Putri kecil seorang jurnalis menghilang tanpa jejak di tengah gurun. Delapan tahun kemudian, ia tiba-tiba kembali ke keluarganya. Namun, kebahagiaan yang semula menyelimuti reuni itu perlahan berubah menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Film dibuka di Aswan, Mesir. Sebuah keluarga baru saja tiba di rumah mereka. Namun suasana yang awalnya biasa saja langsung berubah mencekam ketika sang anak perempuan menemukan burung kenari peliharaannya tergeletak mati dalam genangan darah.
Ibunya, seorang perempuan misterius yang hanya dikenal sebagai “The Magician”, kemudian membawa suaminya, Gamal, ke ruang bawah tanah. Di sana, tersembunyi sebuah sarkofagus berisi mumi. Gamal bertanya dengan cemas apakah makhluk itu sudah terbangun.
Jawabannya datang dalam bentuk jeritan.
Makhluk di dalam sarkofagus tiba-tiba bangkit. Saat tutupnya diangkat, kait besi yang digunakan untuk membukanya tersangkut di rahang Gamal dan membunuhnya dengan mengerikan.
Di tempat lain, di Kairo, seorang jurnalis bernama Charlie Cannon sedang meliput berbagai peristiwa di Mesir. Ia tinggal di sana bersama istrinya yang sedang hamil, Larissa, serta dua anak mereka, Katie dan Sebastian.
Suatu hari, Katie keluar rumah seperti biasa untuk bertemu temannya, Layla. Namun di balik pagar rumah, The Magician muncul. Ia memberikan Katie sebuah buah nektarin. Saat Katie menerimanya, seekor kumbang scarab keluar dari dalam buah itu dan merayap masuk ke mulutnya.

Charlie dan Larissa sempat melihat Katie menerima sesuatu dari orang asing. Charlie langsung berlari keluar, tetapi Katie sudah menghilang. Ia mengejar ke jalanan, tepat ketika badai pasir besar tiba-tiba menerjang kota. Di tengah badai itu, Charlie melihat The Magician membawa Katie pergi. Ia berusaha mengejar mereka, tetapi badai terlalu kuat. Dalam sekejap, Katie lenyap dari pandangannya.
Charlie dan Larissa kemudian melaporkan hilangnya Katie kepada pihak berwenang. Mereka bertemu Detektif Dalia Zaki dan atasannya, Detektif Ismail. Namun Charlie tidak sengaja mendengar Ismail berbicara dalam bahasa Mesir kepada Dalia, mencurigai bahwa Charlie dan Larissa mungkin terlibat dalam hilangnya Katie dan sedang menutupinya.
Charlie murka. Ia membantah tuduhan itu dan menuntut agar polisi benar-benar membantu menemukan putrinya.
Delapan tahun berlalu.
Keluarga Cannon kini tinggal di Albuquerque. Sebastian sudah remaja, dan Charlie serta Larissa memiliki anak bungsu bernama Maud. Ibu Larissa, Carmen, juga tinggal bersama mereka. Sejak kehilangan Katie, keluarga itu menghindari perjalanan jauh. Namun luka lama itu tidak pernah benar-benar sembuh. Sebastian pun mulai lelah melihat orang tuanya terus menghindari pembicaraan tentang kakaknya.
Sementara itu, di Mesir, seorang remaja yang sedang bersepeda melihat sebuah pesawat jatuh di hutan. Di antara puing-puing pesawat dan jasad para pilot, ditemukan sebuah sarkofagus. Sarkofagus yang sama dengan yang dulu dijaga oleh The Magician.
Dua arkeolog kemudian mengambil sarkofagus itu dan membukanya. Di dalamnya, mereka menemukan Katie. Tubuhnya terbungkus perban, wajahnya pucat, dan penampilannya lebih mirip mayat daripada manusia hidup. Namun tiba-tiba, Katie menarik napas, tersentak, lalu menjerit.
Saat keluarga Cannon sedang membeli makanan, mereka menerima telepon dari Kedutaan. Kabar itu terasa mustahil: Katie ditemukan hidup.

Charlie dan Larissa segera datang ke rumah sakit. Di sana, mereka melihat Katie dalam kondisi katatonik. Ia tidak bicara, tidak bereaksi normal, dan hanya mengeluarkan suara napas kecil seperti orang yang kesulitan bernapas. Meski kondisinya aneh, Charlie dan Larissa tetap lega. Setelah delapan tahun, mereka akhirnya bisa membawa putri mereka pulang.
Namun kepulangan Katie tidak membawa ketenangan.
Sesampainya di rumah, Carmen mencoba mendoakan Katie. Tetapi saat Katie mulai kejang, ia tiba-tiba menanduk wajah neneknya dengan keras.
Keluarga Cannon berusaha sebisa mungkin membantu Katie kembali beradaptasi. Larissa dan Carmen mencoba merawatnya, termasuk memotong kuku kakinya yang sudah sangat panjang. Namun ketika Larissa memotong kuku ibu jari kaki Katie, kulitnya ikut terkelupas panjang sampai ke bagian kaki. Larissa panik dan berusaha merawat luka itu, tetapi Katie justru menusuk-nusuk luka terbuka tersebut dengan brutal sampai Larissa terpaksa membiusnya.
Charlie dan Larissa mulai berbeda pendapat. Larissa masih yakin ia bisa menyembuhkan putrinya. Ia ingin percaya bahwa Katie hanya trauma dan butuh waktu. Namun Charlie merasa ada sesuatu yang jauh lebih buruk sedang terjadi. Baginya, Katie yang pulang bukan lagi Katie yang sama.
Charlie kemudian menemukan balutan kain berisi tulisan kuno di tubuh Katie. Ia membawa kain itu kepada seorang profesor di kampus. Dari sana, Charlie mendapat penjelasan mengerikan: tulisan itu dibuat untuk mengurung makhluk kuno bernama Nazarenian.
Di rumah, Charlie memperhatikan kebiasaan aneh Katie. Putrinya terus membuat bunyi klik dengan giginya. Awalnya terdengar seperti gerakan tanpa arti, tetapi Charlie kemudian sadar bahwa Katie sedang menggunakan kode Morse. Sebelum menghilang, Katie pernah mempelajari kode itu saat ikut Girl Scouts.
Pesan yang ia ulang-ulang hanya satu: “Layla.”

Charlie menghubungi kembali Dalia, dan Dalia setuju untuk membantunya. Charlie lalu membongkar tumpukan surat lama di ruang bawah tanah, surat-surat dukungan yang dulu dikirim orang-orang saat Katie menghilang. Di antara surat itu, ia menemukan nama yang selama ini dicari: Layla Khalil, anak perempuan yang dulu dikenal Katie di Kairo.
Dalia pergi ke Aswan dan menemukan rumah tempat sarkofagus itu dulu disimpan. Di sana, The Magician muncul dan mencoba menyerangnya. Dalia berhasil menembaknya hingga perempuan itu tak berdaya. Tak lama kemudian, Dalia melihat seorang perempuan dewasa berlari ke arah tebing.
Perempuan itu adalah Layla.
Layla kini sudah dewasa, tetapi ia tidak bisa bicara. Lidahnya telah dipotong oleh The Magician, ibunya sendiri, karena dulu ia mencoba mengungkap kebenaran tentang Katie. Sebelum pergi, Layla memberikan sebuah kaset kepada Dalia. Di kaset itu tertulis nama Katie.
Sementara itu, di rumah keluarga Cannon, pengaruh Nazarenian mulai menyebar. Makhluk itu tidak hanya menguasai Katie, tetapi juga mulai menjangkau anggota keluarga lainnya.
Maud tiba-tiba dirasuki dan memaki gurunya di sekolah, membuat Charlie harus menjemputnya. Carmen yang mencoba berdoa untuk Katie malah digigit tangannya. Setelah itu, Nazarenian membuat kalung salib Carmen melilit lehernya sendiri, lalu melemparkannya keluar jendela.
Carmen jatuh tepat di atas mobil Charlie ketika Charlie baru tiba di rumah. Belum sempat siapa pun menolongnya, tubuh Carmen langsung diserang dan dimangsa oleh sekawanan koyote.
Keluarga itu kemudian mengadakan acara penghormatan terakhir untuk Carmen. Namun bahkan momen duka itu berubah menjadi mimpi buruk.
Nazarenian merasuki Sebastian dan memaksanya membebaskan Katie dari kamarnya. Maud mencabut sisa gigi susunya sendiri, lalu mengambil gigi palsu Carmen dan memakainya. Ia memperlihatkan senyum berdarah kepada orang tuanya.
Katie kemudian turun dan menyerang pendeta dengan menggigit telinganya hingga putus. Setelah itu, ia melompat ke dalam peti mati. Tubuh Carmen terguling keluar di depan Larissa yang ketakutan. Katie lalu menggigit leher jenazah Carmen dan meminum cairan pengawet mayat dari tubuhnya.
Dalia akhirnya datang ke rumah keluarga Cannon membawa kaset video dari Layla. Rekaman itu memperlihatkan The Magician menjelaskan tentang Nazarenian. Ternyata, keluarga The Magician selama berabad-abad bertugas menjaga makhluk itu tetap tertidur.
Namun ada satu ritual penting yang harus dilakukan: memindahkan Nazarenian dari tubuh lama yang sudah melemah ke tubuh baru yang lebih kuat. Anak-anak sering dipilih sebagai wadah karena tubuh mereka bisa bertahan lebih lama.
Charlie tidak sanggup menonton rekaman itu sampai selesai. Namun Larissa memaksa mereka untuk melihat semuanya. Mereka pun menyaksikan ritual mengerikan ketika Nazarenian dipindahkan ke tubuh Katie.
Sementara itu, Katie menggunakan Sebastian yang sedang terhipnotis untuk melepas lebih banyak balutan dari kulitnya. Dengan setiap balutan yang terlepas, kekuatan Nazarenian semakin besar. Makhluk itu akhirnya mulai melepaskan kekuatannya sepenuhnya.
Ia menyerang keluarga Cannon. Charlie ditanduk hingga berdarah. Dalia juga menjadi korban ketika seekor kalajengking dipaksa masuk ke tenggorokannya, lalu menembus lehernya dari dalam.
Charlie berhasil menjatuhkan Katie. Dalia yang terluka parah berusaha mengucapkan mantra ritual, tetapi ia harus memasukkan jarinya ke tenggorokannya sendiri agar masih bisa bersuara. Charlie kemudian berdiri di atas Katie dan membuat keputusan besar: ia membiarkan Nazarenian berpindah ke tubuhnya.
Katie akhirnya mulai kembali normal.
Namun kini Charlie yang menjadi wadah makhluk itu.
Keluarga Cannon menyimpan Charlie di dalam sarkofagus. Dari dalam, Charlie mengetuk pesan dengan kode Morse. Pesannya sederhana, tetapi menyayat hati: “Aku mencintaimu.”
Perlahan, Katie mulai membangun kembali hubungan dengan adik-adiknya. Sementara itu, Larissa menghubungi Dalia yang masih dalam masa pemulihan. Larissa mengatakan bahwa mereka perlu membicarakan Charlie.
Di akhir cerita, The Magician terlihat dikurung di dalam sebuah sel. Larissa datang menemuinya. Tanpa ragu, ia menyuntikkan obat penenang ke tubuh perempuan itu. Larissa berkata bahwa ia tahu The Magician mengenali wajahnya, dan tahu persis ia adalah ibu dari siapa.
Dalia kemudian masuk sambil membawa Charlie yang masih kerasukan di kursi roda.
Mereka bersiap mengulang ritual tersebut. Namun kali ini, tujuannya berbeda: menjadikan The Magician sebagai wadah permanen bagi Nazarenian.






