Sinopsis The Smashing Machine (2025)

52326 votes, average 6.4 out of 10

Pada akhir tahun 1990-an, Mark Kerr, seorang atlet MMA yang sedang naik daun, berambisi menjadi petarung terhebat di dunia. Namun, ia juga harus bertarung melawan kecanduan opioid serta hubungan yang penuh gejolak dengan kekasihnya, Dawn.

Film dibuka dengan sebuah wawancara bersama Mark Kerr (diperankan oleh Dwayne Johnson). Dalam wawancara ini, Mark menjelaskan perannya dalam turnamen Ultimate Fighting Championship (UFC).

Kembali ke tahun 1997 di Sao Paulo, Brasil. Mark terlihat sedang bertanding dalam sebuah laga yang brutal; ia menggunakan teknik gulat gaya bebas (freestyle wrestling) yang ganas untuk mendominasi dan mengalahkan lawannya. Wawancara berlanjut, memperlihatkan pandangan filosofis Mark mengenai olahraga keras yang ia geluti.

Cerita beralih ke suasana yang kontras di ruang tunggu dokter di Phoenix. Mark berbincang dengan seorang wanita tua dan cucunya. Mereka membahas betapa kejamnya UFC, namun Mark dengan lembut meyakinkan wanita itu bahwa ia tidak membenci lawan-lawannya di ring. Ia kemudian memberikan tanda tangan kepada cucu wanita tersebut sebelum mengambil resep obat-obatannya, sebuah petunjuk awal tentang ketergantungannya.

Di rumah, kehidupan Mark terlihat rumit. Ia tinggal bersama kekasihnya, Dawn Staples (Emily Blunt). Ketegangan muncul saat Mark memarahi Dawn hanya karena menggunakan jenis susu yang salah untuk minuman proteinnya. Meski begitu, Mark tetap berusaha menunjukkan sisi penyayang dan suportif, begitu pula Dawn kepadanya. Namun, di balik pintu tertutup, Mark diam-diam menyalahgunakan obat pereda nyeri (opioid).

Mark terbang ke Tokyo bersama pelatih sekaligus sesama petarung, Mark Coleman (Ryan Bader), untuk ajang Pride 7 Fighting Championships. Di sana, Mark terlihat bernegosiasi dengan para pejabat pertarungan mengenai bayarannya. Dalam wawancara pra-pertandingaan, ia ditanya bagaimana perasaannya jika kalah. Mark tampak ragu dan tidak pasti, karena faktanya, ia belum pernah merasakan kekalahan.

Baca juga:  Missing (2023)

Dawn menyusul terbang ke Tokyo untuk memberi kejutan, namun niat baik ini berujung pertengkaran di ruang ganti. Mark merasa kehadiran Dawn akan merusak fokus dan mental bertandingnya. Saat Mark masuk ke ring, nasib buruk menimpanya. Ia kalah setelah lawannya menggunakan gerakan yang diduga ilegal. Mark kembali ke ruang ganti dan menangis, hancur oleh kekalahan pertamanya. Setelah protes diajukan, pejabat pertandingan akhirnya menyatakan laga tersebut sebagai “no contest” (dibatalkan). Menunjukkan sportivitasnya, Mark kemudian berbicara dengan lawannya, bahkan berfoto bersama dengan akrab.

Sekembalinya ke rumah, hubungan Mark dan Dawn semakin retak. Pertengkaran terus terjadi hingga memuncak saat Mark mengamuk dan menghancurkan pintu rumah. Keesokan paginya, Dawn menelepon Coleman sambil menangis histeris. Mark mengalami overdosis dan harus dilarikan ke rumah sakit.

Coleman datang menjenguk Mark yang penuh air mata dan membantunya untuk mulai “bersih”. Mark akhirnya masuk panti rehabilitasi. Setelah keluar, Mark mencoba memperbaiki hubungan dengan mengajak Dawn berkencan ke karnaval dan pertunjukan truk monster. Namun, Mark mendapati dirinya terlalu depresi untuk bisa menikmati apa pun. Proses rehabilitasi ternyata berdampak buruk pada hubungan mereka. Dawn merasa Mark yang sekarang justru kurang penyayang dibandingkan saat ia masih menggunakan narkoba. Frustrasi memuncak, dan Dawn akhirnya meninggalkan Mark.

Pada tahun 2000, Mark pergi ke Hollywood untuk berlatih bersama legenda Bas Rutten (memerankan dirinya sendiri). Sesi latihan sempat terhenti ketika Bas mengalami rasa sakit luar biasa akibat cedera lama dari kariernya. Dalam momen yang ironis, Mark menyuntikkan obat pereda nyeri kepada Bas untuk membantunya. Mark menghabiskan banyak waktu bersama Bas untuk mengembalikan kondisi fisiknya ke puncak performa.

Baca juga:  Pengabdi Setan 2: Communion (2022)

Mark dan Coleman kemudian berkompetisi di Pride 2000 Grand Prix. Mark bertarung habis-habisan dan berhasil meraih kemenangan. Ia dikejutkan oleh kembalinya Dawn, yang membawa hadiah simbolis, sebuah mangkuk yang pernah Dawn pecahkan saat bertengkar, namun kini telah ia perbaiki. Mereka memutuskan untuk kembali bersama. Namun, keputusan Mark untuk meninggalkan kamp pelatihan demi pulang bersama Dawn membuat Bas kecewa.

Kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Mark dan Dawn kembali bertengkar hebat ketika Mark melarang Dawn ikut bersamanya ke Jepang untuk pertandingan final. Pertengkaran ini menjadi sangat eksplosif hingga Dawn, dalam keadaan histeris, nyaris menembak kepalanya sendiri. Mark berhasil menahannya dan segera menelepon 911 agar Dawn mendapatkan pertolongan medis.

Mark berangkat ke Jepang untuk putaran final Grand Prix dengan hati yang kacau. Di tengah pertarungan, konsentrasinya buyar karena ia terus mengalami kilas balik ke masa-masa bahagia bersama Dawn. Akibatnya, ia menderita kekalahan yang telak. Bas mencoba menghiburnya di ruang ganti. Sementara Mark sedang dirawat karena luka-lukanya, rekannya, Coleman, justru memenangkan babak final dan membawa pulang sabuk juara. Adegan ditutup dengan Mark yang duduk di bawah pancuran shower, tertawa sendiri—entah karena ironi nasib atau keputusasaan.

Film melompat ke masa depan, tahun 2025 di Scottsdale. Sosok Mark Kerr yang asli (bukan aktor) diperlihatkan sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Teks penutup layar menjelaskan nasib mereka: Mark dan Dawn kembali bersama sebelas hari setelah kekalahan di Jepang itu dan akhirnya menikah. Meskipun pada akhirnya bercerai, mereka memiliki seorang putra. Mark pensiun dari dunia pertarungan pada tahun 2009. Walaupun saat ini banyak petarung lain yang lebih terkenal, Kerr dan Coleman tetap dikenang sebagai pionir sejati olahraga tersebut.

Baca juga:  Dune: Part One (2021)

 

Tagline:The unforgettable true story of a UFC legend.
Rate:R
Genre: Drama, History
Year:
Duration: 123 Min
Country:
Release:
Language:English, 日本語, Український
Budget:$ 50.000.000,00
Revenue:$ 21.000.000,00

Leave a Reply