Ketika seorang mantan tentara menemukan emas di belantara Lapland dan mencoba membawanya ke kota, ia harus bertarung mati-matian melawan pasukan Jerman yang dipimpin oleh seorang perwira SS yang brutal.
Film dibuka dengan penjelasan tentang konsep kata dari Finlandia, “Sisu”. Kata ini tidak memiliki terjemahan langsung, namun melambangkan tekad yang tak terhentikan dan keberanian luar biasa yang muncul justru saat harapan tampaknya sudah hilang. Latar cerita berada di tahun 1944, tiga tahun setelah Perang Dunia II berlangsung. Finlandia telah menyepakati gencatan senjata dengan Uni Soviet untuk mengusir pasukan Jerman dari tanah mereka. Sebagai respons, Nazi menerapkan taktik “bumi hangus”, menghancurkan kota, jembatan, dan menawan penduduk sipil saat mereka mundur.
Bab Satu: Emas
Di tengah kesunyian belantara Lapland, seorang penambang emas tua bernama Aatami Korpi hidup menyendiri bersama anjing setianya. Di bawah bayang-bayang pesawat tempur musuh yang melintas, Aatami dengan sabar menggali tanah. Kesabarannya berbuah manis ketika ia menemukan urat emas yang sangat melimpah. Dengan hati-hati, ia mengumpulkan bongkahan-bongkahan emas tersebut, memasukkannya ke dalam tas pelana, dan memulai perjalanan panjang menuju bank terdekat untuk menukarkan hasil temuan yang akan mengubah hidupnya itu.
Bab Dua: Nazi
Perjalanan Aatami terhadang oleh satu peleton pasukan Nazi yang dipimpin oleh komandan kejam, Bruno Helldorf. Mereka membawa sek sekelompok wanita Finlandia sebagai tawanan. Awalnya, pasukan utama membiarkan Aatami lewat, namun sekelompok kecil tentara di barisan belakang menghentikannya. Saat mereka menemukan emas di tas pelana Aatami, keserakahan mengambil alih. Mereka berniat membunuh Aatami dan merebut hartanya.

Namun, mereka melakukan kesalahan fatal. Aatami menyuruh anjingnya lari bersembunyi sebelum ia sendiri beraksi. Dengan kecepatan kilat, Aatami menancapkan pisau tempurnya menembus tengkorak seorang prajurit, menggunakan tubuh musuh sebagai tameng, dan menghabisi sisa tentara tersebut dengan brutal. Helldorf yang mendengar keributan kembali ke lokasi dan menemukan mayat anak buahnya serta satu bongkahan emas yang tertinggal. Menyadari nilai buruannya, Helldorf memerintahkan pengejaran. Kuda Aatami tewas mengenaskan karena menginjak ranjau darat, memaksa Aatami melanjutkan pelarian dengan berjalan kaki.
Bab Tiga: Ladang Ranjau
Pasukan Nazi berhasil memojokkan Aatami ke tepi ladang ranjau. Namun, alih-alih menyerah, Aatami menjadikan medan berbahaya itu sebagai senjatanya. Ia melempar batu untuk memicu ledakan yang menciptakan asap pelindung. Ketika seorang tentara muda dikirim untuk memeriksa, Aatami melakukan aksi gila dengan melemparkan sebuah ranjau darat tepat ke kepala tentara tersebut, meledakkannya seketika. Helldorf yang frustrasi memaksa dua anak buahnya berlari ke dalam asap, yang berujung pada kematian mereka akibat ledakan ranjau. Di tengah kekacauan, Aino, salah satu wanita tawanan, mengamati ketangguhan Aatami dengan penuh kekaguman.
Bab Empat: Sang Legenda
Helldorf menemukan kalung identitas (dog tag) Aatami dan mengetahui siapa sebenarnya pria tua itu melalui informasi dari salah satu prajuritnya. Aatami adalah mantan komandan legendaris dalam Perang Musim Dingin yang kehilangan seluruh keluarganya akibat serangan Rusia. Ia dikenal sebagai “Koschei” atau “Si Abadi”—sebuah mesin pembunuh yang menolak untuk mati. Meski mengetahui reputasi mengerikan itu, Helldorf tetap terobsesi pada emas tersebut sebagai modal pensiun setelah menyadari kekalahan Nazi sudah di depan mata.
Aatami menggunakan kecerdikannya untuk bersembunyi di bawah truk konvoi Nazi dan memotong selang bensin untuk menyamarkan baunya dari anjing pelacak. Saat ketahuan, ia membakar dirinya sendiri dengan bensin yang bocor untuk menciptakan kebingungan dan melompat ke danau. Helldorf mengirim perahu berisi tiga tentara untuk mengejarnya. Di bawah air, Aatami menggorok leher dua tentara dan menghirup sisa udara dari paru-paru mereka untuk bertahan hidup. Ia kemudian membajak perahu tersebut dan kabur ke tepi seberang, namun Helldorf berhasil menangkap anjing kesayangan Aatami sebagai sandera.

Bab Lima: Bumi Hangus
Aatami tiba di sebuah kota yang telah dihancurkan total oleh Nazi. Di sebuah pom bensin terbengkalai, Helldorf menyiapkan jebakan sadis: ia melepaskan anjing Aatami dengan dinamit terikat di tubuhnya. Aatami berhasil membuang dinamit itu tepat waktu, namun ledakannya membuatnya pingsan. Helldorf dan dua letnan utamanya, Wolf dan Schutze, menangkap Aatami. Mereka mengambil emasnya dan menggantung leher Aatami pada tiang, meninggalkannya untuk mati perlahan.
Namun, Aatami menolak mati. Dengan sisa tenaga terakhir, ia mengaitkan luka besi yang menancap di tubuhnya ke sebuah paku pada tiang gantung untuk menahan beban tubuhnya agar tidak tercekik. Ia bertahan dalam posisi menyakitkan itu hingga pagi hari. Saat dua pilot Jerman mendarat untuk mengisi bahan bakar, Aatami membunuh mereka, mengisi bahan bakar pesawat, dan memaksa pilot yang tersisa untuk menerbangkannya mengejar konvoi Helldorf.
Bab Enam: Habisi Mereka Semua
Aatami berhasil mengejar konvoi yang sedang menuju Norwegia. Ia melompat ke salah satu truk dan memberikan senjata kepada Aino dan para tawanan wanita lainnya. Kemarahan para wanita yang tertindas itu meledak; mereka mengangkat senjata dan membantai pasukan Nazi tanpa ampun. Aatami mengambil alih sebuah tank, menendang Wolf keluar untuk dihabisi oleh para wanita, dan mulai menembaki kendaraan Helldorf.

Helldorf yang panik membunuh Schutze agar bisa naik pesawat sendirian. Aatami tidak membiarkannya lolos. Ia menembakkan meriam tank ke arah pesawat yang lepas landas, lalu menggunakan kapak gali emasnya untuk mengaitkan diri ke badan pesawat. Aatami merangsek masuk ke dalam kabin dan bertarung satu lawan satu dengan Helldorf. Meski babak belur, Aatami berhasil mengaitkan Helldorf pada sebuah bom udara. Ia kemudian melepaskan bom tersebut, mengirim Helldorf jatuh bebas menuju kematian yang meledak-ledak di tanah. Pesawat yang tak terkendali itu akhirnya jatuh di rawa-rawa.
Bab Terakhir
Para wanita tawanan menyerahkan Wolf yang babak belur kepada pasukan Finlandia yang melintas. Sementara itu, dari balik lumpur rawa, Aatami bangkit sekali lagi. Ia menemukan kembali anjingnya yang selamat dan sebuah motor.
Dengan wajah penuh lumpur dan darah, Aatami mengendarai motor menuju Helsinki. Ia melangkah masuk ke sebuah bank, membuat semua orang terdiam melihat penampilannya yang mengerikan. Aatami mengeluarkan seluruh emas yang berhasil ia rebut kembali dan menumpahkannya di meja teller. Setelah membisu sepanjang film, Aatami akhirnya mengucapkan satu kalimat pertamanya, ia meminta uangnya ditukar dengan lembaran uang kertas pecahan besar, karena “uang kertas tidak terlalu berat untuk dibawa.”






