Sebuah tim dokumenter mendatangi waduk untuk menyelidiki kemunculan sosok misterius yang sempat terekam kamera. Namun, pencarian mereka berubah menjadi mimpi buruk ketika sesuatu yang mengerikan muncul dari kegelapan dasar waduk.
Film dibuka di kawasan waduk Salmokji pada malam hari. Sepasang kekasih sedang memancing di pinggir air. Si perempuan, Ah-hyeon, tampak takut dengan cacing umpan, sementara kekasihnya membantunya memasang umpan itu. Suasananya awalnya santai dan akrab. Mereka bercanda di dekat mobil, lalu menunggu umpan pancing mereka bekerja.
Tidak lama kemudian, suasana berubah. Ada sesuatu yang mengganggu dari arah luar mobil. Si pria keluar untuk memeriksa keadaan, sementara Ah-hyeon tetap berada di sekitar mobil. Setelah beberapa saat, si pria memanggil nama Ah-hyeon berkali-kali. Ia menemukan Ah-hyeon berada di air. Ah-hyeon tampak tidak sadar sepenuhnya dengan apa yang ia lakukan. Si pria panik melihatnya berada di dalam waduk.
Setelah itu keadaan berbalik. Ah-hyeon memanggil kekasihnya dari pinggir, sementara si pria justru berada di air. Ia tidak segera keluar meskipun Ah-hyeon memanggilnya. Adegan pembuka ini menegaskan bahwa Salmokji memiliki bahaya yang berkaitan langsung dengan air dan panggilan dari kegelapan.
Cerita lalu berpindah ke kantor On Road Media. Di sana, Han Su-in dipanggil karena perusahaan sedang menghadapi masalah serius. Sebuah gambar dari kawasan Salmokji muncul di layanan street-view mereka. Gambar itu menjadi viral karena memperlihatkan sesuatu yang menakutkan. Pemerintah wilayah setempat menuntut agar gambar itu segera diganti.
Masalahnya, foto tersebut tidak cocok dengan data perusahaan. On Road Media memiliki rekaman asli dan catatan GPS untuk jalur lain, tetapi tidak memiliki rekaman asli untuk jalan yang bermasalah itu. Artinya, ada foto yang muncul dan terunggah, padahal menurut sistem, foto itu tidak pernah diambil. Foto tersebut sudah dihapus, tetapi pihak wilayah tetap meminta rekaman pengganti karena dampaknya sudah menyebar.
Dalam rapat, disebut bahwa lokasi itu sebelumnya ditangani oleh Chief Woo Kyo-sik. Namun Woo tidak bisa dihubungi sejak mengambil cuti sakit. Orang-orang di kantor merasa hal itu aneh, karena Woo bukan tipe pekerja yang menghilang ketika ada masalah. Mereka membutuhkan seseorang untuk kembali ke Salmokji hari itu juga dan merekam ulang jalurnya.
Han Su-in menawarkan diri untuk pergi. Ia menyatakan bahwa pekerjaan itu adalah tanggung jawab timnya. Setelah itu ia mengirim pesan kepada Woo, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di Salmokji dan memberi tahu bahwa ia akan pergi ke sana.
Sebelum berangkat, Su-in bertemu Yoon Ki-tae. Ki-tae mempertanyakan keputusan Su-in pergi ke waduk itu, karena ia tahu Su-in tidak suka berada dekat air. Su-in tetap melanjutkan rencananya. Dari percakapan mereka, terlihat bahwa hubungan Su-in dan Ki-tae tidak sedang baik. Mereka pernah memiliki kedekatan, tetapi kini bersikap seperti orang asing.

Su-in kemudian bersiap pergi bersama rombongan. Ada Se-jeong, pegawai baru dari tim lain yang ikut dalam perjalanan. Se-jeong tampak bersemangat karena ia tertarik dengan hal-hal horor. Selain itu ada kru kamera jalan, yaitu Song Gyeong-tae dan kakaknya, Song Gyeong-jun. Mereka berangkat bersama menuju Salmokji.
Di perjalanan, mereka membicarakan foto hantu street-view Salmokji yang viral. Se-jeong mengaku sudah melihat foto itu dan menganggapnya menarik. Rombongan juga membahas reputasi Salmokji. Tempat itu dikenal sebagai waduk angker. Ada cerita bahwa sebelum menjadi waduk, kawasan itu berkaitan dengan makam lama. Nama Salmokji juga dikaitkan dengan pertemuan antara hidup dan mati. Di dalam perjalanan, pembahasan tentang hantu air muncul. Hantu air disebut lebih berbahaya karena berhubungan dengan korban yang jatuh atau tenggelam di air.
Saat mereka tiba di Salmokji, tempat itu terlihat luas dan sepi. Ketika mobil mundur untuk parkir, mereka menabrak sebuah tumpukan batu kecil atau cairn. Awalnya mereka tidak menganggapnya penting. Namun seorang nenek setempat muncul dan memperingatkan mereka agar tidak menyentuh tumpukan batu itu sembarangan. Nenek itu mengatakan bahwa tumpukan batu tersebut tidak mudah dibuat.
Nenek itu juga mengenali keadaan Su-in. Ia menyebut bahwa air hampir mengambil Su-in sebelumnya. Ia juga mengetahui bahwa Su-in sedang mencari seseorang. Setelah itu nenek meminta mereka menyusun kembali tumpukan batu yang rusak. Sebelum menyusun batu, mereka harus membuat permintaan terlebih dahulu. Rombongan menuruti permintaan nenek itu, meskipun sebagian dari mereka merasa situasinya aneh. Mereka menyusun kembali batu tersebut, lalu melanjutkan persiapan kerja.
Se-jeong sempat menunjukkan bahwa ia memiliki kanal horor. Ia ingin memanfaatkan kunjungan ke Salmokji untuk membuat konten. Su-in menegurnya agar fokus pada pekerjaan utama terlebih dahulu. Mereka kemudian mulai mempersiapkan peralatan rekaman jalan.
Masalah pertama muncul saat GPS tidak menangkap sinyal. Salah satu kru menjelaskan bahwa jika sinyal tidak terbaca, proses rekaman akan gagal. Pada saat itu, Woo Kyo-sik tiba-tiba muncul di Salmokji. Kehadirannya membuat Su-in terkejut karena sebelumnya ia tidak bisa dihubungi.
Woo menjelaskan bahwa ia sempat membuang waktu beberapa jam sebelumnya karena masalah sinyal GPS. Ia kemudian menunjukkan bahwa sinyal hanya bisa tertangkap dari arah air. Woo masuk ke air untuk membantu mengatur posisi controller. Setelah itu sinyal berhasil tersambung. Su-in menanyakan kenapa Woo tidak menjawab teleponnya. Woo hanya mengatakan bahwa ia datang untuk membantu dan akan menjelaskan nanti setelah pekerjaan selesai.
Pekerjaan rekaman dimulai. Song Gyeong-jun, yang disebut sebagai Daepyo-nim, masuk ke jalur yang harus direkam. Su-in memantau dari layar. Di tengah proses, Su-in melihat sesuatu yang janggal di monitor. Ia meminta Gyeong-jun mundur sedikit untuk mengecek. Gyeong-jun merasa terganggu, tetapi tetap mengikuti instruksi. Su-in kemudian melihat sesuatu di belakangnya dan memintanya keluar dari area itu.
Gyeong-jun tidak memahami apa yang terjadi. Ia sempat berada di dekat papan peringatan yang menyatakan bahwa tempat itu dalam dan berisiko tenggelam. Setelah itu komunikasi terganggu. Su-in dan yang lain memanggil Gyeong-jun, tetapi ia menghilang dari pantauan.
Mereka mulai mencarinya. Song Gyeong-tae memanggil kakaknya dengan panik. Saat pencarian berlangsung, mereka menemukan benda tergantung di pohon. Dari jauh benda itu sempat terlihat seperti kepala perempuan, tetapi setelah diperiksa, ternyata benda itu adalah mangkuk. Meski begitu, Gyeong-tae yakin bahwa ia tadi melihat bentuk kepala perempuan. Se-jeong menjelaskan bahwa benda tersebut tampak seperti bagian dari ritual neok-geon-jigi, yaitu ritual perdukunan untuk menarik roh dari air.

Su-in berniat menghentikan proses dan kembali lagi keesokan hari. Namun dari kantor, mereka mendapat tekanan agar rekaman tetap diselesaikan hari itu juga. Pemerintah setempat menuntut gambar pengganti karena banyak orang hilang di sana dan warga sudah sangat sensitif dengan isu Salmokji. On Road Media diminta menyelesaikan rekaman dan mengunggahnya paling lambat pagi berikutnya.
Akhirnya perusahaan mengirim peralatan lagi ke lokasi. Namun controller mereka hilang. Mereka menduga controller itu jatuh ketika Gyeong-tae terjatuh saat mencari kakaknya. Karena controller tidak bisa ditinggal semalaman, beberapa orang kembali ke area tadi untuk mencarinya.
Su-in menerima telepon dari Ki-tae. Ki-tae mengatakan bahwa ia sedang membawa peralatan ke Salmokji. Su-in memberi tahu bahwa Woo ada di lokasi dan datang untuk membantu. Ki-tae terkejut mendengar Woo berada di sana. Su-in mengatakan Woo tampak berbeda, tidak banyak bicara, dan terlihat dalam suasana hati buruk.
Di area pencarian, Woo ditanya oleh Su-in mengenai apa yang terjadi di Salmokji. Woo tidak menjawab dengan jelas. Su-in bertanya apakah Woo juga menyusun batu di tempat itu. Woo membenarkan. Ia juga mengatakan bahwa permintaannya terkabul. Namun ia tidak menjelaskan permintaan apa yang ia buat.
Sementara itu, Se-jeong mulai membuat konten horor di malam hari. Ia menggunakan alat pendeteksi gerakan untuk mencari hantu. Awalnya alat itu tidak menangkap apa pun. Se-jeong kecewa karena bahkan rumah kosong biasanya bisa menghasilkan sinyal, sementara Salmokji yang dikenal angker justru tidak menunjukkan apa-apa.
Kemudian mereka menemukan memory card bertuliskan On Road Media Team 3. Memory card itu diduga milik tim Woo. Saat isinya dilihat, terdapat rekaman street-view dari Salmokji. Di dalam rekaman itu terlihat Woo dan lokasi waduk. Ada juga gambar yang menunjukkan tumpukan batu. Mereka menyadari bahwa Woo memang pernah menyusun batu di Salmokji.
Pada saat itu, Ki-tae menghubungi Su-in lagi. Ia memberi kabar penting bahwa Woo Kyo-sik sudah meninggal di rumah sakit pada malam sebelumnya. Ki-tae mengatakan ia sudah memastikan kabar itu beberapa kali. Su-in terkejut karena Woo baru saja bersama mereka sepanjang hari. Ki-tae bertanya apakah Su-in benar-benar melihat Woo di Salmokji.
Tidak lama setelah itu, terjadi gangguan di sekitar mereka. Se-jeong terjatuh. Ia mengatakan ada sesuatu terlempar dari arah waduk. Ada yang mengira itu burung, tetapi suasana semakin tidak terkendali. Perangkat komunikasi arwah milik Se-jeong kemudian menyala sendiri. Alat itu menangkap suara yang bertanya tentang kedatangan mereka, kapan mereka datang, berapa orang yang datang, dan alasan mereka datang ke tempat itu.
Salah satu kru merespons suara itu dengan menantang. Suara dari alat itu kemudian menyampaikan bahwa ia mati karena mereka. Kalimat itu berulang dan membuat mereka ketakutan. Su-in semakin yakin ada hubungan antara suara itu, Woo, dan kejadian di Salmokji.
Su-in kemudian memutuskan menghentikan semua kegiatan dan mencari dua orang yang hilang. Rombongan berpencar. Su-in dan Se-jeong masuk lebih jauh ke area hutan. Di sisi lain, Gyeong-tae mencari kakaknya. Pada malam itu, mereka melihat sosok di kegelapan. Ada sosok yang tampak seperti Woo berdiri di dekat area tumpukan batu. Mereka juga melihat tumpukan batu yang sebelumnya berada di lokasi lain. Se-jeong meyakini bahwa tumpukan batu itu adalah tumpukan yang sama.
Pencarian berujung pada penemuan mengerikan. Gyeong-jun ditemukan tergantung di pohon. Gyeong-tae sangat terpukul karena kakaknya meninggal. Mereka semua panik dan ingin pergi dari tempat itu.
Dalam perjalanan keluar, Ki-tae sempat mencari arah dan bertemu nenek setempat. Di rumah atau tempat nenek itu, Ki-tae melihat seseorang yang disebut sebagai anak perempuan nenek. Nenek mengatakan bahwa anaknya pernah jatuh ke Salmokji. Nenek menyatakan bahwa meskipun kondisi anaknya seperti itu, ia lebih baik berada di dekatnya daripada berada di air. Nenek juga mengetahui bahwa Ki-tae mengenal seseorang di Salmokji.
Kembali ke rombongan, Su-in menjelaskan bahwa Woo sudah mati berdasarkan kabar dari Ki-tae. Gyeong-tae tidak bisa menerimanya karena mereka semua melihat Woo hidup dan bekerja bersama mereka sepanjang hari. Se-jeong menjelaskan bahwa hantu air terikat dengan air, dan di antara mereka, Gyeong-jun adalah orang yang masuk ke air. Gyeong-tae marah karena kakaknya baru saja meninggal, lalu mengejar sosok yang ia yakini bertanggung jawab.
Gyeong-tae berlari ke arah air. Yang lain mencoba menghentikannya karena sosok itu sedang memancingnya masuk ke Salmokji. Namun Gyeong-tae tetap bergerak karena marah. Di sekitar air, teror meningkat. Mereka melihat bahwa tumpukan batu menghilang. Rombongan akhirnya masuk mobil dan berusaha keluar dari Salmokji.

GPS mengarahkan mereka ke jalan keluar, tetapi rute terus berubah. Mereka berputar dan kembali ke persimpangan yang sama. Beberapa kali mereka mencoba mengikuti petunjuk GPS, namun tetap kembali ke titik yang sama. Pada satu titik, Su-in hampir mengarahkan kendaraan ke air, dan Ki-tae menghentikannya. Mobil akhirnya terjebak dan tidak bisa bergerak.
Dalam keadaan terjebak, mereka mengingat ucapan nenek bahwa mereka tidak bisa keluar dari sana dalam keadaan hidup. Mereka mulai membahas makna tumpukan batu dan permintaan yang dibuat sebelum menyusunnya. Su-in mengaku bahwa permintaannya adalah bertemu Woo Kyo-sik karena ia ingin tahu apa yang terjadi di Salmokji. Ia juga mengingat bahwa Woo mengatakan permintaannya terkabul.
Mereka menyimpulkan bahwa permintaan yang terkabul di Salmokji berhubungan dengan memanggil orang mati. Woo kemungkinan meminta bertemu istrinya yang meninggal tahun sebelumnya. Nenek menyusun batu untuk melihat anak perempuannya yang sudah jatuh ke Salmokji. Su-in bertemu Woo setelah membuat permintaan. Se-jeong kemudian mengaku bahwa ia juga membuat permintaan untuk melihat hantu sekali saja.
Rombongan kemudian membahas kemungkinan untuk menghancurkan tumpukan batu. Mereka berpikir bahwa tumpukan batu adalah penyebab semua kejadian tersebut. Namun tumpukan batu yang mereka lihat sebelumnya sudah hilang. Mereka menduga Woo juga pernah menghancurkan tumpukan batu, karena menurut informasi awal, ia sempat dibawa ke rumah sakit setelah keluar dari Salmokji.
Di tengah ketegangan, Seong-bin mulai mencurigai Su-in. Ia mengatakan bahwa Su-in adalah orang yang membawa mereka ke Salmokji, orang yang membuat mereka tetap bekerja saat masalah kamera muncul, orang yang membagi mereka untuk mencari Woo, dan orang pertama yang menemukan jasad Gyeong-jun. Ia juga menuduh Su-in terus membicarakan tumpukan batu dan membawa mereka ke dalam bahaya. Ia tidak menyatakan dengan pasti apa yang terjadi pada Su-in, tetapi menyebut kemungkinan hantu atau kerasukan.
Seong-bin kemudian mengajak Se-jeong pergi meninggalkan yang lain. Se-jeong awalnya ragu, tetapi akhirnya ikut. Mereka masuk mobil dan mencoba memasukkan ulang rute keluar. GPS menampilkan rute berbeda. Mereka berhasil bergerak dan sempat mengira sudah keluar dari Salmokji. Namun situasi berubah ketika mereka bertemu seseorang di jalan dan meminta bantuan jumper cable karena mobil mereka bermasalah. Orang itu menanyakan kapan mereka datang, berapa orang yang datang, dan kenapa mereka datang ke sana. Pertanyaan yang sama sebelumnya muncul dari alat komunikasi arwah. Se-jeong menyadari bahwa kejadian itu kembali dimulai.
Sementara itu, Su-in menemukan iPad Se-jeong yang berisi memory card dari rekaman street-view Woo. Dari rekaman tersebut, Su-in dan Ki-tae melihat adanya perahu. Mereka menyadari bahwa lokasi dalam rekaman tidak berada di sisi waduk tempat mereka berada, tetapi di seberang danau. Dari perangkat itu juga terdengar suara Se-jeong meminta bantuan dan mengatakan bahwa ia dan Seong-bin kembali ke tempat yang sama.
Su-in dan Ki-tae mencari Se-jeong. Mereka menemukan Se-jeong dalam keadaan ketakutan. Se-jeong meminta diselamatkan. Situasi menjadi kacau, dan Su-in berusaha menghentikan sesuatu yang terjadi pada Se-jeong. Setelah itu, Su-in dan Ki-tae bergerak menuju perahu.
Di atas perahu, Ki-tae menemani Su-in agar tidak melihat ke bawah karena Su-in takut air. Su-in berterima kasih karena Ki-tae ikut dengannya. Namun Ki-tae kemudian mempertanyakan bagaimana Su-in mengetahui ada perahu di sana. Setelah itu, sosok Woo muncul melalui Su-in atau berbicara di hadapan Ki-tae. Woo menanyakan apakah lokasi di sekitar sana adalah tempat ia meninggal.
Woo menjelaskan bahwa ia sempat berada di air selama beberapa menit sebelum meninggal. Ia juga mengungkap bahwa pada hari kejadian, ia mendapat panggilan mendadak bahwa tugasnya dipindahkan ke Salmokji. Padahal sebelumnya Ki-tae adalah orang yang bertanggung jawab atas Salmokji. Woo menuduh Ki-tae mengubah tugas itu. Ki-tae meminta maaf dan mengatakan ia tidak tahu hal itu akan terjadi.
Woo kemudian menyatakan bahwa Ki-tae pernah datang ke Salmokji sebelumnya, tetapi kabur sebelum memulai proses rekaman. Karena itu, Woo menanyakan apakah Ki-tae mengirimnya ke sana karena ketakutan tersebut. Ki-tae tidak memiliki jawaban yang membantah kejadian itu. Woo lalu mengatakan bahwa semua orang sudah mati, dan jika Ki-tae saja yang mati sejak awal, semuanya akan selesai. Sosok itu kemudian ingin memanggil Ki-tae juga dan membawa Ki-tae bersama mereka.
Su-in menyadari bahwa sosok yang berbicara tidak sepenuhnya seperti Woo yang ia kenal. Ia menolak mempercayai sosok itu sebagai Woo. Setelah itu terjadi kekacauan di air. Ki-tae memanggil Su-in berkali-kali.
Beberapa waktu kemudian, Ki-tae menemukan Su-in dan menenangkannya. Cerita kemudian berpindah ke setelah kejadian di Salmokji. Ki-tae bertemu dengan seseorang dari kantor. Orang itu memberi tahu bahwa jasad Woo ditemukan di Salmokji. Sebelumnya ada informasi bahwa Woo sempat dipindahkan ke rumah sakit, tetapi kabar penemuan jasadnya di Salmokji membuat mereka menyadari bahwa Woo tidak keluar dari Salmokji dalam keadaan hidup.
Orang kantor itu juga menjelaskan bahwa ia mencoba menghubungi Su-in beberapa kali karena ingin memberi tahu kabar tentang Woo, tetapi Su-in tidak bisa dihubungi sejak mengambil cuti sakit.
Tidak lama kemudian, Su-in muncul di kantor. Ia membuat orang lain terkejut karena ia kembali lebih cepat dari cuti. Su-in menjelaskan bahwa berada sendirian di rumah justru membuatnya terus mengingat kejadian itu. Ia tampak tenang saat berbicara.
Ki-tae kemudian mempertanyakan sesuatu yang masih mengganjal. Jika Woo berusaha menghancurkan tumpukan batu, kenapa ia tetap mati. Su-in mengatakan ia tidak tahu. Ia juga mengatakan agar mereka melupakan kejadian itu dan menyatakan bahwa mereka seharusnya tidak pergi ke Salmokji sejak awal.
Pada bagian akhir, nama Su-in dipanggil. Film kemudian menutup dengan peringatan agar tidak mempercayai apa pun.






