Sinopsis Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery (2025)

145647 votes, average 7.4 out of 10

Detektif Benoit Blanc menggandeng seorang pendeta muda yang penuh dedikasi demi memecahkan kasus kejahatan yang tak masuk akal. TKP-nya adalah sebuah gereja di kota kecil dengan masa lalu yang mengerikan.

Kisah dibuka dengan detektif Benoit Blanc yang sedang membaca surat dari Pastor Jud Duplenticy, seorang mantan petinju yang beralih profesi menjadi pendeta. Jud memulai kisahnya dari awal, menceritakan bagaimana ia mendapat masalah karena memukul seorang diakon yang kasar di gereja lamanya. Untuk menghindari skandal, Uskup Langstrom mengirim Jud ke gereja “Our Lady of Perpetual Fortitude” di Chimney Rock, sebuah paroki yang dipimpin oleh Monsinyur Jefferson Wicks yang kharismatik namun kontroversial.

Di gereja baru tersebut, Jud bekerja di bawah bayang-bayang Wicks dan tangan kanannya yang setia, Martha Delacroix. Martha, yang sudah mengabdi sejak zaman kakek Wicks, Prentice, menyimpan sejarah kelam keluarga tersebut. Ia menceritakan tentang ibu Wicks, Grace, yang dijuluki “Pelacur Harlot” karena gaya hidupnya. Grace pernah mengamuk menghancurkan gereja setelah hanya mewarisi sebuah kotak bertuliskan “Eve’s Apple” (Apel Hawa) berisi patung Kristus, sementara harta kekayaan Prentice lenyap tak berbekas. Grace meninggal di depan makam ayahnya setelah menyerang Martha muda.

Jud segera menyadari bahwa khotbah-khotbah Wicks dipenuhi kebencian dan rasisme terselubung, yang membuat banyak jemaat pergi. Namun, sekolompok kecil pengikut setia, yang disebut “The Flock” (Kawanan), tetap bertahan. Mereka terdiri dari Vera Draven (pengacara), Cyrus “Cy” (adik tiri Vera dan YouTuber konservatif), Dr. Nat Sharp (dokter alkoholik), Lee Ross (penulis fiksi ilmiah paranoid), dan Simone Vivane (pemain selo muda yang sakit-sakitan). Jud merasa ada yang tidak beres dengan ketergantungan mereka pada Wicks.

Baca juga:  Berbalas Kejam (2023)

Ketegangan memuncak ketika Jud mengonfrontasi Wicks tentang manipulasinya terhadap jemaat. Wicks memprovokasi Jud untuk memukulnya, namun Jud menahan diri dan bersumpah akan menyingkirkan Wicks “seperti kanker”. Konfrontasi ini direkam diam-diam oleh Cy. Puncaknya terjadi pada Jumat Agung. Saat Wicks beristirahat di ruang mimbar di tengah khotbah, terdengar suara gaduh. Wicks ditemukan tewas dengan pisau menancap di punggungnya. Martha langsung menuduh Jud sebagai pembunuhnya.

Kepala Polisi Geraldine Scott memanggil Benoit Blanc untuk membantu penyelidikan. Jud menjadi tersangka utama karena video pertengkarannya dengan Wicks beredar. Blanc setuju membantu Jud dan mulai menyelidiki senjata pembunuhan, sebuah pisau dengan gagang kepala setan yang ternyata berasal dari sebuah bar lokal. Penyelidikan awal juga mengungkap adanya kemungkinan penggunaan alat pengendali jarak jauh (remote) yang memicu sesuatu di ruang mimbar saat kematian Wicks.

Blanc dan Jud mengonfrontasi “The Flock” di makam bawah tanah setelah pemakaman Wicks. Sebuah video rekaman Cy mengungkap motif mereka: Wicks ternyata baru saja menemukan harta karun kakeknya senilai $80 juta yang disebut “Eve’s Apple”. Wicks berencana menggunakan uang itu untuk terjun ke politik bersama Cy (yang ternyata anak kandungnya). Dalam pertemuan itu, Wicks juga menghina habis-habisan setiap anggota Kawanan, memberikan motif kuat bagi mereka semua untuk membunuhnya.

Keanehan berlanjut ketika Jud menemukan fakta bahwa pesanan forklift untuk membuka makam ternyata dibuat dua hari sebelum kematian Wicks, atas nama Wicks sendiri. Jud mulai lelah dengan kasus ini, namun Blanc bersikeras memecahkannya. Situasi berubah horor ketika Jud melihat sosok Wicks bangkit dari kubur di tengah hujan badai. Jud pingsan setelah diserang, dan saat sadar, ia mendapati dirinya memegang sabit yang menancap di dada Samson (suami Martha), yang tewas seketika.

Baca juga:  I Know What You Did Last Summer (2025)

Mayat Wicks menghilang dari makam, memicu histeria Martha tentang “kebangkitan” Wicks. Namun, Blanc dan Geraldine menemukan kebenaran yang lebih gelap di rumah Dr. Nat Sharp. Di ruang bawah tanah, mereka menemukan mayat Wicks yang asli dengan tangan hancur di dalam bak asam, serta mayat Dr. Nat yang telah larut dalam cairan kimia.

Blanc mengumpulkan semua orang di gereja. Ia mengungkap bahwa Dr. Nat adalah pembunuh Wicks. Nat memasang pisau mekanis di jubah Wicks yang diaktifkan dengan remote setelah Wicks pingsan karena minumannya dicampur obat bius. Namun, Blanc mengaku tidak bisa memecahkan kasus pembunuhan Samson, membuat semua orang bingung dan membubarkan diri.

Tepat saat Geraldine hendak menangkap Jud atas pembunuhan Samson, pembunuh sebenarnya muncul: MARTHA. Blanc membiarkan Martha mengakui segalanya. Ternyata “Eve’s Apple” adalah berlian raksasa yang dulu ditelan oleh Prentice sebelum meninggal (yang menyebabkan kematiannya). Martha muda melihat kejadian itu dan menyimpannya sebagai rahasia. Puluhan tahun kemudian, ia tak sengaja membocorkan rahasia itu kepada Wicks saat pengakuan dosa, memicu ambisi politik Wicks.

Martha merencanakan pembunuhan Wicks untuk menghentikan penyebaran kebenciannya, menggunakan Nat dan Samson sebagai kaki tangan. Samson menyamar sebagai “hantu” Wicks untuk menutupi jejak, namun Nat menjadi serakah dan membunuh Samson demi menguasai berlian itu. Nat berencana membunuh Martha juga, namun Martha lebih dulu menukar kopi beracun Nat, menyebabkan kematian sang dokter.

Martha yang telah menelan sisa racun akhirnya ambruk. Dalam momen terakhirnya, Jud memeluk Martha dan membimbingnya untuk melepaskan dendam masa lalunya terhadap Grace. Martha meninggal dengan tenang, dan berlian “Eve’s Apple” jatuh dari genggamannya.

Setahun kemudian, para anggota Kawanan telah melanjutkan hidup mereka masing-masing dengan jalan yang lebih baik, kecuali Cy yang tetap miskin dan mengancam akan menuntut Jud soal keberadaan berlian itu. Jud membuka kembali gereja dengan nama baru, “Our Lady of Perpetual Grace”. Di akhir adegan, terungkap bahwa Jud menyembunyikan berlian “Eve’s Apple” dengan aman di dalam rongga dada patung Kristus di gereja, menutup kisah keserakahan itu selamanya.

Baca juga:  Wicked: For Good (2025)

 

Leave a Reply