Sinopsis Blades of the Guardians (2026)

73 votes, average 7.0 out of 10

Dao Ma, seorang pemburu bayaran, menerima tugas mengawal seorang pria menuju Kota Chang’an. Namun di tengah perjalanan, ia mengetahui bahwa orang yang dilindunginya adalah buronan paling dicari di seluruh kekaisaran. Kini, mereka harus menghadapi kejaran berbagai pihak yang mengincar hadiah besar atas kepalanya.

Berlatar pada akhir masa Dinasti Sui, ketika kekuasaan pusat mulai rapuh dan rakyat hidup di bawah tekanan. Kekaisaran masih berdiri, tetapi di banyak wilayah muncul pemberontakan, ketidakpuasan, dan perebutan kuasa. Di antara pemberontakan itu, ada satu nama yang paling dicari oleh kekaisaran: Zhishilang, pemimpin Pemberontakan Bunga. Ia dianggap sebagai ancaman besar karena gerakannya membawa harapan perubahan bagi rakyat dan bisa mengguncang kekuasaan Sui.

Di wilayah barat Jalur Sutra, situasinya lebih rumit. Di sana, istana bukan satu-satunya kekuatan. Ada klan-klan besar gurun, pasukan bayaran, pejabat perbatasan, pemburu hadiah, dan orang-orang Jianghu yang hidup dari kekacauan. Setiap pihak punya kepentingan sendiri. Ada yang mengejar kekuasaan, ada yang mengejar hadiah, dan ada yang berusaha bertahan hidup.

Di dunia seperti itu, hidup seorang pemburu hadiah bernama Dao Ma Xiao Qi. Ia bepergian bersama seorang anak kecil bernama Xiao Qi, yang juga dipanggil Alai. Dao Ma bukan pendekar yang tampil sebagai pembela keadilan. Ia hidup dari memburu orang-orang yang kepalanya dihargai uang. Sikapnya tenang, keras, dan sering terlihat tidak peduli pada urusan orang lain. Namun sejak awal terlihat bahwa ia sangat menjaga Xiao Qi.

Dao Ma dan Xiao Qi tiba di Kota Chisha. Di sebuah penginapan, Dao Ma mengincar buronan dari Geng Petir yang dijuluki Si Kepala Telur. Buronan itu bernilai 800 koin. Dao Ma memberi pilihan agar ia membayar lebih mahal jika ingin dibiarkan pergi, tetapi buronan itu memilih melawan. Pertarungan pecah di penginapan. Dao Ma mengalahkan lawan-lawannya dengan mudah, sementara Xiao Qi tampak sudah terbiasa melihat Dao Ma berurusan dengan orang-orang berbahaya.

Setelah itu, Dao Ma menunjukkan gambar buronan lain kepada pemilik penginapan. Ia sedang mencari target yang nilainya jauh lebih besar. Pemilik penginapan tidak mengenalinya, tetapi nilai hadiah pada gambar itu membuatnya berharap orang tersebut datang ke penginapannya.

Tidak lama kemudian, Kapten Lin datang bersama orang-orangnya. Pemilik penginapan ketakutan karena mengira Kapten Lin datang untuk menagih urusan pajak atau utang. Namun Kapten Lin sebenarnya datang untuk menemui Dao Ma. Ia menyampaikan undangan dari pihak penyimpan pedang. Dao Ma kemudian dibawa ke kediaman Lord Chang.

Di kediaman Lord Chang, Dao Ma diperlihatkan Pedang Penembus Zirah, pedang berharga yang pernah dianugerahkan oleh mendiang kaisar. Lord Chang ingin merekrut Dao Ma sebagai pelatih bagi 33 pemanah jitu miliknya. Para pemanah itu kuat dalam serangan jarak jauh, tetapi lemah jika musuh sudah mendekat. Lord Chang melihat kemampuan Dao Ma sebagai sesuatu yang bisa membuat pasukannya lebih sempurna.

Lord Chang juga mengetahui masa lalu Dao Ma sebagai mantan anggota Pengawal Kavaleri Pemberani Kiri, pasukan elite Kekaisaran Sui yang dulu sangat ditakuti. Ia menawarkan posisi baru kepada Dao Ma, bukan lagi sebagai pemburu hadiah, melainkan sebagai orang militer yang punya kedudukan. Namun Dao Ma menolak. Ia tidak mau kembali menjadi bagian dari sistem kekuasaan yang dulu pernah ia tinggalkan.

Setelah pertemuan itu, kekacauan kembali terjadi di penginapan. Kapten Lin datang untuk menyita penginapan karena pajak tertunggak. Pemilik penginapan memohon, tetapi tidak digubris. Orang-orang Kapten Lin mulai menangkap penghuni penginapan. Para pria hendak dikirim untuk kerja paksa membangun Tembok Besar, sementara perempuan akan dibawa ke barak.

Ketika keluarganya disakiti, pemilik penginapan akhirnya memperlihatkan kemampuan aslinya. Identitasnya terbongkar: ia adalah buronan besar bernama Ular-Berkepala-Dua. Ia melawan demi melindungi keluarganya. Lord Chang datang ke penginapan dan menyaksikan kekacauan itu. Anak pemilik penginapan memohon agar Dao Ma menyelamatkan ayahnya, tetapi Dao Ma tetap bertindak sebagai pemburu hadiah. Ia membunuh Ular-Berkepala-Dua karena kepala buronan itu masih bernilai uang.

Baca juga:  Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021)

Tidak lama setelah itu, terdengar kabar bahwa gubernur telah dibunuh. Dao Ma menjadi sasaran pengejaran. Ia membawa Xiao Qi kabur dari Kota Chisha. Pasukan pemanah mengejar mereka sambil melepaskan panah. Pelarian itu membawa Dao Ma dan Xiao Qi menembus gurun sampai akhirnya mencapai wilayah Desa Mojia, tempat tinggal Klan Mo.

Di Mojia, Dao Ma bertemu Kepala Suku Mo. Desa itu sempat menjadi tempat berlindung, tetapi situasinya tetap berbahaya. Hadiah untuk kepala Dao Ma kini mencapai 30.000 koin. Nilai itu cukup besar untuk membuat banyak pemburu hadiah memburunya. Kepala Suku Mo kemudian meminta Dao Ma menerima tugas besar: mengantar Zhishilang menuju Chang’an.

Dao Ma menolak pada awalnya. Chang’an adalah tempat berbahaya baginya. Namun Kepala Suku Mo menawarkan penghapusan utang lama dan emas sebagai bayaran. Ia juga menyinggung masa depan Xiao Qi. Pada akhirnya, Dao Ma menerima tugas itu. Ia membawa Zhishilang dalam perjalanan menuju Chang’an. Ayuya, putri Kepala Suku Mo, juga ikut karena ingin melihat Chang’an dan tidak ingin terus berada dalam batasan Mojia.

Perjalanan mereka langsung berbahaya. Mereka melewati pos kekaisaran dengan penyamaran. Identitas Zhishilang hampir terbongkar. Seorang kepala garnisun bernama Chen Shijiu ternyata merupakan pengikut Pemberontakan Bunga. Ia membantu Zhishilang dan menahan pasukan kekaisaran agar Dao Ma dan rombongan bisa kabur.

Sementara rombongan bergerak, kekuatan politik di wilayah barat mulai menyusun langkah. Pei Xingyan dan pamannya, Pei Shiju, menekan para pemimpin klan agar ikut memburu Zhishilang. Jika Zhishilang sampai ke Chang’an, rencana kekaisaran bisa terganggu. Di sisi lain, Heyi Xuan, pemimpin Klan Heyi, juga bergerak. Ia masih menginginkan Ayuya sebagai istrinya, meskipun pertunangan mereka telah dibatalkan oleh Kepala Suku Mo.

Heyi Xuan tidak hanya mengejar Zhishilang. Ia juga ingin merebut kembali Ayuya, menguasai gurun, dan menempatkan dirinya sebagai Khan. Untuk mencapai itu, ia bergerak bersama pasukan dan sekutu-sekutunya.

Di tengah perjalanan, Dao Ma dan rombongannya bertemu sebuah kereta. Di dalam kereta itu ada Yan Ziniang, seorang perempuan Jianghu yang sedang ditawan oleh Shu, pemburu hadiah berjuluk Hantu Berwajah Giok. Shu membawa Yan Ziniang sebagai buruannya sendiri. Sejak awal, Shu bukan bagian dari rombongan Dao Ma dan belum bisa dipercaya. Yan Ziniang sendiri tampak tajam, berani, dan mengenal dunia Jianghu. Ia juga mengenal reputasi Dao Ma.

Pertemuan itu membuat Yan Ziniang dan Shu ikut terseret dalam perjalanan. Namun posisi Shu tetap tidak aman. Ia seorang pemburu hadiah, dan keberadaan Zhishilang sebagai buronan nomor satu adalah kesempatan besar baginya.

Di Mojia, Kepala Suku Mo menyadari bahwa perang besar akan datang. Ia memerintahkan warga yang ingin pergi untuk pergi. Gerbang desa ditutup, hanya dibuka untuk keluar. Mereka yang memilih tetap tinggal harus siap menghadapi perlawanan terakhir. Bibi Yuchi dan Ani berada di pihak Mojia. Mereka punya hubungan utang nyawa kepada Kepala Suku Mo karena dulu Kepala Suku Mo menyelamatkan mereka.

Dalam perjalanan, Ayuya mulai mengetahui pengorbanan ayahnya. Kepala Suku Mo pernah berjalan tanpa alas kaki melintasi padang pasir demi membatalkan pertunangannya dengan Heyi Xuan. Ia melakukan itu agar Ayuya tidak harus menikah dengan orang yang tidak ia inginkan. Bagi Kepala Suku Mo, kebebasan Ayuya lebih penting daripada aliansi politik.

Rombongan kemudian sampai di Dataran Sapi Hitam. Di tempat itu, jalur yang mereka lewati terasa mencurigakan. Ada minyak dan tanda-tanda jebakan. Di sana terungkap bahwa Shu berniat berkhianat. Ia ingin memanfaatkan situasi untuk mendapatkan keuntungan dari Zhishilang. Namun rencananya gagal. Dao Ma mengalahkan Shu, tetapi tidak membunuhnya.

Keputusan Dao Ma membiarkan Shu hidup menjadi titik penting. Shu kalah, tetapi ia tidak dieksekusi. Setelah itu sikapnya mulai berubah. Ia tidak langsung menjadi orang suci, tetapi ia tidak lagi sekadar berdiri sebagai pemburu hadiah yang hanya mengejar untung. Ia mulai bergerak bersama rombongan dengan posisi yang berbeda.

Baca juga:  The Raid (2012)

Setelah melewati Dataran Sapi Hitam, rombongan belum aman. Mereka kemudian dihadang oleh Heyi Xuan bersama pasukannya. Heyi Xuan datang membawa sesuatu yang menghancurkan Ayuya: kepala Kepala Suku Mo. Kematian ayahnya diperlihatkan di hadapannya. Ayuya yang baru mengetahui pengorbanan ayahnya langsung dihantam kenyataan bahwa ayahnya telah dibunuh.

Heyi Xuan menggunakan kematian Kepala Suku Mo untuk menekan Ayuya. Ia menganggap kematian itu sebagai bagian dari jalan menuju masa depan Ayuya bersamanya. Namun bagi Ayuya, itu adalah penghinaan dan luka besar. Kesedihannya berubah menjadi amarah. Ia melihat Heyi Xuan bukan hanya sebagai pria yang memaksanya, tetapi juga sebagai pembunuh ayahnya dan penghancur Mojia.

Serangan Heyi Xuan membuat rombongan kacau. Dao Ma berusaha melindungi Xiao Qi dan yang lain. Dalam kekacauan berikutnya, rombongan masuk ke badai pasir dan terpisah. Di tengah badai itu muncul dua orang dari masa lalu Dao Ma: Di Ting dan Kui Zhi. Mereka adalah mantan saudara seperjuangan Dao Ma dari Pengawal Kavaleri Pemberani Kiri. Kehadiran mereka bukan untuk menolong. Mereka datang karena mengincar Xiao Qi.

Setelah badai mereda, Dao Ma berhasil menemukan Xiao Qi. Namun Ayuya dibawa kembali ke Mojia. Ani pergi lebih dulu untuk menyelamatkan Ayuya. Di Jalur Sisik Naga, Dao Ma menyadari bahwa ia harus kembali ke Mojia. Ia tidak bisa meninggalkan Ayuya di tangan Heyi Xuan.

Dao Ma tidak kembali tanpa siasat. Ia kembali ke Mojia bersama Shu yang memakai topeng dan menyamar sebagai Zhishilang. Dengan penyamaran itu, Dao Ma membuat Heyi Xuan percaya bahwa ia benar-benar membawa buronan nomor satu untuk ditukar dengan Ayuya. Rencana ini memanfaatkan nilai Zhishilang sebagai buronan paling penting bagi kekaisaran.

Di Mojia, Heyi Xuan telah menguasai desa. Orang-orang dipaksa tunduk. Ayuya ditawan. Heyi Xuan terus membenarkan tindakannya dengan alasan cinta, masa depan, dan ambisi menjadi penguasa gurun. Di tengah situasi itu, Ani datang untuk menyelamatkan Ayuya. Ia menyerang, tetapi akhirnya terluka parah. Menjelang kematiannya, Ani ingin memastikan bahwa Mojia masih ada. Ayuya menjawab bahwa Mojia masih ada selama dirinya masih hidup. Ani kemudian meninggal di pelukan Ayuya.

Dao Ma menjalankan siasatnya dengan membawa “Zhishilang” palsu. Heyi Xuan mengira ia sedang berhadapan dengan buronan nomor satu. Dao Ma memakai posisi itu untuk menekan Heyi Xuan agar melepaskan Ayuya. Situasi semakin tegang karena Zhishilang adalah buronan yang sangat penting bagi kekaisaran dan tidak bisa diperlakukan sembarangan begitu saja di depan banyak saksi.

Pada saat yang sama, Pei Xingyan mulai melihat bahwa rencana pamannya, Pei Shiju, penuh perhitungan politik yang mengorbankan orang-orang Mojia. Pei Shiju tidak menghentikan kekejaman Heyi Xuan selama hal itu menguntungkan rencananya. Pei Xingyan tidak sanggup membiarkan perempuan dan anak-anak dibantai. Ia melepas posisinya sebagai jenderal dan memilih berdiri melawan Heyi Xuan.

Pertempuran besar pecah di Mojia. Api menyala, pasukan bergerak, orang-orang Mojia bertahan, dan kekacauan menyebar. Heyi Xuan memerintahkan pembunuhan, tetapi ia sendiri mulai kehilangan kendali. Pasukan bayaran Tokharian dan pihak lain ternyata tidak sepenuhnya bergerak atas perintahnya. Heyi Xuan yang ingin menjadi Khan mulai terlihat sebagai orang yang juga dipakai dalam permainan politik yang lebih besar.

Di tengah perang itu, masa lalu Dao Ma dibuka. Di Ting menuntut Xiao Qi dan mengungkap bahwa Xiao Qi adalah anak dari saudari Dao Ma dan Putra Mahkota yang telah digulingkan. Karena darah bangsawan itu, Xiao Qi menjadi ancaman bagi kekuasaan kaisar. Dahulu, Pengawal Kavaleri Pemberani Kiri diperintahkan untuk menghabisi garis keturunan tersebut. Namun Dao Ma justru menyelamatkan Xiao Qi dan melarikan diri.

Akibat tindakan Dao Ma, Pengawal Kavaleri Pemberani Kiri dihukum mati. Di Ting dan Kui Zhi dibiarkan hidup untuk memburu Dao Ma dan membawa Xiao Qi kembali. Di Ting menyalahkan Dao Ma atas kematian saudara-saudara lama mereka. Ia ingin Dao Ma menyerahkan Xiao Qi agar kehormatan Kavaleri Kiri bisa dipulihkan.

Baca juga:  Venom: Let There Be Carnage (2021)

Dao Ma menolak. Baginya, Xiao Qi adalah keluarga yang harus ia lindungi. Ia tidak mau kembali menjadi alat kekuasaan. Ia sudah melihat bagaimana perintah istana dapat membuat orang membunuh orang tak bersalah atas nama kehormatan dan tugas.

Dalam pertempuran itu, Shu membunuh Kui Zhi. Tindakan ini menegaskan perubahan posisi Shu. Ia bukan lagi hanya pemburu hadiah yang pernah menawan Yan Ziniang dan mencoba berkhianat. Setelah dikalahkan dan dibiarkan hidup oleh Dao Ma, ia ikut membantu dalam konflik besar di Mojia.

Dao Ma kemudian berhadapan dengan Di Ting. Duel mereka bukan sekadar pertarungan dua musuh, tetapi pertarungan dua orang yang pernah menjadi saudara seperjuangan. Di Ting masih terikat pada masa lalu Kavaleri Kiri, sedangkan Dao Ma memilih melindungi Xiao Qi dan memutus dirinya dari perintah kekaisaran. Pertarungan berlangsung brutal di tengah Mojia yang terbakar. Pada akhirnya Di Ting terluka parah. Menjelang mati, ia memanggil Dao Ma sebagai saudara dan menyatakan bahwa mereka tidak perlu lagi saling mengejar.

Ayuya juga menghadapi Heyi Xuan. Heyi Xuan terus membawa kenangan lama tentang bulu yang pernah diberikan Ayuya kepadanya, tetapi bagi Ayuya, hubungan itu sudah berubah menjadi luka. Heyi Xuan telah membunuh ayahnya, menghancurkan Mojia, dan memaksa dirinya menjadi bagian dari ambisi kekuasaan. Ayuya melawannya dan akhirnya menjatuhkannya. Dengan itu, ia membalas kematian ayahnya, Ani, dan orang-orang Mojia.

Setelah pertempuran selesai, Mojia tinggal menyisakan reruntuhan dan duka. Xiao Qi berpamitan kepada orang-orang yang telah gugur. Dao Ma bersiap melanjutkan perjalanan menuju Chang’an bersama Xiao Qi. Zhishilang mengajak Ayuya bergabung dalam perjuangannya, tetapi Ayuya memilih jalannya sendiri. Ia ingin membangun kembali Mojia dan berdiri sebagai penerus gurun. Ia mengatakan bahwa ketika ia menjadi Ratu Gurun, ia akan meminta bantuan Zhishilang.

Yan Ziniang juga dibebaskan. Ia memilih ikut ke Chang’an karena memiliki seseorang yang ingin ia bunuh di sana, seseorang yang memiliki kekuasaan besar. Shu juga ikut bersama rombongan menuju Chang’an. Setelah semua yang terjadi, Shu tidak lagi hanya menjadi penawan Yan Ziniang atau pemburu hadiah oportunis. Ia telah melewati pengkhianatan, kekalahan, pengampunan, dan akhirnya memilih berjalan bersama Dao Ma.

Maka perjalanan menuju Chang’an berlanjut dengan Dao Ma, Xiao Qi, Zhishilang, Yan Ziniang, dan Shu. Di belakang mereka, Mojia tinggal menyisakan luka. Di depan mereka, Chang’an menunggu sebagai pusat kekuasaan yang masih menyimpan konflik besar.

Di bagian akhir, film memperlihatkan Pei Shiju masih menjalankan rencana politiknya. Ia berbicara kepada Pei Xingyan tentang pedang. Pedang yang masih berada dalam sarung tidak boleh dihunus sembarangan, tetapi jika sudah dihunus, pedang itu harus melihat darah. Pei Xingyan menyadari bahwa dirinya juga dipandang sebagai pion dalam permainan besar pamannya. Namun bagi Pei Shiju, semua orang memang pion dalam perubahan dunia.

 

Leave a Reply