Sinopsis The Great Flood (2025)

16400 votes, average 5.4 out of 10

Saat bencana banjir besar menenggelamkan dunia, sebuah upaya penyelamatan dramatis dilakukan di tengah ancaman kiamat—demi mengeluarkan seorang anak yang terjebak di apartemen yang terus digenangi air.

Kisah bermula di sebuah apartemen lantai tiga, tempat tinggal seorang wanita bernama An-Na dan putranya yang masih kecil, Ja-In. Ja-In adalah anak yang ceria dan sangat menyukai segala hal tentang berenang. Suatu pagi, hujan turun dengan sangat deras membuat An-Na merasa enggan berangkat kerja dan memutuskan untuk mengambil cuti. Di momen kebersamaan itu, Ja-In meminjam ponsel ibunya untuk menggambar sesuatu.

Ketenangan mereka seketika berubah menjadi mimpi buruk. Saat An-Na hendak memasak, air bah tiba-tiba menerjang masuk ke dalam apartemen mereka. Volume air di luar gedung meningkat drastis dengan kecepatan yang tidak wajar. Menyadari bahaya yang mengancam, An-Na segera memutuskan untuk mengungsi ke lantai atas karena tempat tinggal mereka di lantai tiga sudah tidak aman.

Di tengah kepanikan mengemasi barang, An-Na menerima panggilan telepon dari seorang pria bernama Hee-jo. Pria itu mengaku akan menyelamatkannya dan memerintahkan An-Na untuk segera naik ke atap karena sebuah helikopter akan menjemputnya. Tanpa membuang waktu, An-Na menggendong Ja-In dan berlari menuju lantai atas.

Tangga utama apartemen dipenuhi lautan manusia yang panik. An-Na terpaksa mengambil jalur alternatif yang lebih ekstrem. Pemandangan di bawah sangat mengerikan; banyak orang tenggelam dan tewas tersapu air. Untuk menenangkan Ja-In agar tidak panik melihat kekacauan tersebut, An-Na mengajak putranya bernyanyi bersama.

Rintangan semakin berat ketika mereka tiba di lantai 15. Penghuni lantai atas memblokade jalan untuk mencegah membludaknya pengungsi. An-Na mencoba mencari jalan lain, namun sialnya, ia justru terpisah dari Ja-In. Situasi memburuk ketika gelombang air raksasa menghantam gedung apartemen.

Baca juga:  Kung Fu Panda 4 (2024)

Dengan sisa tenaga, An-Na mencari dan akhirnya menemukan Ja-In, namun pintu keluar macet. Di saat kritis itulah Hee-jo, pria yang menelepon sebelumnya, muncul dan menyelamatkan mereka. Hee-jo segera memberikan pertolongan pertama (CPR) kepada Ja-In yang sempat berhenti bernapas hingga anak itu kembali sadar.

Hee-jo mengungkapkan identitasnya sebagai pasukan khusus yang ditugaskan untuk menyelamatkan An-Na. Ternyata, An-Na adalah seorang ilmuwan kunci yang mengembangkan AI (Kecerdasan Buatan) dan “mesin emosi”. Riset An-Na sangat vital untuk menciptakan robot manusia yang bisa berkembang biak, satu-satunya harapan karena umat manusia di ambang kepunahan total. Hee-jo menjelaskan bahwa tiga jam sebelumnya, asteroid jatuh dan mencairkan seluruh es di bumi, yang diprediksi akan menenggelamkan seluruh dunia.

Perjalanan mereka penuh rintangan. Mulai dari Ja-In yang sakit perut, pipa gas yang meledak, hingga harus memanjat dinding luar gedung. An-Na juga sempat menghubungi ibunya melalui walkie-talkie milik Hee-jo untuk perpisahan terakhir. Trauma masa lalu An-Na tentang suaminya yang tewas tenggelam sempat menghantuinya, namun ia terus maju demi Ja-In.

Di tengah perjalanan, An-Na dihadapkan pada dilema moral. Ia mendengar tangisan anak bernama Jisu yang terjebak di lift. An-Na mencoba menolong, namun karena pintu lift macet dan desakan waktu, ia terpaksa meninggalkan Jisu demi menyelamatkan anaknya sendiri.

Ketika Ja-In jatuh sakit karena obatnya hilang, An-Na berjuang membuat obat alternatif hingga Ja-In pulih. Sempat ada momen harapan saat matahari bersinar, namun hujan dan gelombang air kembali datang lebih ganas.

Akhirnya mereka tiba di atap. Namun, tim penyelamat hanya ingin membawa An-Na dan “otak” Ja-In saja, karena tubuh fisik Ja-In dianggap beban, sementara An-Na dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi tersebut menggunakan data otak anaknya. Hee-jo, yang telah menyelesaikan tugasnya, dibunuh oleh komandannya sendiri. An-Na dibawa paksa naik roket ke luar angkasa, meninggalkan bumi yang tenggelam.

Baca juga:  Licorice Pizza (2021)

Di luar angkasa, sebuah keanehan terjadi. An-Na memejamkan mata dan tiba-tiba terbangun kembali di apartemennya. Namun kali ini, ada angka 491 di bajunya.

An-Na menyadari ada yang salah. Ja-In berkata, “Kenapa hari ini sama terus dengan kemarin?”. An-Na mencoba menyelamatkan Ja-In lagi, tapi gagal dan Ja-In tewas tersapu ombak. An-Na terbangun lagi, kali ini dengan angka 787 di bajunya.

An-Na terjebak dalam time loop (putaran waktu). Setiap kali ia gagal atau mati, ia terbangun kembali dengan nomor di baju yang terus bertambah hingga ribuan.

Sadar terjebak dalam siklus yang berulang, An-Na mulai mengubah tindakannya. Ia menyelamatkan orang-orang yang sebelumnya ia tinggalkan, termasuk Jisu yang terjebak di lift. Ia menjadi lebih tangguh, bahkan bertarung melawan perampok.

Titik balik terjadi ketika angka di baju An-Na menunjukkan puluhan ribu. Ia membuka galeri ponselnya dan melihat puluhan ribu gambar yang digambar Ja-In—bukti bahwa kejadian ini sudah berulang puluhan ribu kali.

An-Na kemudian bekerja sama dengan Hee-jo. Ia meyakinkan Hee-jo tentang pengkhianatan atasan mereka dan fakta bahwa waktu terus berulang. Hee-jo mulai merasakan deja vu dan percaya. An-Na menyadari bahwa kunci dari semua ini adalah Ja-In.

Setelah ratusan ribu kali pengulangan, An-Na akhirnya menemukan Ja-In yang bersembunyi di dalam lemari. Saat memeluk anaknya, ingatan An-Na yang sesungguhnya kembali pulih.

Ternyata, An-Na yang asli sudah berada di luar angkasa sejak lama. Pesawatnya menabrak asteroid di masa lalu. Demi menyelamatkan masa depan manusia, An-Na menjadikan dirinya subjek eksperimen pertama. Ia mengekstrak ingatannya ke dalam sistem untuk mengembangkan “manusia buatan”.

Seluruh kejadian banjir dan putaran waktu yang dialaminya hanyalah simulasi atau mode pengembangan untuk menyempurnakan “mesin emosi” bagi manusia buatan. Angka di baju An-Na menandakan jumlah simulasi yang telah dijalankan.

Baca juga:  Don't Look Up (2021)

Tugas terakhir An-Na dalam simulasi itu adalah menyelamatkan Ja-In untuk memicu emosi yang sempurna. Dengan tekad yang bulat, An-Na berhasil menyelamatkan Ja-In di dalam simulasi tersebut.

Keberhasilan ini menandakan bahwa uji coba mesin emosi telah mencapai tahap sempurna. Manusia buatan pertama dengan emosi manusia yang utuh kini siap diaktifkan dan diluncurkan untuk menjadi penghuni baru di Bumi.

 

Leave a Reply