Lewati ke konten

Sinopsis The Wild Pear Tree (2018)

Poster The Wild Pear Tree

Seorang pemuda Turki yang baru lulus kuliah kembali ke kampung halamannya dengan impian menjadi penulis. Ia berusaha mengumpulkan uang untuk menerbitkan bukunya, sekaligus mencoba kembali dekat dengan teman-teman lama dan lingkungan tempat ia dibesarkan. Namun, keraguan akan masa depan, pergulatan batin, serta kecanduan judi sang ayah membuat perjalanan hidupnya semakin sulit.

Detail Film
Share

Trailer

Full Sinopsis

Sinan Karasu baru menyelesaikan pendidikannya di universitas dan kembali ke kampung halamannya di Çanakkale. Setelah beberapa tahun berada di luar daerah, ia kembali ke rumah orang tuanya dengan membawa sebuah naskah buku yang telah ditulisnya. Buku tersebut berjudul The Wild Pear Tree, sama seperti judul filmnya, dan berisi tulisan yang berkaitan dengan kehidupan, orang-orang, serta tempat asalnya. Sinan berharap suatu hari dapat menerbitkan buku tersebut dan menjadi seorang penulis.

Kepulangan Sinan tidak disambut dengan kehidupan baru yang langsung berjalan sesuai rencananya. Ia belum mempunyai pekerjaan dan belum mengetahui secara pasti apa yang akan dilakukannya setelah lulus. Ia lebih banyak memikirkan buku yang telah ditulisnya dan bagaimana mendapatkan uang untuk mencetaknya. Di rumah, ia kembali tinggal bersama ayahnya Idris, ibunya Asuman, dan adik perempuannya Yasemin.

Hubungan Sinan dengan ayahnya sejak awal terasa sulit. Idris adalah seorang guru yang mempunyai kebiasaan berjudi dan sering menggunakan uangnya untuk taruhan. Ia juga mempunyai utang akibat kebiasaan tersebut, sehingga kondisi keuangan keluarga menjadi tidak stabil. Sinan tidak menyukai perilaku ayahnya dan menganggap Idris telah menyia-nyiakan uang yang seharusnya dapat digunakan untuk kebutuhan keluarga.

Idris sendiri tidak terlalu mempermasalahkan pandangan Sinan terhadap dirinya. Ia tetap menjalani kehidupannya dan menghabiskan waktunya dengan berbagai kegiatan yang ia sukai. Ia juga mempunyai ketertarikan pada pekerjaan menggali sumur dan sering membicarakan kemungkinan mendapatkan air dari dalam tanah. Bagi Sinan, kebiasaan ayahnya tersebut menjadi salah satu hal yang membuatnya semakin sulit menghormati Idris.

Setelah berada kembali di kota asalnya, Sinan mulai mencari cara untuk menerbitkan bukunya. Ia tidak mempunyai cukup uang untuk membayar biaya penerbitan sendiri. Karena itu ia mencoba menemui orang-orang yang mungkin bersedia memberikan bantuan atau menjadi sponsor. Ia membawa naskahnya dan menjelaskan bahwa buku tersebut berkaitan dengan daerah tempat mereka tinggal.

Salah satu orang yang ditemuinya adalah wali kota. Sinan berharap pemerintah daerah dapat membantu membiayai penerbitan buku tersebut. Ia menjelaskan mengenai isi bukunya dan mencoba meyakinkan wali kota bahwa penerbitan karya tersebut dapat memberikan manfaat bagi daerah. Namun percakapan itu tidak menghasilkan bantuan yang diharapkan Sinan.

Sinan kemudian mencoba mendekati orang-orang lain yang mempunyai kemampuan finansial. Ia berbicara dengan beberapa orang dan menjelaskan rencananya untuk menerbitkan buku. Dalam percakapan tersebut, Sinan beberapa kali menunjukkan sikap percaya diri terhadap tulisannya sendiri. Ia merasa bahwa bukunya mempunyai sesuatu yang berbeda dibandingkan tulisan yang biasanya diterbitkan.

Sinan juga mencari seorang penulis yang lebih berpengalaman untuk diajak berbicara. Ia kemudian bertemu dengan Süleyman, seorang penulis yang sudah lebih dahulu dikenal dan berhasil menerbitkan karya-karyanya. Sinan berharap pertemuan tersebut dapat memberinya gambaran mengenai dunia kepenulisan. Namun percakapan mereka berkembang menjadi diskusi panjang mengenai sastra dan kehidupan seorang penulis.

Sinan menjelaskan bahwa ia ingin menulis dengan caranya sendiri. Ia tidak terlalu tertarik mengikuti selera pembaca atau membuat karya yang mudah diterima oleh banyak orang. Süleyman kemudian memberikan tanggapan terhadap pandangan tersebut dan membicarakan pengalaman pribadinya sebagai penulis. Percakapan mereka berubah menjadi perdebatan ketika keduanya mulai mempertanyakan pilihan dan pandangan masing-masing mengenai sastra.

Sinan juga berbicara mengenai keinginannya untuk menerbitkan buku tanpa harus mengubah isinya demi kepentingan komersial. Ia merasa bahwa seorang penulis harus dapat mengatakan apa yang benar-benar ingin dikatakannya. Süleyman tidak sepenuhnya menyetujui pandangan tersebut dan menunjukkan bahwa kehidupan sebagai penulis mempunyai banyak persoalan praktis. Percakapan itu akhirnya berakhir tanpa memberikan Sinan jawaban sederhana mengenai bagaimana ia harus menjalani kehidupan sebagai penulis.

Selain mencari bantuan untuk bukunya, Sinan juga bertemu dengan dua imam bernama Veysel dan Nazmi. Pertemuan tersebut berkembang menjadi percakapan panjang mengenai agama dan kehidupan masyarakat. Sinan mengajukan berbagai pertanyaan kepada keduanya dan menyampaikan pandangannya sendiri. Kedua imam tersebut kemudian memberikan jawaban berdasarkan pemahaman mereka mengenai agama dan kehidupan.

Sinan mempertanyakan beberapa hal yang menurutnya tidak masuk akal. Ia membicarakan hubungan antara agama, moralitas, kehidupan modern, serta perilaku manusia. Percakapan itu berlangsung cukup lama dan masing-masing pihak mempertahankan pandangan mereka. Sinan kemudian meninggalkan mereka dan melanjutkan urusannya sendiri.

Dalam perjalanan tersebut, Sinan kembali bertemu dengan Hatice. Hatice adalah perempuan muda yang pernah dikenalnya dan sekarang sedang mempersiapkan pernikahannya. Ia telah mempunyai rencana untuk menikah dan menjalani kehidupan baru. Pertemuan mereka membuat Sinan kembali membicarakan kehidupan dan masa depan.

Sinan dan Hatice berjalan bersama sambil berbicara. Mereka membicarakan kota tempat mereka tinggal dan keinginan untuk menjalani kehidupan yang berbeda. Hatice mengatakan bahwa dirinya akan segera menikah, tetapi percakapan mereka menunjukkan bahwa ia belum sepenuhnya merasa nyaman dengan masa depannya. Sinan kemudian mengajaknya pergi ke tempat yang lebih sepi.

Hatice membawa sebotol minuman yang dibelinya secara diam-diam. Ia dan Sinan duduk bersama di tempat tersebut dan mulai minum. Mereka berbicara mengenai kehidupan pribadi masing-masing dan apa yang mungkin terjadi setelah Hatice menikah. Sinan kemudian mencium Hatice, tetapi pertemuan mereka akhirnya berakhir dan keduanya kembali menjalani kehidupan masing-masing.

Setelah pertemuan tersebut, Sinan kembali memikirkan kehidupan di kota asalnya. Ia masih tidak mempunyai pekerjaan dan masih membutuhkan uang untuk menerbitkan bukunya. Ia terus mencari orang yang bersedia membantu, tetapi sebagian besar usaha tersebut tidak menghasilkan apa yang diharapkannya. Sementara itu, masalah keluarganya juga tidak kunjung selesai.

Idris terus berjudi dan mempunyai masalah dengan utang. Sinan sering mempermasalahkan hal tersebut dan mengatakan bahwa ayahnya tidak bertanggung jawab terhadap keluarganya. Perdebatan mereka tidak selalu berakhir dengan penyelesaian. Idris tetap menjalani kehidupannya, sedangkan Sinan semakin frustrasi dengan keadaan keluarga.

Sinan juga sering membicarakan ayahnya kepada orang lain. Ia merasa Idris tidak memanfaatkan kehidupannya dengan baik. Sinan melihat dirinya sebagai orang yang mempunyai tujuan yang lebih jelas karena ingin menerbitkan buku. Namun ia tetap bergantung pada keluarga karena belum mendapatkan pekerjaan dan belum mempunyai penghasilan yang cukup.

Di rumah, Idris mempunyai seekor anjing yang sangat ia sukai. Anjing tersebut menjadi salah satu bagian penting dari kehidupan sehari-hari Idris. Sinan tidak melihat hubungan tersebut dengan cara yang sama seperti ayahnya. Ia kemudian mengambil keputusan untuk menjual anjing tersebut.

Ketika Idris mengetahui bahwa anjingnya telah dijual, ia sangat terpukul. Ia mengetahui bahwa Sinan terlibat dalam hilangnya anjing tersebut. Peristiwa itu semakin memperburuk hubungan ayah dan anak. Sinan tetap berusaha menjalani rencananya sendiri, sementara Idris kehilangan sesuatu yang sangat ia sayangi.

Sinan kemudian terus mencari uang untuk menerbitkan bukunya. Ia menyadari bahwa tidak banyak orang yang bersedia membiayai proyek tersebut. Pada akhirnya ia mengambil uang yang dapat digunakannya untuk membayar biaya penerbitan. Keputusan tersebut dilakukan meskipun masalah keuangan keluarganya belum selesai.

Naskah The Wild Pear Tree akhirnya berhasil diterbitkan. Sinan menerima buku yang telah dicetak dan melihat tulisannya menjadi sebuah buku fisik. Ia kemudian mulai memberikan atau menunjukkan buku tersebut kepada orang-orang yang ia kenal. Namun penerbitan buku tersebut tidak membuat kehidupannya langsung berubah.

Sinan masih belum mempunyai pekerjaan tetap. Ia masih berada di kota yang sama dan masih harus berhadapan dengan persoalan keluarganya. Ia juga tidak mendapatkan perhatian besar yang sebelumnya mungkin ia harapkan setelah bukunya diterbitkan. Kehidupan sehari-harinya tetap berjalan seperti sebelumnya.

Sementara itu, rencana pernikahan Hatice terus berlangsung. Sinan tidak melanjutkan hubungan mereka setelah pertemuan sebelumnya. Ia kembali berkonsentrasi pada kehidupan dan masalahnya sendiri. Hubungan Sinan dan Hatice tidak berkembang lebih jauh setelah pertemuan tersebut.

Sinan kemudian menjalani wajib militer. Ia meninggalkan keluarganya dan kota asalnya untuk menjalankan tugas tersebut. Selama periode itu, kehidupannya berada jauh dari rumah dan berbagai masalah yang sebelumnya ia hadapi. Setelah masa wajib militernya selesai, Sinan kembali ke Çanakkale.

Ketika pulang, Sinan melihat perubahan dalam kehidupan ayahnya. Idris tidak lagi menjalani kehidupan seperti sebelumnya dan semakin banyak menghabiskan waktunya dengan pekerjaan menggali sumur. Ia menggali tanah di beberapa tempat untuk mencari air. Pekerjaan tersebut dilakukan dengan tenaga fisik dan menjadi bagian dari keseharian Idris.

Sinan memperhatikan pekerjaan ayahnya dari dekat. Ia melihat lubang yang telah digali Idris dan mengetahui bahwa ayahnya terus berusaha menemukan sumber air. Idris tetap melakukan pekerjaan tersebut meskipun hasilnya belum selalu terlihat. Sinan juga kembali menghadapi hubungan yang belum sepenuhnya membaik dengan ayahnya.

Pada titik ini, Sinan masih mempunyai bukunya. Ia mengetahui bahwa karya tersebut telah diterbitkan, tetapi kehidupannya sendiri belum berubah seperti yang ia bayangkan. Ia belum mempunyai karier sebagai penulis yang mapan dan masih mencari arah kehidupannya. Buku tersebut tetap menjadi salah satu hal yang paling ia perjuangkan sejak kembali dari universitas.

Sinan kemudian mengetahui bahwa ayahnya telah membaca bukunya. Hal tersebut menjadi sesuatu yang tidak ia duga sebelumnya. Idris ternyata memberikan perhatian terhadap karya yang dibuat Sinan meskipun selama ini hubungan mereka dipenuhi pertengkaran. Sinan kemudian melihat kembali ayahnya dan pekerjaannya.

Idris terus menggali sumur. Ia bekerja di tanah dan berusaha mencapai lapisan yang lebih dalam. Sinan berada di sekitar tempat tersebut dan memperhatikan lubang yang sedang digali. Hubungan mereka tetap tidak diselesaikan melalui percakapan panjang, tetapi kehidupan mereka terus berjalan.

Pada bagian akhir, Sinan turun ke dalam sumur yang sebelumnya digali ayahnya. Ia mulai melakukan pekerjaan menggali tanah sendiri. Ia menggunakan alat yang tersedia dan terus menggali bagian dalam sumur tersebut. Pekerjaan itu dilakukan seorang diri sementara bagian atas sumur tetap terbuka.

Sinan terus menggali semakin dalam. Tanah diangkat dari dasar lubang dan ia tetap melanjutkan pekerjaannya. Adegan tersebut berlangsung tanpa perubahan lokasi yang besar. Sinan tetap berada di dalam sumur sampai bagian akhir film.

Film kemudian berakhir dengan Sinan yang masih menggali di dalam sumur. Ia terus melakukan pekerjaan tersebut ketika kamera memperlihatkan dirinya dari bagian atas dan kemudian dari dalam lubang. Tidak ada adegan lanjutan yang menunjukkan apa yang terjadi setelah ia selesai menggali. Cerita berakhir ketika Sinan masih berada di dalam sumur tersebut.

Tag Film

18 Tag

Komentar

Komentar Pembaca

Tulis Komentar

Komentar akan tampil setelah disetujui admin.

Belum ada komentar.

Smart Related

Rekomendasi Serupa

Lihat genre Drama