelompok yang dinyatakan sebagai musuh negara.

Para anggota Unit 684 kemudian menggunakan granat untuk bunuh diri. Ledakan terjadi di dalam bus dan menewaskan sebagian besar anggota yang masih hidup.

Setelah kejadian tersebut, pemerintah melakukan penyelidikan terhadap insiden yang terjadi. Sebuah laporan resmi dibuat mengenai pemberontakan dan kematian anggota Unit 684. Namun laporan tersebut tidak dibacakan kepada masyarakat dan akhirnya disimpan.

Baca juga: Remember (2022)

Kisah Unit 684 kemudian ditutup secara resmi. Keberadaan unit tersebut tidak diumumkan kepada masyarakat pada masa itu. Para anggota yang meninggal tidak mendapatkan pengakuan publik sebagai pasukan yang pernah menjalankan operasi rahasia negara.

Dalam film, laporan penyelidikan akhirnya hanya menjadi sebuah dokumen yang disimpan. Tidak ada penjelasan terbuka kepada masyarakat mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Silmido. Peristiwa yang menewaskan anggota Unit 684 tersebut kemudian tetap tersembunyi selama bertahun-tahun.

Tag Film

18 Tag

Komentar

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Komentar akan tampil setelah disetujui admin.

Belum ada komentar.

Smart Related

Rekomendasi Serupa

Lihat genre Action