Lewati ke konten

Sinopsis Insidious: Chapter 3 (2015)

Poster Insidious: Chapter 3

Kisah ini berlatar sebelum keluarga Lambert dihantui teror supranatural. Elise Rainier, seorang paranormal yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan arwah, awalnya enggan menggunakan kekuatannya. Namun, ia akhirnya membantu seorang gadis remaja yang menjadi sasaran entitas gaib berbahaya. Tanpa disadari Elise, keputusan tersebut membawanya pada teror yang jauh lebih mengerikan dari yang pernah ia bayangkan.

Detail Film
Original:
Insidious: Chapter 3
Negara:
Rating:
6.3/10
Share

Trailer

Full Sinopsis

Cerita dimulai pada tahun 2007, sekitar tiga tahun sebelum keluarga Lambert mengalami teror yang menjadi pusat cerita film pertama. Pada masa ini, Elise Rainier sudah tidak lagi menjalankan pekerjaannya sebagai paranormal. Ia sengaja menjauh dari kemampuannya berkomunikasi dengan orang mati karena sebuah pengalaman mengerikan membuatnya percaya bahwa semakin sering ia membuka dirinya kepada dunia roh, semakin besar kemungkinan sesuatu dari sana akan mengikuti dan mencelakainya.

Selain itu, Elise masih berduka karena kematian suaminya, Jack. Setahun sebelumnya, Jack mengakhiri hidupnya sendiri setelah lama mengalami depresi. Kematian itu meninggalkan luka mendalam bagi Elise karena ia merasa masih memiliki banyak hal yang belum sempat disampaikan kepada suaminya.

Karena rasa kehilangan tersebut, Elise pernah mencoba menggunakan kemampuan spiritualnya untuk menghubungi Jack. Namun, ketika melakukan perjalanan ke dunia spiritual yang lebih gelap, ia merasakan kehadiran entitas jahat. Sejak saat itu, setiap kali Elise menggunakan kemampuannya, ia mendengar suara sosok perempuan yang mengancam akan membunuhnya.

Elise akhirnya menyadari bahwa dunia spiritual tidak hanya berisi arwah orang yang telah meninggal. Ada pula entitas yang sangat berbahaya dan tertarik kepada manusia yang masih hidup. Karena itulah ia memilih pensiun dan berhenti membantu orang-orang yang meminta pertolongan paranormal.

Suatu hari, seorang gadis remaja bernama Quinn Brenner datang menemuinya. Quinn baru kehilangan ibunya, Lillith, sekitar setahun sebelumnya. Berbeda dengan Elise, Quinn belum dapat menerima bahwa ibunya benar-benar telah pergi.

Quinn percaya bahwa Lillith sedang mencoba menghubunginya. Ia merasa ada tanda-tanda tertentu yang menunjukkan keberadaan ibunya dan berharap Elise dapat melakukan pembacaan untuk memastikan apakah Lillith benar-benar masih berada di dunia roh.

Elise awalnya tidak ingin terlibat. Namun, melihat kesedihan Quinn dan keinginannya untuk mendapatkan jawaban dari ibunya, Elise akhirnya bersedia melakukan pembacaan sederhana. Quinn duduk di hadapannya sementara Elise membuka dirinya kepada dunia spiritual.

Elise berusaha mencari Lillith, tetapi tidak menemukan sosok yang ia cari. Sebaliknya, suasana tiba-tiba berubah menjadi gelap dan mencekam. Elise merasakan kehadiran sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada arwah biasa.

Sebuah suara mengancam Elise dan mengatakan bahwa ia akan dibunuh. Elise segera menghentikan pembacaan tersebut. Ia memperingatkan Quinn bahwa berusaha memanggil orang yang sudah meninggal bukanlah sesuatu yang aman.

Menurut Elise, ketika seseorang memanggil satu roh, bukan hanya roh tersebut yang dapat mendengar panggilan itu. Semua entitas di sekitar mereka juga dapat mendengarnya. Dan tidak semuanya datang dengan niat baik.

Setelah Quinn pulang, Elise mendapatkan penglihatan mengenai dirinya. Ia melihat Quinn berada di tempat yang gelap dan seorang pria aneh berjalan mendekatinya. Pria tersebut tampak seperti mayat yang mengenakan masker pernapasan dan kesulitan bernapas.

Elise langsung memahami bahwa sesuatu telah memperhatikan Quinn sejak pembacaan mereka. Ia mencatat nama Quinn dan apa yang dilihatnya dalam buku catatan, menyadari bahwa pertemuan mereka mungkin telah membuka pintu bagi sesuatu untuk mendekati gadis tersebut.

Di rumah, Quinn menjalani kehidupan bersama ayahnya, Sean, dan adiknya, Alex. Hubungan keluarga mereka masih dipenuhi kesedihan setelah kematian Lillith. Sean berusaha menjadi ayah yang kuat bagi kedua anaknya, sementara Quinn sendiri masih berusaha menerima kenyataan bahwa ibunya tidak akan kembali.

Quinn memiliki impian untuk masuk sekolah seni pertunjukan. Ia mendapatkan kesempatan mengikuti audisi sebuah akademi seni pertunjukan di New York. Karena sangat ingin mencoba, Quinn bahkan membolos sekolah untuk menghadiri audisi tersebut.

Sebelum memasuki panggung, Quinn melihat seseorang berdiri di area belakang teater. Sosok tersebut tampak memperhatikannya dan melambaikan tangan dari kejauhan.

Quinn merasa terganggu oleh keberadaan sosok tersebut. Ia berusaha mengabaikannya dan memusatkan perhatian pada audisi, tetapi pikirannya terus tertuju pada orang yang melambaikan tangan itu.

Ketika tampil, konsentrasinya kacau. Quinn tersandung dalam membawakan dialog dan gagal menunjukkan kemampuan terbaiknya. Setelah audisi selesai, ia meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan kecewa.

Quinn kemudian bertemu sahabatnya, Maggie. Ia menceritakan kegagalan audisinya dan merasa bahwa kesempatan yang sangat ia inginkan telah hancur. Maggie berusaha menghiburnya dan mengatakan bahwa satu kegagalan tidak berarti semua impiannya berakhir.

Percakapan tersebut membuat Quinn sedikit lebih tenang. Mereka kemudian berjalan bersama di jalan. Namun, di tengah perjalanan, Quinn kembali melihat sosok yang sama dari kejauhan.

Sosok tersebut sekali lagi melambaikan tangan kepadanya. Quinn berhenti berjalan dan memusatkan perhatian kepada sosok itu. Ia tidak menyadari bahwa dirinya sedang berdiri di jalur kendaraan.

Sebuah mobil melaju dan menabraknya. Quinn mengalami kecelakaan serius yang menyebabkan kedua kakinya patah. Setelah mendapatkan perawatan, kedua kakinya harus dipasang gips dan ia terpaksa menggunakan kursi roda.

Kecelakaan tersebut membuat Quinn semakin bergantung kepada keluarganya. Sean membantu merawatnya dan menyiapkan kamar agar Quinn dapat beristirahat dengan nyaman. Ia juga meletakkan sebuah bel di dekat tempat tidur Quinn agar putrinya dapat memanggilnya ketika membutuhkan bantuan.

Pada suatu malam, Quinn mendengar ketukan dari dinding kamar. Ia mengira suara tersebut berasal dari Hector, tetangganya yang tinggal di sebelah. Quinn mengetuk balik dua kali dan suara dari balik dinding membalasnya.

Quinn kemudian mencoba pola ketukan "Shave and a Haircut". Sosok di balik dinding menyelesaikan pola tersebut dengan ketukan terakhir. Quinn merasa yakin bahwa Hector sedang bercanda dengannya.

Namun, ia kemudian mengirim pesan kepada Hector. Jawaban yang diterimanya membuat bulu kuduknya berdiri karena Hector mengatakan bahwa ia sedang tidak berada di rumah.

Quinn menyadari bahwa sosok yang mengetuk dinding bukanlah Hector. Ia segera mematikan lampu dan mencoba tidur, tetapi rasa takut membuatnya tidak dapat tenang.

Tiba-tiba bel di samping tempat tidurnya berbunyi sendiri. Quinn panik dan memanggil ayahnya. Sean masuk ke kamar dan berusaha meyakinkan putrinya bahwa semuanya baik-baik saja.

Gangguan tersebut kemudian menjadi semakin sering. Quinn melihat sosok-sosok aneh, mendengar suara-suara, dan mengalami kejadian yang tidak dapat dijelaskan. Setiap kali sesuatu menyerangnya, Sean datang untuk menyelamatkannya.

Di antara semua gangguan tersebut, sosok yang paling sering muncul adalah pria dengan masker pernapasan. Ia terlihat seperti mayat kurus dengan tubuh yang rusak dan selalu mengeluarkan suara napas berat dan berderak.

Quinn kemudian menyadari bahwa pria tersebut adalah sosok yang ia lihat sebelum kecelakaan. Ia mulai memahami bahwa sosok itu bukan sekadar hantu yang kebetulan berada di rumah mereka.

Sementara itu, Quinn juga berinteraksi dengan Grace, seorang perempuan tua yang tinggal di gedung tempat keluarga Brenner berada. Grace mengalami demensia dan sering mengucapkan kalimat-kalimat aneh.

Grace berbicara tentang seorang pria yang tidak bisa bernapas. Ia juga mengatakan bahwa pria tersebut berada di ventilasi dan pernah berada di kamar Quinn. Ucapan Grace terdengar kacau, tetapi ternyata mengandung informasi penting mengenai makhluk yang sedang memburu Quinn.

Suatu ketika Sean bertemu dengan Harry, suami Grace. Dari percakapan tersebut, Sean mengetahui bahwa Grace telah meninggal. Kematian Grace kemudian menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian peristiwa supranatural yang terjadi di gedung tersebut.

Gangguan terhadap Quinn semakin brutal. Pada suatu malam, Sean menemukan putrinya telah terlempar dari tempat tidur. Ia tidak mengerti bagaimana Quinn dapat berpindah dari kamar dan bahkan ditemukan di bagian lain rumah.

Makhluk tersebut tampaknya mampu memindahkan Quinn tanpa menyentuhnya secara normal. Quinn semakin takut karena ia mulai merasa bahwa rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru telah berubah menjadi perangkap.

Kemudian muncul sosok yang jauh lebih aneh. Quinn melihat versi dirinya sendiri yang tidak memiliki wajah, tangan, ataupun kaki. Sosok tersebut bergerak seperti tubuh kosong dan tampak mengikuti kendali Man Who Can't Breathe.

Sosok tanpa anggota tubuh itu ternyata sangat penting. Ia bukan roh asing, melainkan bagian dari jiwa Quinn yang telah berhasil ditarik oleh makhluk tersebut ke The Further.

Pada suatu malam, Quinn mengalami serangan hebat di dekat jendela. Sosok tanpa anggota tubuh tersebut terlihat di luar rumah. Ketika Quinn mencoba melihat apa yang ada di bawah jendela, Man Who Can't Breathe tiba-tiba muncul dan menariknya.

Makhluk itu berusaha menyeret Quinn keluar jendela. Sean datang dan berhasil menarik putrinya kembali. Namun, dalam proses penyelamatan tersebut, leher Quinn mengalami cedera.

Sean akhirnya menyadari bahwa ia tidak dapat menyelesaikan masalah ini sendiri. Ia kembali mencari Elise dan meminta bantuan paranormal tersebut.

Sean menjelaskan bahwa Quinn terus mengalami gangguan dan hampir terbunuh. Ia meminta Elise setidaknya datang menemui Quinn, meskipun Elise tidak mau melakukan kontak spiritual.

Elise akhirnya datang. Ia menjelaskan kepada Sean bahwa dirinya juga sedang berjuang menghadapi kehilangan suaminya. Ia pernah mencoba menghubungi Jack dan justru membawa pulang sesuatu yang jahat dari dunia spiritual.

Elise mengatakan bahwa ada dua sisi dalam dunia setelah kematian: wilayah yang lebih terang dan wilayah gelap yang dikenal sebagai The Further. Ia pernah memasuki sisi gelap tersebut untuk mencari Jack dan sejak saat itu diburu oleh sosok yang dikenal sebagai Bride in Black.

Elise yakin jika ia terus menggunakan kemampuannya, Bride in Black akhirnya akan berhasil membunuhnya. Karena itu, ia menolak membantu Quinn lebih jauh.

Sean kemudian meminta Elise setidaknya berbicara dengan Quinn tanpa melakukan perjalanan spiritual. Elise bersedia, tetapi tetap memperingatkan Quinn agar tidak mencoba menghubungi ibunya lagi.

Karena Elise masih menolak membantu, Alex menyarankan agar Sean mencari Specs dan Tucker. Keduanya dikenal sebagai penyelidik paranormal yang populer melalui internet dan blog mereka.

Specs dan Tucker datang dengan peralatan mereka. Namun, tidak lama kemudian terlihat bahwa keduanya sebenarnya tidak memiliki kemampuan seperti Elise. Mereka lebih banyak mengandalkan perangkat dan pengetahuan umum tentang paranormal daripada kemampuan spiritual sungguhan.

Meski begitu, mereka tetap mencoba menyelidiki rumah tersebut. Mereka memasang berbagai alat untuk merekam aktivitas paranormal dan mencari bukti mengenai keberadaan makhluk yang mengganggu Quinn.

Situasi berubah menjadi sangat berbahaya ketika Quinn tiba-tiba kerasukan. Tubuhnya bergerak dengan cara yang tidak wajar dan ia menyerang Sean, Specs, serta Tucker.

Dalam kondisi tersebut, Quinn bahkan berusaha melukai dirinya sendiri dengan benda tajam. Sean bersama Specs dan Tucker harus menahannya agar ia tidak melakukan tindakan yang dapat membunuh dirinya.

Sean akhirnya menyadari bahwa Specs dan Tucker tidak mampu menghadapi makhluk tersebut. Ia hampir mengusir mereka dari rumah ketika Elise datang kembali.

Baca juga: The Nun (2018)

Melihat keadaan Quinn, Elise akhirnya berubah pikiran. Ia menyadari bahwa Quinn benar-benar sedang diburu oleh entitas yang sama yang pernah ia lihat dalam penglihatannya.

Elise menyimpulkan bahwa Man Who Can't Breathe memiliki tujuan yang berbeda dari kebanyakan roh yang ingin merasuki manusia. Makhluk tersebut justru ingin menarik jiwa orang yang masih hidup ke The Further.

Di sana, ia dapat menyiksa dan mempertahankan jiwa korban sebagai semacam tawanan. Karena itu, Quinn harus dicegah agar tidak sepenuhnya masuk ke dunia tersebut.

Elise memutuskan untuk masuk ke The Further. Specs dan Tucker membantu dari dunia nyata dengan mengawasi tubuh Elise dan berusaha mempertahankan hubungan antara Elise dan dunia kehidupan.

Elise memasuki The Further dan menemukan dirinya berada di dunia yang gelap dan penuh dengan entitas. Ia berusaha mencari Quinn, tetapi pertama-tama harus menghadapi sosok yang paling ia takuti.

Bride in Black muncul di hadapan Elise. Sosok tersebut menyerang Elise dan mencekiknya. Ia mengingatkan Elise bahwa ia telah memperingatkan akan membunuhnya.

Namun kali ini Elise menolak menyerah. Ia melawan Bride in Black dan berhasil melepaskan diri. Untuk pertama kalinya sejak kematian Jack, Elise berhenti melarikan diri dari ketakutannya.

Elise kemudian dibantu oleh roh seorang perempuan yang pernah menjadi korban Man Who Can't Breathe. Roh tersebut menunjukkan jalan menuju tempat makhluk itu berada.

Elise akhirnya tiba di sebuah ruangan di The Further. Di sana ia melihat seorang pria duduk di atas tempat tidur.

Ketika Elise melihat wajah pria tersebut, ia sangat terkejut. Pria itu terlihat seperti Jack, suaminya yang telah meninggal.

Jack berbicara kepada Elise seolah-olah ia benar-benar telah menunggu istrinya. Ia mengatakan bahwa mereka masih dapat bersama dan bahwa Elise tidak perlu lagi hidup sendirian.

Jack kemudian mulai mendorong Elise untuk melakukan apa yang dilakukan olehnya: mengakhiri hidupnya sendiri agar mereka dapat bersama di dunia lain.

Elise hampir terpengaruh karena kerinduannya kepada Jack sangat besar. Ia ingin percaya bahwa suaminya benar-benar berada di hadapannya.

Namun, kemudian Elise menyadari sesuatu yang sangat penting. Jack yang ia kenal tidak akan pernah meminta Elise bunuh diri hanya demi dapat bersamanya.

Elise menyadari bahwa sosok di depannya bukan Jack. Itu adalah Man Who Can't Breathe yang menggunakan wujud dan kenangan Jack untuk memanipulasinya.

Elise langsung menyerang makhluk tersebut. Ia berhasil melawannya dan memaksanya melepaskan Quinn.

Quinn kemudian muncul dalam keadaan seperti jiwa yang kehilangan sebagian dirinya. Elise melihat versi Quinn yang tidak memiliki wajah, tangan, maupun kaki.

Elise menarik Quinn dan berusaha membawa jiwanya kembali ke tubuhnya. Namun, Man Who Can't Breathe mengejar mereka dan berhasil mencengkeram versi Quinn tersebut.

Elise akhirnya berhasil kembali ke dunia nyata. Namun, ia menyadari bahwa bagian terakhir dari pertarungan tidak dapat dilakukan olehnya.

Sosok tanpa anggota tubuh tersebut adalah separuh jiwa Quinn. Man Who Can't Breathe telah mengambil bagian itu dan mengendalikannya. Karena itu, Quinn sendiri yang harus merebut kembali jiwanya.

Di dunia nyata, Sean, Alex, Specs, dan Tucker berusaha mempertahankan tubuh Quinn. Mereka memegang tangan Quinn dan terus memanggil namanya agar ia tidak sepenuhnya meninggalkan dunia manusia.

Namun kondisi Quinn semakin memburuk. Di The Further, versi alternatif dirinya mulai mendapatkan kembali wajah, tangan, kaki, dan bagian tubuh lainnya.

Setiap kali bagian tubuh tersebut muncul, berarti Man Who Can't Breathe semakin berhasil menguasai jiwa Quinn. Jika proses itu selesai, Quinn akan kehilangan dirinya sepenuhnya.

Pada saat semua orang hampir kehilangan harapan, Elise mendengar suara dari dunia spiritual. Suara tersebut berasal dari Grace, tetangga yang baru saja meninggal.

Grace berusaha memberitahu Elise sesuatu. Elise kesulitan memahami pesannya, tetapi akhirnya menangkap petunjuk bahwa ada sebuah buku dan sesuatu yang berkaitan dengan Quinn.

Elise mencari buku yang dimaksud dan menemukan buku harian Quinn. Di dalamnya terdapat sebuah surat yang ditulis oleh Lillith.

Surat itu sebenarnya dimaksudkan untuk Quinn pada hari kelulusannya. Lillith ingin Quinn menemukan surat tersebut pada waktu yang tepat, tetapi Quinn tidak pernah mengetahuinya.

Elise kemudian memahami bahwa Lillith memang mencoba menghubungi putrinya. Namun, pada saat pembacaan pertama, Quinn justru telah menarik perhatian entitas lain yang jauh lebih berbahaya.

Elise menggunakan surat tersebut untuk memanggil Lillith. Ia mengatakan bahwa Quinn membutuhkan ibunya sekarang dan meminta Lillith datang untuk membantu putrinya.

Lillith akhirnya muncul di The Further. Kehadirannya membuat Quinn kembali merasakan hubungan dengan ibunya yang selama ini ia rindukan.

Lillith tidak mengalahkan Man Who Can't Breathe dengan kekuatan fisik. Ia justru memberi Quinn keberanian untuk menghadapi makhluk tersebut sendiri.

Quinn akhirnya bangkit dan berhenti melarikan diri. Ia menghadapi Man Who Can't Breathe dan menyadari bahwa kekuatan makhluk tersebut berasal dari ketakutan dan kendalinya atas jiwa korban.

Quinn kemudian meraih masker pernapasan yang menutupi wajah makhluk tersebut. Ia menarik masker itu hingga terlepas dari wajahnya.

Tanpa masker tersebut, Man Who Can't Breathe tidak mampu bernapas. Ia mulai melemah dan akhirnya hancur. Dengan menghancurkan makhluk itu, Quinn juga berhasil menarik kembali bagian jiwanya yang selama ini dikuasai.

Jiwa Quinn akhirnya kembali sepenuhnya ke tubuhnya. Di dunia nyata, tubuh Quinn mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan dan keluarganya menyadari bahwa ia berhasil kembali.

Quinn membuka mata dan kembali bersama ayah serta adiknya. Sean akhirnya dapat melihat putrinya selamat setelah melalui serangkaian kejadian yang hampir merenggut nyawanya.

Lillith memberikan kata-kata terakhir kepada Quinn. Ia meyakinkan putrinya bahwa kematiannya bukan berarti kasih sayangnya juga berakhir.

Setelah itu, Lillith pergi. Quinn harus kembali menjalani hidup tanpa ibunya, tetapi kali ini ia memiliki sesuatu yang sebelumnya tidak ia miliki: kepastian bahwa Lillith benar-benar mencintainya dan tidak pernah meninggalkannya begitu saja.

Kasus tersebut juga mengubah Elise. Ia menyadari bahwa kemampuannya bukan hanya sumber bahaya, tetapi juga dapat digunakan untuk menyelamatkan orang lain.

Specs dan Tucker kemudian menemui Elise. Pengalaman mereka bersama Quinn membuat mereka menyadari bahwa pekerjaan paranormal jauh lebih serius daripada sekadar membuat konten untuk internet.

Elise kemudian mengajak keduanya bekerja sama. Mereka sepakat membentuk tim penyelidik paranormal yang akan membantu orang-orang yang mengalami gangguan dari dunia supranatural.

Bagi Elise sendiri, keputusan tersebut berarti ia telah kembali menjalankan panggilan hidupnya. Ia tidak lagi membiarkan ketakutannya terhadap Bride in Black menghentikannya menggunakan kemampuannya.

Setelah semuanya selesai, Elise pulang ke rumah seorang diri. Rumah itu kembali sunyi, tetapi kenangan tentang Jack masih memenuhi pikirannya.

Di kamar, Elise menemukan sweater milik Jack yang tertinggal di atas tempat tidur. Ia mengambilnya dan memeluk sweater tersebut erat-erat, diliputi rasa kehilangan dan kerinduan kepada suaminya.

Untuk sesaat, Elise membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan. Namun, anjingnya tiba-tiba mulai menggonggong ke arah suatu sudut ruangan.

Elise menghentikan lamunannya dan menoleh. Ia mendekati tempat yang sedang diperhatikan anjingnya, mencoba melihat apa yang sebenarnya ada di sana.

Elise tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang berdiri di dekatnya. Di belakang Elise muncul sosok iblis dengan wajah merah yang selama ini dikenal sebagai Lipstick-Faced Demon.

Elise tidak melihatnya secara langsung. Ia hanya menyadari bahwa anjingnya terus menatap kegelapan. Kamera kemudian memperlihatkan sosok tersebut dari sudut pandang penonton.

Adegan berakhir dengan Elise yang kembali membuka dirinya terhadap dunia roh, tanpa mengetahui bahwa dengan keputusan tersebut ia telah memasuki kembali dunia yang kelak akan mempertemukannya dengan keluarga Lambert.

Tiga tahun kemudian, perjalanan Elise bersama Specs dan Tucker akan membawa mereka menuju kasus Josh Lambert dan keluarganya. Kasus itulah yang menjadi awal dari rangkaian peristiwa dalam film pertama, sekaligus memperlihatkan bagaimana Elise yang sempat kehilangan keberanian akhirnya kembali menjadi paranormal yang berani menghadapi The Further.

Tag Film

18 Tag

Komentar

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Komentar akan tampil setelah disetujui admin.

Belum ada komentar.

Smart Related

Rekomendasi Serupa

Lihat genre Horror