Sinopsis The Thursday Murder Club (2025)

11103 votes, average 6.7 out of 10

Empat manula yang hobi mengulik kasus lama tiba-tiba terlibat dalam misteri pembunuhan sungguhan, mengubah kesenangan mereka jadi petualangan menegangkan.

Film dimulai dengan kilas balik ke malam tanggal 11 Mei 1973. Di tengah remangnya jalanan Brick Lane, seorang pria bernama Peter Mercer berjalan kaki dari sebuah klub menuju apartemen kekasihnya, Angela Hughes. Namun, langkahnya terhenti saat dari jendela lantai dua terdengar suara pertengkaran sengit, disusul jeritan pilu seorang wanita dan bunyi gedebuk tubuh yang jatuh. Mercer sempat melihat sesosok bayangan kabur dari gedung dan berusaha mengejarnya, tetapi sia-sia. Ketika polisi tiba, Angela Hughes telah tiada. Apartemennya rapi, tanpa tanda-tanda perampokan, meninggalkan kematiannya sebagai misteri yang membeku dalam waktu.

Puluhan tahun kemudian, di masa kini, misteri itu kembali dihidupkan di tempat yang tak terduga, sebuah kompleks panti jompo elit bernama Coopers Chase. Di sebuah ruangan yang seharusnya didedikasikan untuk menyusun puzzle, tiga orang lansia berkumpul dalam pertemuan. Mereka adalah The Thursday Murder Club. Di hadapan mereka, terbentang berkas kasus Angela Hughes. Diskusi dipimpin oleh Elizabeth Best, seorang wanita dengan aura tenang namun penuh wibawa. Di seberangnya, Ron Ritchie menggelengkan kepala dengan gestur tak percaya, ekspresinya jelas menyiratkan bahwa cerita resmi polisi adalah omong kosong. Sementara itu, Ibrahim Arif, dengan tatapan tajam seorang psikiater, tenggelam dalam analisis profil psikologis Peter Mercer, menduga adanya trauma perang yang tak terungkap.

Pada saat yang sama, seorang penghuni baru bernama Joyce Meadowcroft sedang berkeliling mengenal fasilitas mewah Coopers Chase bersama putrinya, Joanna. Mereka melewati klub melukis, kelas memanah, bahkan sebuah kandang llama. Tanpa sengaja, Joyce membuka pintu ruang pertemuan klub dan tertegun. Di hadapannya terpampang papan penuh foto-foto mengerikan dari tempat kejadian perkara kasus Angela Hughes. Elizabeth menangkap sesuatu yang ganjil pada reaksi Joyce. Bukan rasa jijik atau kaget, melainkan ketenangan seorang profesional. Pengamatan tajam Elizabeth tidak meleset, ia kemudian mendekati Joyce dan dengan tepat menebak profesi lamanya sebagai perawat. Melihat potensi keahlian medis Joyce untuk menganalisis laporan forensik, Elizabeth pun mengundangnya bergabung untuk sementara.

Di luar tembok Coopers Chase, Ian Ventham, pengembang properti serakah dan salah satu pemilik panti jompo itu, tengah merencanakan kehancuran komunitas tersebut. Terdesak oleh perceraian yang mahal, ia berencana merobohkan Coopers Chase untuk membangun apartemen mewah. Dalam sebuah pertemuan rahasia, ia menawarkan Bogdan, seorang pekerja konstruksi asal Polandia, posisi kontraktor utama untuk menggantikan rekan bisnisnya, Tony Curran. Bogdan, yang mati-matian membutuhkan uang untuk pengobatan ibunya di Polandia, dengan berat hati menerima tawaran itu, sadar betul bahwa Tony adalah orang yang berbahaya.

Baca juga:  The Conjuring (2013)

Tony Curran sendiri adalah antitesis dari Ian. Ia adalah sosok yang dicintai para penghuni, pelindung Coopers Chase dari ambisi Ian. Ia terlihat penuh kasih saat mengunjungi bibinya, Maud, dan memiliki hubungan akrab dengan banyak penghuni, termasuk Ron.

Sementara itu, The Thursday Murder Club mulai melebarkan jaringnya. Mereka memanfaatkan momen ceramah keamanan rumah oleh Donna De Freitas, seorang polwan muda yang tampak bosan dengan pekerjaannya. Dengan pesona dan perhatian, Elizabeth dan kawan-kawan mengajaknya makan siang, mendengarkan keluh kesahnya, dan membuatnya merasa dihargai. Benih untuk memiliki “orang dalam” di kepolisian pun telah ditanam.

Ketegangan antara Ian dan Tony akhirnya meledak. Di area parkir, keduanya terlibat pertengkaran hebat yang disaksikan langsung oleh beberapa anggota klub. Tony pergi dengan amarah yang membara. Namun, sesampainya di rumah, takdir tragis menantinya. Sosok misterius muncul dan membunuhnya.

Berita kematian Tony Curran yang didengar Joyce melalui radio menjadi genderang perang bagi klub. Ini adalah kasus pembunuhan sungguhan, terjadi di halaman belakang mereka sendiri. Elizabeth segera menyusun strategi. Rencana mereka untuk merekrut Donna pun dieksekusi dengan cemerlang. Ketika polisi datang untuk mewawancarai Ron sebagai saksi, ia, atas arahan Elizabeth, memainkan peran sebagai lansia pikun, paranoid, dan sulit diatur. Ia bersikeras hanya mau berbicara dengan Donna. Detektif Chris Hudson, kepala penyelidik yang tak sabaran, akhirnya menyerah dan memerintahkan transfer Donna ke timnya. Tanpa sadar, ia telah memberikan The Thursday Murder Club akses tak ternilai ke dalam penyelidikan.

Awalnya, kecurigaan polisi dan klub terfokus pada Ian Ventham. Namun, klub tidak menelan mentah-mentah kesimpulan itu. Ibrahim melakukan eksperimen sederhana namun jenius: ia mengemudikan mobil dari Coopers Chase ke rumah Tony, mengukur waktu tempuhnya. Hasilnya jelas. Ian tidak mungkin menjadi pembunuhnya, alibinya, yang tercatat di jam tangan pintarnya, menunjukkan ia baru akan tiba di lokasi beberapa menit setelah waktu kematian Tony.

Sebuah petunjuk krusial kemudian muncul dari kepolisian. Di rumah Tony, ditemukan sebuah foto yang menampilkannya bersama gembong penjahat buron bernama Bobby Tanner. Donna, dengan mata jeli yang tak dimiliki detektif lain, melihat sesuatu di pantulan cermin dalam foto itu, sebuah lengan dengan tato khas. Tato itu identik dengan milik putra Ron, Jason Ritchie.

Situasi memanas ketika Ian mengerahkan alat berat untuk memulai proyeknya. Dipimpin oleh Ron, para penghuni membentuk barikade manusia di depan gerbang pemakaman tua yang hendak digusur. Di tengah kekacauan itu, Ian tiba dan mendorong para lansia. Jason, putra Ron, turun tangan membela ayahnya. Sementara keributan terjadi di luar, di dalam area makam, Elizabeth menghampiri Bogdan yang sedang menggali sebuah makam secara manual.

Baca juga:  Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery (2025)

Tiba-tiba, di tengah kerumunan yang saling dorong, Ian Ventham mencengkeram dadanya. Wajahnya pucat pasi, dan ia ambruk tak bernyawa. Joyce segera maju, memeriksa denyut nadinya, dan dengan ekspresi serius mengonfirmasi kematiannya. Dari pengamatannya yang terlatih, ia menyimpulkan Ian tewas akibat suntikan zat mematikan yang bekerja sangat cepat. Pembunuhan kedua telah terjadi, tepat di depan mata mereka semua.

Akibat penemuan tato itu, Jason segera ditangkap sebagai tersangka utama pembunuhan Tony. Namun, klub tidak tinggal diam. Ron, Ibrahim, dan Joyce mendatangi kantor polisi, mengklaim diri sebagai tim hukum dan psikiatri Jason. Di bawah desakan ayahnya, Jason akhirnya mengungkapkan alibinya: pada saat pembunuhan Tony terjadi, ia sedang bersama Gemma, istri Ian Ventham. Sebuah foto di ponselnya menjadi bukti tak terbantahkan dari perselingkuhan mereka.

Di sisi lain, Bogdan, saat melanjutkan pekerjaannya di pemakaman, menemukan sesuatu yang mengerikan, kerangka manusia yang terkubur secara tidak wajar. Ia segera memberitahu Elizabeth. Penyelidikan polisi mengungkap identitas kerangka itu adalah Peter Mercer, pria dari kasus pembunuhan tahun 1973.

Elizabeth kini memusatkan perhatiannya pada misteri Bobby Tanner. Ia menyadari bahwa karangan bunga berisi ancaman yang pernah diterimanya memiliki kartu dengan desain yang sama persis dengan kartu pada karangan bunga duka untuk Tony dari “B.T.”. Ia melacak toko bunga “Thorny Blooms” dan bersama Donna, mengonfrontasi pemiliknya. Ternyata, pemiliknya adalah Bobby Tanner yang selama ini hidup dalam penyamaran. Elizabeth menemukan bukti bahwa Bobby dan Tony menjalankan sindikat penyelundupan pekerja ilegal. Dengan bukti tersebut, ia memeras Bobby untuk menyerahkan kepemilikan Coopers Chase, menyelamatkan rumah mereka.

Tabir kebenaran tentang kematian Tony Curran tersingkap dari sumber yang tak terduga. Bogdan, yang dihantui rasa bersalah, mengunjungi flat Elizabeth. Elizabeth sedang tidak ada, namun suaminya, Stephen, yang menderita demensia, ada di sana. Merasa aman dengan kondisi Stephen, Bogdan mencurahkan seluruh isi hatinya saat mereka bermain catur. Ia mengaku mendatangi Tony untuk meminta kembali paspornya agar bisa menjenguk ibunya untuk terakhir kali. Tony menolak dan menyerangnya. Dalam perkelahian yang terjadi, Bogdan secara tidak sengaja membunuh Tony. Seluruh pengakuan itu terekam oleh alat perekam kecil yang selalu digunakan Stephen saat bermain catur. Bogdan pun ditangkap.

Baca juga:  The Nun (2018)

Namun, pembunuh Ian Ventham masih menjadi misteri. Elizabeth kembali menelaah berkas kasus Angela Hughes milik Penny Gray, anggota klub mereka yang kini terbaring koma. Ia terpaku pada sebuah foto lama, menangkap tatapan Penny yang dingin dan penuh tekad saat memandang Peter Mercer. Saat itu juga, Elizabeth mengerti segalanya. Ia mendatangi John, suami Penny, di ruang perawatan. Ia menunjukkan foto itu dan mengungkapkan bahwa ia tahu ada jarum suntik tersembunyi di laci John.

Ekspresi John hancur. Terungkaplah kebenaran yang terkubur selama 50 tahun. Dulu, Penny, yang muak dengan ketidakadilan, telah membunuh Peter Mercer. John, yang mencintainya, membantunya mengubur mayat itu di area pemakaman. Ketika Ian berencana menggali tempat itu, John tahu rahasia kelam istrinya akan terbongkar. Untuk melindungi kehormatan Penny, John, seorang dokter hewan, menggunakan keahliannya untuk menyuntik Ian dengan dosis fentanyl yang mematikan di tengah kekacauan protes. Setelah pengakuannya, mereka memberinya waktu untuk mengucapkan selamat tinggal terakhir kepada Penny.

Dalam upacara pemakaman yang syahdu untuk John dan Penny, Ibrahim memberikan pidato yang menyentuh tentang cinta dan persahabatan. Coopers Chase kini aman setelah Joanna, putri Joyce, setuju untuk membeli dan mengelolanya. Dan Joyce, yang telah membuktikan kemampuannya, secara resmi diterima sebagai anggota tetap The Thursday Murder Club, mewarisi lencana milik Penny.

Film berakhir dengan serangkaian adegan yang hangat. Elizabeth berdansa dengan lembut bersama Stephen, Ron dan putranya Jason berbagi minuman dalam keakraban, dan Joyce tersenyum menatap foto-foto lamanya, siap untuk petualangan baru bersama teman-teman barunya.

 

Leave a Reply