Seorang wanita muda dari kota kecil pindah ke New York untuk mengejar impiannya menjadi penulis. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia bekerja sebagai asisten pemimpin redaksi majalah mode ternama yang dikenal sangat perfeksionis dan penuh tuntutan.
Andrea “Andy” Sachs adalah jurnalis muda lulusan Northwestern University yang baru memulai hidupnya di New York. Ia punya mimpi besar menjadi penulis atau reporter serius. Karena itu, dunia mode sama sekali tidak pernah masuk dalam daftar impiannya. Bagi Andy, industri fashion terasa dangkal, penuh pencitraan, dan jauh dari dunia jurnalistik yang ingin ia kejar.
Namun hidup membawanya ke tempat yang tidak ia duga. Andy diterima bekerja sebagai asisten pribadi junior Miranda Priestly, pemimpin redaksi majalah mode ternama, Runway. Pekerjaan itu disebut sebagai pekerjaan yang rela diperebutkan oleh jutaan perempuan muda. Tapi bagi Andy, posisi itu hanyalah batu loncatan. Ia berharap bisa bertahan sebentar, membangun koneksi, lalu pindah ke pekerjaan jurnalistik yang lebih sesuai dengan cita-citanya.
Masalahnya, bekerja untuk Miranda sama sekali bukan hal mudah.
Miranda adalah sosok yang dingin, anggun, menakutkan, dan hampir tidak pernah perlu meninggikan suara untuk membuat orang gemetar. Setiap perintahnya harus dipahami seketika. Setiap kesalahan kecil bisa terasa seperti bencana. Andy yang tidak tahu apa-apa tentang fashion pun langsung kewalahan. Ia sering salah langkah, salah bicara, dan dianggap tidak cocok berada di lingkungan Runway.
Rekan kerjanya juga tidak banyak membantu. Emily Charlton, asisten senior Miranda, memandang Andy seperti beban yang mengganggu ritme kerja mereka. Emily sangat perfeksionis, sinis, dan sudah lama mengincar perjalanan ke Paris bersama Miranda. Di kantor Runway, Andy merasa seperti orang asing yang masuk ke dunia yang tidak pernah benar-benar menerimanya.
Suatu malam, saat Andy sedang makan malam bersama ayahnya yang datang berkunjung ke New York, Miranda menelepon. Miranda sedang berada di Florida, tetapi semua bandara ditutup karena badai. Meski keadaan jelas mustahil, Miranda tetap menuntut Andy mencari cara agar ia bisa pulang malam itu juga.

Andy berusaha menghubungi semua maskapai dan mencari kemungkinan apa pun. Namun cuaca buruk membuat tidak ada penerbangan yang bisa berangkat. Saat Miranda akhirnya kembali ke kantor, ia tidak peduli pada usaha Andy. Dengan dingin, ia mengatakan bahwa Andy telah mengecewakannya lebih dari semua asisten sebelumnya.
Ucapan itu membuat Andy terpukul. Ia kemudian berbicara dengan Nigel, direktur seni Runway. Nigel tidak memanjakannya dengan simpati kosong. Sebaliknya, ia menyadarkan Andy bahwa dunia mode bukan sekadar pakaian mahal dan gaya hidup glamor. Di baliknya ada kerja keras, visi, seni, industri, dan pengaruh besar terhadap banyak orang. Nigel juga membuat Andy sadar bahwa selama ini ia hanya mengeluh tanpa benar-benar berusaha memahami pekerjaannya.
Sejak saat itu, Andy memutuskan berubah. Dengan bantuan Nigel, ia mulai belajar cara bekerja di Runway. Ia memahami ritme Miranda, menghafal kebutuhan-kebutuhannya, memperbaiki penampilan, dan mulai berpakaian lebih bergaya. Perlahan, Andy tidak lagi terlihat seperti orang yang tersesat. Ia mulai tampak seperti bagian dari dunia itu.
Namun perubahan itu datang dengan harga mahal.
Semakin baik Andy bekerja, semakin banyak kehidupan pribadinya yang ia korbankan. Ia makin sering membatalkan janji, terlambat bertemu teman, dan mengecewakan pacarnya. Tapi di kantor, Miranda mulai melihat potensinya.
Suatu hari, Miranda memberi Andy tugas penting: mengantar “The Book” ke rumahnya di Upper East Side. The Book adalah rancangan awal edisi majalah berikutnya, dokumen penting yang biasanya hanya ditangani oleh orang-orang kepercayaan Miranda. Andy merasa bangga, karena Emily pernah mengatakan bahwa Miranda tidak membiarkan sembarang orang masuk ke rumahnya.
Emily memberi instruksi jelas: Andy harus masuk, meletakkan The Book, lalu pergi. Ia harus bersikap seolah dirinya tidak terlihat.

Namun rencana sederhana itu berantakan ketika putri kembar Miranda menjebak Andy agar naik ke lantai atas. Tanpa sengaja, Andy memergoki Miranda sedang bertengkar dengan suaminya. Andy panik, malu, dan menjatuhkan The Book sebelum buru-buru pergi.
Keesokan harinya, Miranda menghukumnya dengan tugas yang hampir mustahil: mendapatkan naskah buku Harry Potter terbaru yang belum diterbitkan untuk dibaca anak-anaknya di kereta. Andy berusaha ke sana kemari, tetapi semua jalan terasa buntu. Ia hampir menyerah dan berniat berhenti.
Di saat itulah Christian Thompson, penulis terkenal yang pernah ia temui, datang membantu. Christian berhasil mendapatkan naskah itu untuknya. Andy mengirimkan salinannya kepada Miranda, dan untuk pertama kalinya, ia berhasil membuat Miranda benar-benar terkejut. Pekerjaannya terselamatkan.
Namun keberhasilan itu tidak membuat hidup Andy lebih mudah. Pacarnya semakin kecewa, karena Andy makin jauh dari dirinya yang dulu.
Ketika Emily jatuh sakit, Miranda memerintahkan Andy mendampinginya ke sebuah acara amal. Di acara itu, Andy dan Emily sebenarnya bukan tamu biasa. Mereka bertugas mengingatkan Miranda tentang nama, jabatan, dan informasi penting orang-orang yang datang menyapanya.
Di sana, Andy berhasil menyelamatkan Miranda dari rasa malu ketika Emily lupa nama salah satu tamu penting. Andy juga bertemu Jacqueline Follet, pemimpin redaksi French Runway sekaligus rival Miranda. Christian sempat menawarkan kesempatan untuk mempertemukannya dengan penerbit besar, tetapi Andy menolak. Ia memilih tetap menjalankan tugasnya.
Namun di saat yang sama, Andy melewatkan pesta ulang tahun pacarnya sendiri.
Perlahan, orang-orang terdekat Andy mulai merasa kehilangan dirinya. Teman-temannya melihat ia berubah. Pacarnya merasa hubungan mereka tidak lagi menjadi prioritas. Tapi Andy semakin terseret ke dalam dunia Runway, dunia yang dulu ia remehkan tetapi kini mulai menguasai hidupnya.
Suatu malam, saat Andy kembali mengantar The Book, Miranda memberi tahu bahwa ia membutuhkan tim terbaik untuk perjalanan ke Paris. Itu berarti Andy akan menggantikan Emily.
Andy terkejut. Ia tahu betapa besar arti Paris bagi Emily. Selama berbulan-bulan, Emily hidup hanya untuk kesempatan itu. Namun Miranda memberi pilihan yang sebenarnya bukan pilihan. Jika Andy menolak, itu berarti ia tidak berkomitmen pada pekerjaannya, dan masa depannya di dunia penerbitan bisa ikut rusak.
Dengan berat hati, Andy menerima.
Keesokan harinya, Miranda menyuruh Andy menyampaikan kabar itu kepada Emily. Di saat yang sama, Emily sedang terburu-buru kembali ke kantor setelah mengambil syal Hermes untuk Miranda. Saat Andy hendak bicara, Emily menyeberang sembarangan dan tertabrak taksi.

Hari itu menjadi salah satu hari terberat bagi Andy. Ia harus menghadapi Emily yang terluka dan hancur karena kehilangan kesempatan ke Paris. Setelah itu, di galeri seni temannya, Lily, Andy terlihat menerima ciuman di pipi dari Christian. Lily menegurnya, merasa Andy sudah semakin jauh dari dirinya sendiri.
Ketika Andy akhirnya memberi tahu pacarnya bahwa ia akan pergi ke Paris, hubungan mereka mencapai titik putus. Pacarnya menyadari bahwa mereka tidak lagi berjalan ke arah yang sama. Mereka pun berpisah.
Di Paris, Andy masuk semakin dalam ke dunia mode yang gemerlap. Ia menghadiri peragaan busana, bertemu orang-orang besar, dan bahkan diperkenalkan sebagai “Emily yang baru.” Dari luar, semuanya tampak seperti pencapaian besar. Namun semakin tinggi ia naik, semakin jelas pula harga yang harus ia bayar.
Suatu malam, Andy datang ke kamar suite Miranda dan menemukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan. Miranda, perempuan yang selama ini selalu tampak kuat dan tak tersentuh, berdiri dalam balutan bathrobe, rapuh, dan menangis.
Saat membahas susunan tempat duduk, Miranda mulai membuka diri. Ia mengatakan bahwa suaminya akan menceraikannya. Ia tahu media akan kembali menulis hal-hal kejam tentang dirinya, menyebutnya perempuan gila karier yang mengabaikan keluarga. Namun yang paling menyakiti Miranda bukan opini publik, melainkan anak-anaknya. Kedua putrinya kembali harus kehilangan sosok ayah dalam hidup mereka.
Untuk pertama kalinya, Andy melihat Miranda bukan sebagai monster kantor, melainkan manusia yang juga punya luka.
Tak lama kemudian, Nigel memberi tahu Andy kabar bahagia. Ia akhirnya mendapatkan pekerjaan impiannya sebagai direktur kreatif di perusahaan baru milik desainer James Holt. Andy ikut senang untuknya.
Malam itu, Andy makan malam dengan Christian. Christian tahu Andy sudah putus dengan pacarnya. Setelah beberapa gelas anggur dan percakapan yang semakin intim, Andy akhirnya luluh. Mereka tidur bersama.
Namun pagi berikutnya, Andy mendengar kabar mengejutkan dari Christian. Pemilik Runway berencana mengganti Miranda dengan Jacqueline Follet. Menurut mereka, Miranda sudah terlalu lama berkuasa, sementara Jacqueline dianggap bisa membawa angin segar bagi majalah itu.
Andy langsung panik dan pergi mencari Miranda untuk memperingatkannya. Namun ketika Andy akhirnya menyampaikan kabar itu, Miranda tampak tenang, seolah ia sudah mengetahui semuanya.
Dan ternyata memang begitu.
Dalam acara makan siang untuk James Holt, Miranda mengumumkan bahwa Jacqueline Follet akan menjadi direktur kreatif baru di perusahaan James Holt. Pengumuman itu mengejutkan Andy, terutama karena posisi itu seharusnya menjadi milik Nigel.
Di dalam mobil menuju acara berikutnya, Miranda menjelaskan semuanya. Ia sudah tahu sejak awal bahwa ada rencana untuk menyingkirkannya. Untuk menyelamatkan posisinya di Runway, ia memberi Jacqueline pekerjaan lain. Miranda juga memperlihatkan kepada pemilik Runway sebuah daftar berisi nama para desainer, stylist, model, dan tokoh industri yang selama ini ia bina. Orang-orang itu setia kepadanya. Jika Miranda pergi, mereka pun akan ikut pergi. Tanpa mereka, Runway akan kehilangan kekuatan besarnya.
Pemilik Runway akhirnya tidak punya pilihan selain mempertahankan Miranda.
Andy terpukul karena Nigel menjadi korban dari permainan kekuasaan itu. Ia berkata bahwa dirinya tidak akan pernah sanggup mengorbankan orang lain seperti yang Miranda lakukan kepada Nigel. Namun Miranda menjawab dengan tenang bahwa Andy sebenarnya sudah melakukannya, ketika ia mengambil tempat Emily untuk pergi ke Paris.
Kata-kata itu menghantam Andy.
Miranda mengatakan bahwa ia melihat banyak dirinya dalam diri Andy. Menurut Miranda, pilihan-pilihan sulit seperti itu memang perlu dilakukan jika seseorang ingin hidup di dunia yang mereka jalani. Namun bagi Andy, ucapan itu justru menjadi cermin yang menakutkan. Ia sadar bahwa ia sudah terlalu jauh berubah.
Saat mobil berhenti di depan acara, Andy turun. Ia tidak masuk. Ia hanya berjalan pergi. Ketika Miranda menelepon, Andy melihat ponselnya berdering, lalu melemparkannya ke air mancur di Place de la Concorde.
Dengan tindakan sederhana itu, Andy memilih keluar dari dunia Miranda.
Kembali ke New York, Andy bertemu mantan pacarnya untuk sarapan. Ia memberi tahu bahwa ia menerima pekerjaan sebagai sous-chef di restoran terkenal di Boston. Andy kecewa, tetapi harapannya belum sepenuhnya hilang ketika ia mengatakan bahwa mungkin mereka masih bisa mencari jalan untuk memperbaiki hubungan.
Andy kemudian mengikuti wawancara kerja di sebuah surat kabar. Pewawancara mengatakan bahwa ia sudah menghubungi Miranda sebagai referensi. Miranda menyebut Andy sebagai kekecewaan terbesarnya. Namun Miranda juga menambahkan bahwa jika surat kabar itu tidak mempekerjakan Andy, mereka adalah orang bodoh.
Setelah wawancara, Andy menelepon Emily sambil berjalan melewati kantor Runway. Ia menawarkan semua pakaian yang ia dapatkan selama di Paris. Emily pura-pura keberatan dan berkata pakaian itu pasti akan “menenggelamkannya”, tetapi pada akhirnya ia menerima dengan senang hati.
Tak lama kemudian, Andy melihat Miranda di seberang jalan, sedang masuk ke mobilnya. Mereka saling menatap. Andy tersenyum kecil. Miranda bersikap seolah mereka tidak saling mengenal, dan Andy menerimanya dengan lapang.
Namun setelah masuk ke mobil, Miranda diam-diam tersenyum tipis. Hanya sesaat. Setelah itu, ia kembali ke wajah dinginnya dan berkata kepada sopirnya, “Jalan.”






